Karya : Rusmin Toboali
Kopiah tua itu masih tergantung di ruang tamu rumah kami. Ya, kopiah milik ayah masih menjadi ornamen. Dan di ruang tamu itulah ayah selalu menggantungkan kopiahnya yang sudah berumur, sepulang dari sholat berjemaah di masjid. Kopiah jadul itu identik dengan ayah. Dan orang sekampung sangat tahu dengan kopiah itu.
“Kopiah itu Ayah pakai saat ayah menikah dengan Ibumu,” cerita Ayah kepada kami, anak-anaknya pada suatu waktu.
Kini setelah ayah wafat, kopiah tua itu selalu terlihat saat kami anak-anaknya berkunjung ke rumah Ayah. Demikian pula dengan tamu-tamu dan kawan ayah yang datang ke rumah Ayah, pasti akan melihat kopiah jadul itu.
“Kopiah itu mengingatkan aku dengan ayahmu,” ujar kawan ayah kalau berkunjung ke rumah.
“Benar sekali. Itu ciri khas ayahmu kalau sholat atau datang ke acara kondangan di Kampung,” sela kawan ayah yang lain.
“Kami tahu kalau dalam sholat berjemaah di mesjid ada ayahmu. Ya..dari kopiahnya,” jelas kawan ayah yang lain.
Aku cuma terdiam.
Setahuku, semenjak kami masih kanak-kanak hingga dewasa, kopiah resam tua itu selalu melekat di kepala ayah tatkala beliau sholat ke mesjid dekat rumah. Tak pernah berganti, walaupun warnanya sudah sangat kusam sekali. Padahal beberapa kali adik mengirimkan kopiah baru untuk ayah.
Namun ayah tak pernah lepas memakainya.
“Kopiah ini sangat cocok buat ayah.Jadi buat apa pakai yang baru,” ujar ayah beralasan.
Dan alasan itu selalu dipakai ayah setiap kali kami memintanya untuk memakai kopiah yang baru.
Menurut cerita Ibu, saat beliau masih sehat, kopiah itu sangat berharga bagi ayah. Karena selain dipakai waktu beliau menikah dengan Ibu, kopiah itu adalah pemberian dari Bapak ibu saat beliau mau menikah dengan Ibu.
“Kakekmu yang memberikan kopiah itu untuk ayahmu,” jelas Ibu.
“Oh, jadi itu alasan ayah enggan memakai kopiah pemberian kami,” tanya ku kepada Ibu.
“Iya. Bagi ayahmu pemberian kakekmu itu sangat bernilai. Maka ayahmu selalu memakainya,” jelas Ibu.
Kami cuma terdiam mendengar penjelasan Ibu.
Menurut Ibu, ayah pernah tidak sholat berjemaah ke masjid karena tidak menemukan kopiahnya. Saat itu aliran listrik mati. Ayah kelimpungan mencari kopiahnya. Padahal suara adzan sudah terdengar dari corong pengeras suara Masjid.
Masih menurut cerita Ibu, kopiah resam itu dibuat oleh Kakek. Kopiah resam adalah salah satu kerajinan tangan khas Bangka dari tanaman resam. Resam merupakan salah satu jenis tumbuhan paku yang cukup mudah tumbuh di hutan dan semak-semak perkampungan. Resam mengandung zat tanduk, anti rayap dan tahan terhadap udara lembab.
Pembuatan kopiah dengan mengambil serat kasar dan halus dari batang resam dengan cara diserut. Serat resam direndam dalam air selama tiga hari, kemudian dikeringkan.
Proses pengayaman serat menjadi kopiah membutuhkan waktu satu minggu hingga tiga bulan, tergantung halus dan kasarnya kopiah.
Proses pewarnaan atau penyamakan kopiah dengan dicelup ke dalam air kayu samak. Air kayu samak dihasilkan lewat kayu samak yang dipukul, kemudian dimasak dengan air hingga matang.
“Jadi itu sejarahnya, sehingga ayah sangat mencintai kopiah resam itu,” tanya kami, anak-anaknya
“Iya. Ayahmu sangat menghargai karya tangan kakekmu. Apalagi kopiah resam itu ciri khas kopiah daerah ini. Ayahmu sangat bangga dengan kopiah resam produk daerah kita,” jawab Ibu.
Sudah hampir 10 tahun ayah wafat, meninggalkan kami, anak-anaknya. Kopiah resam itu masih tergantung di ruang tamu rumah ayah. Kopiah jadul itu masih menjadi penghias rumah ayah. Menjadi ornamen rumah. Sekaligus mengingatkan kami bahwa kopiah resam tua itu sangat bernilai bagi ayah hingga ajal menjemputnya.
Alfatihah untuk ayah… (**)











