PALI, Sumselupdate.com – Peristiwa bocornya pipa minyak mentah milik PT Medco E&P yang diklaim perusahaan akibat disabotase oknum tak bertanggung jawab, sudah satu bulan lebih.
Namun sisa bekas ceceran minyak mentah yang sudah dimasukkan ke puluhan kantong plastik belum juga diangkut pihak perusahaan.
Pasalnya, pemilik lahan di Desa Pengabuan, Kecamatan Abab, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI) belum mengizinkan bekas ceceran untuk diangkut karena belum ada kesepakatan ganti rugi.
Alasan pemilik kebun menahan sisa minyak mentah untuk diangkut, karena bekas semburan minyak mentah milik perusahaan tersebut mengenai ratusan batang pohon karet yang mengakibatkan banyak pohon karet miliknya kering dan mati dan meminta pihak Medco untuk memberikan kompensasi.
“Kami tidak tahu pipa itu digesek orang atau korosi, namun kami minta kebijakan pihak perusahaan karena kami banyak menanggung kerugian, di mana pohon karet kami yang baru berumur tiga tahun banyak yang mati,” ungkap Acis (50), pemilik lahan yang terkena dampak langsung semburan minyak mentah milik PT Medco, Minggu (24/9/2017).
Diakuinya bahwa sampai saat ini belum ada titik terang dari pihak perusahaan akan kompensasi yang bakal diberikan kepada dirinya.
“Alasan mereka bahwa kalau disabotase atau digergaji orang tidak ada ganti rugi padahal kejadian itu terjadi sejak tanggal 20 bulan Agustus lalu. Kami juga pertanyakan bahwa darimana kami tahu kepastian bahwa pipa itu pecah akibat digesek orang, sementara pernyataan itu hanya sepihak. Dan kami juga ragukan kejadian tersebut sebagai sabotase,karena letak pipa berada di dalam tanah,” terangnya.
Acis juga mengatakan bahwa dirinya sudah menyurati pihak dinas lingkungan hidup Kabupaten PALI untuk meminta bantuan atasi permasalahannya.
“Dinas LH sudah survei ke lokasi, tapi sampai saat ini belum juga ada kepastian, dan kami dengar pihak perusahaan sudah dipanggil, tapi perusahaan itu tidak datang ketika di panggil dinas LH. Kami berharap pihak perusahaan bertanggungjawab dan segera menyelesaikan permasalahan ini, karena kami dan warga lainnya takut beraktivitas di kebun, sebab sewaktu-waktu bisa saja kebakaran, mengingat saat ini sedang musim kemarau, karena di lokasi masih banyak berserakan minyak mentah yang dibungkus plastik,” harapnya.
Sementara itu, Mukhlis Nabil, Kepala Dinas LH Kabupaten PALI mengaku, segera berkoordinasi dengan pihak Medco.
“Pihak Medco sudah menghadap kami, dan mereka mengakui bahwa pembersihan sudah dilakukan. Namun untuk mengangkut sisa sampahnya, mereka (pihak Medco –red) dihadang warga, karena warga pemilik kebun minta kompensasi. Untuk atasi masalah ini, kami segera berkoordinasi dengan pihak perusahaan dan pemilik kebun,” tukas Mukhlis.
Terpisah, Rivian Pragitta Oktara, Lead of Government Relation PT Medco E&P Indonesia menegaskan bahwa pihak perusahaan tidak akan ada kompensasi terkait permasalahan tersebut, sebab bocornya pipa transfer minyak mentah tersebut akibat disengaja oleh orang yang tidak bertanggungjawab.
“Pertanggungjawaban kami sudah kami lakukan yakni pembersihan di lokasi kejadian, tapi untuk mengangkut sisa ceceran yang sudah kami masukkan ke dalam kantong plastik itu tidak diperbolehkan pemilik lahan, dan pernyataannya sudah dibuatkan berita acara bahwa warga pemilik lahan tidak bersedia bekas ceceran minyak diangkut,” tandasnya. (adj)











