Cerpen :Lelaki di Bawah Pohon Ketapek

Angin semilir. Hembusan sepoinya menenteramkan jiwa. Lambaian dedaunan bahagiakan jiwa-jiwa. Keraksaan pohon-pohon yang berderet rapi hamparkan ketenangan. Dan lelaki itu terus melangkah susuri deretan pepohonan. Kadang berhenti sementara sembari menyapa para pekerja yang asyik menanam. “Selamat pagi,ibu-ibu. Apa kabarnya hari ini,” sapanya.

Hempasan sinar mentari yang bercahaya garang, tak susutkan langkah lelaki itu untuk terus berjalan dan melangkah di rindangnya pepohonan. Kecemasan raga tak dipedulikannya. Keringat mengucur deras bak aliran sungai yang mengapit hutan. Lelaki itu terus berjalan sembari melihat perkembangan benih yang mulai ditebarkannya di areal hutan.

Read More

Ini adalah bulan ke enam bagi lelaki itu beradaptasi dengan hutan raya dan raksasanya pepohonan yang menghuninya. Dan kebahagian makin menghampiri wajahnya saat berada di dekat pohon ketapek yang merupakan pohon asli daerah hutan ini. Walaupun langkah, pohon itu menjadi magnet baginya untuk betah berada dalam lingkungan hutan ini.

“Sepuluh tahun mendatang pohon-pohon Ketapek ini akan menjadi simbol hutan ini bersama dengan pohon melanger,” harapnya dengan jiwa yang optimis.

Lelaki itu tak menyangka, keasrian hutan dan raksasanya pohon-pohon di rimba ini menjadi sahabat karibnya kini baik siang maupun malam. Baik dikala lara dan maupun bahagia. Kesinambungan alam dan berlanjutan hutan menjadi daya tarik bagi lelaki itu untuk hidup bersama pepohonan yang rindang. Meninggalkan kesibukannya di kota. Meninggalkan gedung-gedung pencakar langit Kota yang kadang tak memanusiawikan diri dan para penghuninya yang terbius kekuasaan dunia.

Isi hutan mengajarkannya banyak pelajaran tentang hidup yang terasa sangat istimewa. Pepohonan mengajarkannya untuk bersikap jujur pada nurani. Alam rimba mengajarkannya untuk saling berbagi dan memberi manfaat. Pohon Ketapek dan Melanger mengajarkannya untuk hidup saling berdampingan tanpa harus melemah salah satunya. Berdampingan justru menguatkan akar-akar kehidupan pepohonan hingga mareka meraksasa secara bersamaan. Sesuatu yang jarang didapatnya saat masih hidup di Kota yang angker rasa kemanusiaannya disusupi rasa keegoisan diri.

Sore itu, lelaki itu bersandar di rindangnya pohon Ketapek yang bersebelahan dengan pohon melanger yang menjadi sumber hutani hutan ini. Keteduhan dua raksasa pepohonan ini menjadi tempatnya bersantai dikala waktu senggangnya melihat-lihat perkembangan pepohonan yang mulai dibenihnya. Dan lelaki itu yakin dan menyakini dalam sepuluh tahun ke depan alam rimba berserta penghuninya akan menjadi trending topik dunia.

“Insya Allah, 10 tahun ke depan para ilmuwan dunia akan menoleh hutan ini. Mereka akan menjadikan hutan ini sebagai ruang riset bagi mereka,” desisnya penuh optimis.

Mengelola hutan bagi lelaki ini laksana diberi sebuah amanah yang maha tinggi dari Sang pencipta. Tak heran seluruh kemampuannya sebagai orang yang paham dunia kehutanan yang didapatnya dari luarnegeri membuatnya mengerahkan seluruh kemampuannya untuk menjaga hutan raya beserta isinya.

Namun kadangkala di tengah kesucian hati dan niatnya untuk menjaga amanah ini, riak-riak kecil kadang kala menghampirinya. Tuduhan tanpa fakta sering dialamatkan kepada dirinya. Apalagi di daerah yang terkenal dengan hasil tambang, Berita tentang dirinya mengaksikan penambangan di areal rimba yang subur itu tak terelakkan. Menghantam raganya. Melukai jiwanya.

“Saya ini bukan penambang. Saya tak punya basis ilmu pertambangan. Dan saya juga bukan pebisnis,” kilahnya.

Langkah lelaki itu terus susuri hutan dan pepohonannya. Belahan sungai kecil yang membela jalanan kecil membuatnya seakan mendapat tenaga baru dalam melangkah. Kerikil-kerikil kecil yang bertebaran di jalan seolah menjadikan langkahnya kian meraksasa untuk melestarikan hutan sebagaimana makin membesarnya benih-benih yang mulai ditebarkannya di areal hutan.

Mentari mulai menenggelamkan diri seiring terbangunnya rembulan dari mimpi panjangnya. Rutinitasnya sebagai pemberi cahaya bagi para penghuni dunia mulai menggeliat. Sinarnya hadir diantara pepohonan rindang di hutan. Dan lelaki itu sungguh bahagia saat melihat malam ditengah raksasanya pepohonan yang rindang ditingkahi derit dedaunan pohon yang melambai diterjang kesepoian angin malam yang sejuk.

Dan lelaki itu amat menyakini bahwa sepuluh tahun ke depan, hutan dan pepohonan Ketapek dan Melanger yang meraksasa akan melejitkan nama daerah ini dan mengejutkan dunia.
“Mareka akan menoleh ke sini,” desisnya sembari menatap pepohonan raksasa.

Malam makin menua. Sinar rembulan pun makin meninggi. Tinggalkan penghuni bumi yang mulai bermimpi. Bermimpi tentang kekuasaan. Bermimpi tentang harta dan tahta. Dan mareka belum bermimpi tentang keasrian alam yang menjadi mimpi lelaki yang bahagia dibawah rindangnya pohon ketapek yang menghuni hutan itu.

Toboali, September 2021

Karya: Rusmin Toboali

Pengurim: Rusmin Toboali

Yuk bagikan berita ini...

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.