Jakarta, Sumselupdate.com – Melewati masa batita dan balita, orangtua harus mampu mengajarkan anaknya untuk segera membiasakan diri untuk tidur di kamarnya sendiri. Upaya ini haruslah dilakukan sejak dini. Tujuannya, adalah untuk membentuk rasa kemandirian dalam diri anak.
Namun tentu saja hal tersebut tidaklah mudah dilakukan. Perlu kesabaran orang tua untuk mewujudkannya. Orangtua bisa secara perlahan untuk memulainya sesuai tahap-tahap usia si anak.
Psikolog Anak, Rini Hildayani, mengutarakan membentuk kebiasaan itu haruslah bertahap. Terlebih di usia-usia yang masih membutuhkan adaptasi seperti usia 0-2 tahun.
“Di usia 0-8 bulan anak cenderung belum mengenal orang lain selain orang tuanya. Sedangkan usia 8 bulan-2 tahun anak sudah mulai mengenal orang lain, tetapi masih mengalami kondisi kelekatan. Artinya, Ia akan menangis jika ditinggal oleh ibunya, dan akan berhenti menangis setelah didiamkan oleh sang ibu,” tutur Rini yang juga merupakan Dosen Fakultas Psikologi Universitas Indonesia sebagaimana dikutip dari laman rumah.com.
Usia dua tahun adalah usia yang tepat bagi anak untuk dibiasakan tidur di kamarnya sendiri. Ini karena anak sudah mulai bisa meramalkan keberadaan figur penting, dalam hal ini adalah orang tuanya.
Namun Rini mengingatkan, usia tersebut barulah sebatas tahap perkenalan, tidak langsung memaksakannya untuk tidur sendiri. Apabila anak sudah memasuki usia prasekolah, yakni usia 3-4 tahun, Anda bisa perlahan mulai ‘memaksanya’ untuk tidur di kamarnya sendiri.
“Meski di usia-usia tersebut, anak kerap menangis ketika bangun tidur atau mimpi buruk, orang tua harus berani melatih, karena tidur sendiri adalah tanda kemandirian di usia prasekolah,” kata Rini.
Anak yang menolak tidur sendiri adalah hal yang wajar karena pada usia tersebut imajinasi sang anak berkembang pesat. Karena itu, tidak heran jika ketakutan akan gelap, petir, bahkan hantu masih menjadi alasan kuat mengapa mereka enggan tidur sendiri.
Untuk membantu membiasakan anak tidur sendiri sejak dini, Mariza Gunawan, Art Director Studio Dezign, memberikan tips untuk membuat desain kamar anak agar jauh dari kesan sepi dan menakutkan.
Desain kamar anak perlu memiliki connecting door dengan kamar orang tua, atau setidaknya jarak antara pintu kamar anak dengan pintu kamar orang tua berdekatan.
Selain itu harus memiliki visualisasi yang menarik, seperti pemilihan tematik warna yang memacu kreativitas dan karakter anak. Sebisa mungkin posisi ranjang tidur dapat melihat keseluruhan ruangan sehingga terasa aman.
Mariza juga menuturkan bahwa unsur terpenting dalam penyajian desain kamar tidur anak agar menarik harus diperhatikan dalam hal memilih tematik dan warna.
Pemilihan warna pada kamar tidur juga dinilai penting. Bagaimanapun warna bisa menanamkan karakter pada diri sang anak. Misalnya pemilihan warna lembut seperti pink, biru, krem yang biasanya lebih cocok untuk anak perempuan. Sedangkan warna enerjik seperti abu-abu, cokelat, dan merah untuk anak laki-laki.
Untuk tren 2016 ini, Mariza mengatakan bahwa sama seperti tahun 2015, tren kamar anak Simple Classic masih menjadi tren. Konsep ini biasanya banyak dipilih untuk anak-anak di bawah umur 10 tahun.
Menyinggung anggaran pembuatan ataupun renovasi kamar anak, Mariza mengatakan besar kecilnya anggaran ditentukan oleh konsep. Jadi siapa pun bisa membuat desain kamar anak yang tidak menyeramkan. (adm3/lip6)











