Cerpen: Cik Jar

Kamis, 15 Juli 2021

LOLA kesal bukan main. Bagaimana tidak, tetangganya yang bernama Cik Jar itu mulutnya begitu usil.

Padahal Cik Jar umurnya melebihi emak Lola, tapi sepertinya ia memang tak ingat umur.

Read More

Saban hari selalu membicarakan dan menuduh Lola macam-macam. Lola yang baru saja menjadi janda di usia yang masih sangat muda itu menjadi sasaran empuk mulut usilnya Cik Jar.

Lebih kesalnya lagi, Cik Jar selalu mencari-cari informasi terupdate tentang Lola untuk kemudian disebarkannya kepada para pelanggan warungnya.

Tentunya dengan disertai bumbu-bumbu penyedap hasil racikan mulut usilnya itu.

Di setiap ceritanya Cik Jar selalu memposisikan Lola lah yang salah sehingga diceraikan suaminya.

Padahal belum tentu benar. Ia mana tahu dengan kehidupan kasur, dapur, dan sumur Lola dan mantan suaminya dulu.

Cukup Lola dan suaminya saja yang tahu. Biarlah jadi rahasia mereka. Begitu memang seharusnya.

Namun, lagi-lagi betapa bebalnya Cik Jar. Seolah-olah lupa ia juga seorang perempuan, seorang ibu dan seorang manusia.

Beruntungnya Lola bukan seorang perempuan yang lemah, tidak seperti tipe perempuan dengan jargon “ku menangis….”

Lola berbeda. Lola kuat dan mampu bangkit.

Lola bahkan mampu mencari uang sendiri dengan cara berjualan online shop yang terdiri dari aneka makanan, kosmetik, dan pakaian serta barang lainnya.

Ia bahkan tak merepotkan orang tuanya yang memang perekonomiannya tak pernah stabil sejak sedari dulu.

Lola pandai memanfaatkan keadaan dan kesempatan. Meski di tengah pandemi, ia mampu bangkit dan perlahan-lahan mengumpulkan pelanggannya.

Lola memanfaatkan gadget-nya untuk mempromosikan dagangannya. Lola cukup di rumah saja, membuat makanan yang dipesan pelanggannya atau mem-packing beberapa barang.

Kemudian anak buahnya yang bernama Utri dan Eya akan mengantarkannya laksana driver GoFood dan Grabfood.

Dua orang drivernya itu sengaja dipekerjakan untuk membantu perekonomian keluarga masing-masing.

Hari berganti hari. Tahun terus berubah. Waktu bergulir begitu cepat. Begitulah semesta menunjukkan kuasanya.
Pada hari yang baik di waktu yang tepat, Lola bertemu kembali dengan laki-laki yang baik dan tepat untuknya.

Tepat pula di saat kedewasaan dalam berpikir dan bertindak telah terjejak dalam diri seorang Lola.

Sebaliknya, jauh di pucuk ranjang, seorang perempuan paruh baya merasa begitu kesal dan tak berdaya.

Bagaimana tidak, kedua putranya yang hampir berusia kepala empat itu tak kunjung menikah, punya pacar pun tidak.

Kedua putra kesayangannya itu masih ingin bermain dan memuaskan jiwa kekanak-kanakannya terlebih dahulu sebelum kelak akan menseriusi anak gadis orang.

Makin kecewalah perempuan paruh baya itu. Ia merasa gagal menjadi seorang ibu, sedang ia tak punya lagi tempat untuk berkeluh kesah ataupun bergantian menasehati kedua putranya itu.
Sebab, suaminya telah lama meninggal. Ahh, rupa-rupanya perempuan paruh baya itu adalah Cik Jar. (**)

Pengirim: Dian Chandra (Hardianti)

Bionarasi:
Dian Chandra adalah nama pena dari Hardianti. Selain berstatus sebagai seorang istri dan ibu dari 2 anak plus 1, ia juga seorang arkeolog yang bermukim di Toboali, Bangka Selatan. Beberapa karya tulisnya berupa cerpen pernah dimuat di beberapa media cetak dan online, seperti di Bangka Pos, Rakyat Pos, Babel Pos dan Sumselupdate.com. Saat ini ia sedang merampungkan novel perdananya yang bertajuk “kehidupan perempuan” yang terinspirasi dari beberapa naskah sastra kuno, prasasti dan relief yang dipelajarinya selama di bangku kuliah. Ia dapat dihubungi di [email protected]

Bantu Kami untuk Berkembang

Mari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!


Related posts