Bermodal 1 Mesin Fotokopi, Kini Usaha Noer Fikri-Amanah Miliki Mesin Cetak Senilai 5 Miliar

Minggu, 14 Juni 2020
Pardusi, Owner Penerbitan/Percetakan Noer Fikri - Amanah

Palembang, sumselupdate.com– Kejujuran dan kegigihan sangat berpengaruh dalam kesuksesan sebuah usaha. Ini setidaknya tergambar pada usaha Penerbitan Noer Fikri dan Percetakan Amanah, milik Pardusi Amri.

Saat sumselupdate.com berkesempatan mengunjungi tempat usaha Noer Fikri – Amanah yang berlokasi di Jln Mayor Mahidin 142 Palembang, Kamis (11/6/2020), terlihat beberapa karyawan sedang sibuk mengerjakan order percetakan. Selain itu, di gedung tiga lantai itu terlihat juga tumpukan bahan baku dan alat kerja. Termasuk delapan unit mesin cetak cukup “canggih” yang dioperasikan secara komputerisasi.

Read More

“Waktu pertama buka usaha mandiri tahun 2005 lalu, saya hanya bermodal 1 unit mesin fotokopi seharga 15 juta dan itu pun dipinjami rekanan bisnis. Saya dulu mimpi punya mesin fotokopi dan percetakan yang lebih baik. Alhamdulillah kini telah punya 8 unit mesin cetak dengan nilai sekitar 5 miliar,” ujar Pardusi sembari menunjukkan alat kerjanya itu.

Lokasi Usaha

 

Menurut alumni Fakultas Tarbiyah IAIN (UIN) Raden Fatah tahun 2001 ini, kini usahanya memiliki mesin cetak hitam putih dengan harga paling murah 480 juta dan yang  paling bagus 650 juta. Sedangkan untuk mesin cetak berwarna ada yang seharga 650 juta bahkan 1 miliar.

“Meski di Palembang, kualitas mesin cetak kita cukup bagus bahkan menyamai dengan yang digunakan penerbitan besar seperti Erlangga, Rajawali, atau Gramedia”, tegas mantan Ketua Unit Koperasi Mahasiswa UIN RAden Fatah ini.

Tak heran, kualitas hasil cetakan itu pun berbanding lurus dengan luasnya jangkauan pemasarannya selama ini.

“Di Palembang hampir semua perguruan tinggi bekerjasama dengan kita. Begitu juga dengan beberapa sekolah dan dinas pemerintah kabupaten/kota di Sumsel. Kerjasama juga mengembang ke Provinsi Babel, Jambi, Bengkulu dan sebagian Lampung”, urai Pardusi.

Ditambahkan mantan manager Koperasi Pegawai Negeri UIN Raden Fatah 2001-2005 ini, kemajuan usahanya berkat strategi pemasaran yang memegang teguh komitmen “Melayani dengan Hati”.

“Kita komitmen produk tidak hanya murah tetapi berkualitas. Ada slogan, buku yang dicetak di sini lebih murah ketimbang difotokopi sehingga orang pasti akan memilih yang asli. Juga ada jaminan mutu jika buku yang diterbitkan atau dicetak rusak sebelum 6 bulan atau proses belajar mengajar selesai, maka akan diganti free.  Alhamdulillah sejauh ini belum ada yang komplain”, paparnya.

Sebaran pasar yang luas tersebut, ditambahkan Pardusi, juga tidak lepas dari eksistensi UIN Raden Fatah sebagai pusat informasi dan tempat dia lama berusaha.

“Dari situ usaha ini terus terpromosi dari mulut ke mulut”, imbuh pria yang sejak kuliah semester 5 dulu sudah terlatih usaha mandiri karena faktor ekonomi keluarga.

Ketika mengenang perjalanan usahanya, pria yang begitu selesai kuliah berencana pulang kampung ke Musi Banyuasin dan mau ikut tes CPNS ini, pun teringat kepada mantan petinggi kampusnya. Mereka dianggap berjasa karena telah memotivasi dan memberinya peluang untuk menggeluti dunia bisnis.

“Terutama kepada mantan Rektor IAIN Raden Fatah Prof. Jalaludin yang setelah menilai saya cukup berhasil saat memimpin unit Koperasi Mahasiswa lantas menyarankan saya untuk meniti usaha saja. Juga para pembantu rektor saat itu, yang turut memberi kesempatan kepada saya untuk mengurus Koperasi Pegawai Negeri IAIN yang sudah vakum 4 tahun saat itu”, kenangnya.

Menurutnya, dia mampu menjalankan amanah itu dengan baik. Koperasi yang saat itu hanya bermodal nol rupiah itu mampu dikembangkan. Asetnya menjadi sekitar 600 juta dan ada beberapa kerjasama yang mampu dijalinnya, termasuk dengan Indofood.

Pardusi mengakui, semua pengalaman itu sangat berpengaruh dalam kesuksesan bisnisnya sekarang. Bahkan ada pelajaran berharga yang bisa ditularkan kepada generasi muda yang ingin sukses berkecimpung di dunia bisnis.

“Pertama, kunci untuk bisa diterima oleh siapa pun harus jujur. Katakan apa adanya jika memang ada kerusakan barang. Kedua, satu rupiah pun jika punya hutang jangan diabaikan karena itu akan jadi catatan buruk terutama di hadapan rekanan bisnis. Soal profesionalitas dan keahlian memang penting tapi itu bisa diasah seiring waktu”, jelas pemilik usaha dengan 20 karyawan ini.

Pardusi tidak menampik ada penurunan omset di tengah pandemi Covid-19 saat ini. Saat kondisi normal omset usahanya bisa mencapai 500 juta per bulan. Ketika Covid-19, omsetnya ikut menurun hingga 15 persen.

Lantas bagaimana terkait dengan tren dunia digital dewasa ini, akankah berpengaruh terhadap masa depan usahanya?

“Tergerus, ya. Tapi hanya sekitar 10 persen. Keunggulan kita ada pada pengguna jasa cetak yang 80 persen dunia pendidikan dan 10 persen lainnya perusahaan. Mereka tetap membutuhkan percetakan fisik. Karena bagaimanapun fisik lebih membekas ketimbang hanya dunia maya”, sahutnya.

Meski begitu, pihaknya tetap mengantisipasi perubahan zaman yang serba ke arah digital ini.

“Kita tetap berbenah, seperti saat ini sedang mengupayakan rumah jurnal untuk yang online dan website. Itu wujud adaptasi kita mengantisipasi perkembangan zaman”, pungkasnya. (shn)

Bantu Kami untuk Berkembang

Mari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!


Related posts