Palembang, Sumselupdate.com – Berdasarkan perhitungan batas pendapatan, Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatera Selatan (Sumsel) mencatat persentase penduduk miskin naik sebesar 0,8 persen.
Kepala BPS Sumsel Moh Wahyu Yulianto mengatakan, kenaikan nilai kemiskinan tersebut tercatat meningkat dibandingkan dengan September 2024, berdasarkan data per satu semester yang dihimpun hingga Maret 2025.
“Garis kemiskinan pada Maret 2025 mengalami peningkatan terutama di wilayah perkotaan,” katanya, Kamis (31/7/2025).
Secara statistik dan nilai pendapatan, kategori miskin yakni, jika dalam satu rumah tangga hanya memiliki pemasukan sekitar Rp2,83juta per bulan dan nilai itu untuk menanggung serta mencukupi kebutuhan 4 jiwa dalam satu Kartu Keluarga (KK).
“Rata-rata satu rumah tangga miskin di Sumsel terdiri dari 4,88 anggota. Dengan komposisi itu (Rp2,83 juta), per jiwa mendapatkan 581.702 per kapita per bulan,” katanya.
Baca juga : Angka Kemiskinan dan Pengangguran Masih Tinggi, Pemkot Palembang Targetkan 2025 Ada Penurunan
Wahyu menjelaskan, secara keseluruhan, persentase penduduk miskin di Sumsel pada Maret 2025 mencapai 10,15 persen dari total populasi. Jumlah tersebut setara dengan 919.600 jiwa atau menurun 29.200 orang dibandingkan data enam bulan sebelumnya.
“Menurun kalau rasio data menyeluruh. Tetapi jika berdasarkan wilayah perkotaan mengalami peningkatan. Untuk penurunan ini setara dengan 0,36 persen poin dibandingkan September 2024,” jelasnya.Meski secara keseluruhan data kemiskinan di Sumsel melandai, sebaran penduduk miskin harus disoroti pemerintah daerah. Sebab, angka kemiskinan termasuk dalam skala dan indikator suatu wilayah, apakah daerah tersebut layak ditetapkan sebagai status ekonomi maju atau rendah.
Baca juga : Entaskan Kemiskinan, Pemkot Palembang Buka Pelatihan Kewirausahaan
“Sebaran penduduk miskin berdasarkan wilayah menunjukkan bahwa di wilayah perkotaan mengalami kenaikan, sementara di pedesaan justru terjadi penurunan signifikan. Jika pendapatan per kapita di bawah angka itu (Rp2,83 juta) maka penduduk dikategorikan sebagai miskin,” katanya.
Nilai kemiskinan lanjut wahyu, ditetapkan dari berbagai sisi. Termasuk sisi konsumsi, sejumlah komoditas utama tercatat memberi pengaruh signifikan terhadap tingkat kemiskinan, yakni beras, rokok kretek filter, daging ayam ras, telur ayam ras, dan mie instan. Perubahan harga atau keterjangkauan komoditas tersebut dapat berdampak langsung pada daya beli masyarakat miskin. (Iya)











