Karya : Rusmin Toboali
Hujan yang turun sejak semalam masih belum reda sama sekali. Airnya jatuh ke bumi dengan tempo kadang deras, kadang tidak. Bahkan kadang kala hanya berupa derai gerimis, lalu deras lagi, disertai angin dan petir. Perempuan muda itu mendongak. Mengamati langit yang masih tetap berpayung mendung tebal. Wajah Perempuan muda yang biasa disapa dengan nama panggilan Mbak Muda terlihat agak pucat. Ibarat kembang yang lepas dari tangkainya.
Matahari sudah di atas kepala. Meskipun cuaca seperti masih pagi. Perut Mbak muda bernyanyi. Maklum hanya sepotong singkong dan air putih sehabis subuh yang mengganjal perutnya.
Dia merogoh tas kecilnya. Setelah dikeluarkannya, dia hanya melihat selembar uang sepuluh ribuan yang sudah agak lusuh.tergeletak ditelapak tangan kanannya. Semenjak habis subuh, hanya uang itu yang didapatnya. Sementara jualannya mash menumpuk dan menumpuk.
Terbersit keinginan untuk membeli sebungkus nasi di gerobak penjual yang ada di sampingnya. Tapi wajah anaknya di rumah terbayang dipelupuk mata tuanya. Anak semata wayangnya yang pagi itu pergi ke sekolah tanpa uang saku, perutnya hanya berisi singkong dan air putih.
Sungguh tak adil rasanya bila dia harus membeli makanan sementara anaknya yang sedang menuntut ilmu tanpa uang saku.
Mbak Muda menarik lidahnya yang sedari sebelumnya sudah tergoda dengan makanan yang dijual penjual yang berada disampingnya, menelan liurnya yang getir dan melewati tenggorokannya yang kering, hingga purna jadi rasa pahit. Dan tangannya dengan pelan dan lemas, kembali memasukkan uang sepuluh ribuan yang lusuh tadi ke dalam tasnya.
“Waduh! ,” ucap Mbak Muda panik.
Wajahnya seketika berubah tegang. Dia segera mengangkat jualannya. Lalu merapikan barang dagangannya, Hujan deras kembali menyirami bumi. Dingin menjarum kulit. Ibu Tua gemetar. Bibirnya terlihat memutih.
” Kenapa kamu masih di sini? Ayo cepat pergi!!” hardik salah sseorang petugas berseragam yang bertliskan KEAMANAN di dadanya.
“Sebentar Pak. Saya akan beres-beres dulu,” jelas Mbak Muda sambil membereskan dagangannya. Sementara dia mengabaikan punggungnya diderai hujan,
“Sebentar, Pak. Saya minta bantuan teman dulu,” pinta Mbak Muda dengan tangan menangkup.
“Cepat!!” Suara petugas keamanan kembali menghampiri kuping tua Mbak Muda dengan narasi membentak. Mendengar itu dengan dada renyuh. Jiwanya menangis.
“Rakyat kecil. Oh nasibmu,” dia membatin.
Bersamaan dengan itu, dirinya berlari menerobos hujan ke seberang jalan, membiarkan seluruh tubuhnya basah.
Mbak Muda memanggilnya nama seseorang ke segerombolan lelaki yang sedang ngopi di sebuah warung. Seorang lelaki paruh baya menoleh, kemudian bangkit setelah menghabiskan kopinya dengan seruputan yang agak lama.
Mbak Muda kembali ke tempat jualannya, dengan berlari-lari pelan membelah hujan. Lelaki yang dipanggilnya itu pun mengikutinya dari belakang sambil sembari membawa becak. Bibir tuanya masih ditancap sebatang rokok yang mengepulkan asap yang membelah hujan.
Usai mengisi barang dagangannya ke dalam becak, keduanya dengan segera meninggalkan tempat jualan Mbak Muda yang terletak di pintu masuk sebuah pertokoan pusat perbelanjaan besar yang ada di Kota mereka.
Setiap hari, ketika sudah berada diatas kepala, dia dan rekan-rekan lainnya sesama pedagang kaki lima, harus pindah dari lokasi depan pintu masuk. Padahal semua pedagang mengimpikan berada di situ seharian karena ramai dilewati orang-orang.
Setiap panas matahari sudah berada diatas kepala, mereka, para pedagang kaki lima itu diharuskan pindah berjualan di luar sebuah Pusat pembelajaan moderen. Dirinya rela membayar jasa kepada lelaki tua yang berprofesi sebagai peneraik becak itu setiap hari untuk bisa mengangkut dagangannya ke tempat itu. Meski penarik becak itu kerap kali usil dengan memegang pantat atau pipinya.
“Terima kasih ya Pak,” Mbak muda itu mengulur selembar uang.
“Aduh, kalau hari ini harus sepuluh ribu, Mbak. Aku kan harus kehujanan,” jawab lelaki itu dengan lirikan menggoda.
“Jaraknya kan dekat Pak,” ujar Mbak muda itu
“Pokoknya, jika tidak sepuluh ribu, aku minta ganti pipi saja,. hehehe.” ujar Pak Tua, penarik becak.
Mbak muda itu tak mau lelaki tua itu usil. Segera ia merogoh tasnya, mengeluarkan lembar uang satu-satunya yang ada dalam tas kecilnya. Sepuluh ribu. Dia memberikan uang itu kepada si lelaki dengan wajah yang muram.
“Terima kasih banyak ya!” lelaki itu menepuk-nepuk bahu perempuan muda itu. Perempuan muda itu menatap lekat lelaki itu yang sudah jauh ada di seberang, mengelap baju basahnya dengan telapak tangan. Perempuan muda kembali menangis, seperti derai hujan. Tangannya meremas tasnya yang kempes.
Perempuan muda itu kemudian menatap dagangannya. Wajahnya semendung langit, Matanya tampak menyipit.
Sebenarnya hati Perempuan muda itu sangat risau berjualan di tempat itu, Selain pembeli sedikit, ia juga sering digoda lelaki petugas KEAMANAN pusat perbelanjaan yang bernama Barong. Sudah beberapa kali Barong datang kepada perempuan muda itu, Barong juga sering usil kepada dirinya. Kadang ia menemani perempuan muda itu hingga pulang. Kadang berpura-pura baik dengan membantu memijat leher perempuan muda itu. Bahkan kadang membawakan makanan.
Jika dirinya menolak, lelaki bertubuh kekar itu mengancam. Perempuan muda itu tak bisa berbuat banyak. Hanya mengikuti alur yang dikehendaki lelaki itu, sambil melindungi diri. Sebab dirinya sadar dan amat sadar, sejak ditinggal mati suaminya, ia harus menjalani jalan takdir sebagai seorang janda muda yang masih menggoda lelaki nakal tanpa naluri kemanusian.
Ya, Perempuan muda sadar. Tiba-tiba dia teringat dengan anak semata wayangnya. (**)
Toboali, awal Desember 2021











