Pagaralam, Sumselupdate.com – Kopi Pagaralam tak hanya dikenal karena cita rasa dan aromanya, tetapi juga menjadi sumber harapan baru bagi peningkatan kesejahteraan petani. Perspektif tersebut diperkenalkan Dinas Pertanian Kota Pagaralam saat menerima kunjungan ratusan mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Palembang.
Dalam kunjungan edukatif itu, mahasiswa diajak melihat langsung potensi besar sektor perkebunan kopi Pagaralam, khususnya kopi robusta yang telah mengantongi sertifikat Indikasi Geografis (IG). Selain itu, mereka juga diperkenalkan dengan varietas kopi baru yang tengah dikembangkan, yakni kopi Raden Kuning yang ditanam di wilayah Kecamatan Dempo Utara.
Kepala Dinas Pertanian Kota Pagaralam, Dra Suterimawati, MM melalui Kepala Bidang Perkebunan, Anjas Hariansyah, menjelaskan bahwa kopi Raden Kuning merupakan varietas yang sangat cocok dengan kondisi geografis Pagaralam.
“Untuk kopi Raden Kuning, syarat utamanya harus ditanam di ketinggian sekitar 1.000 meter di atas permukaan laut. Kondisi iklim dan tanah Pagaralam sangat mendukung pengembangannya,” ujar Anjas.
Ia menambahkan, dalam pengelolaan kebun kopi, petani Pagaralam memadukan kearifan lokal dengan teknologi modern. Meski sebagian masih menggunakan cara tradisional, banyak petani yang sudah memanfaatkan mesin modern, terutama pada kebun dengan skala besar.
“Perpaduan cara tradisional dan teknologi inilah yang menjadi kekuatan petani kopi Pagaralam,” katanya.
Menurut Anjas, kualitas kopi Pagaralam telah mendapatkan pengakuan nasional. Kota Pagaralam menjadi salah satu daerah penyuplai kopi berkualitas yang telah memiliki sertifikat Indikasi Geografis.
“Ini menjadi bukti bahwa kopi Pagaralam memiliki karakter rasa dan mutu yang diakui secara nasional,” ujarnya.
Selain itu, peningkatan produksi juga didorong melalui inovasi teknik sambung pucuk atau stek dengan menggunakan klon kopi robusta unggulan. Metode ini terbukti mampu meningkatkan hasil panen secara signifikan.
“Dulu satu batang kopi hanya menghasilkan setengah hingga satu kilogram. Sekarang dengan sambung pucuk, hasilnya bisa mencapai tiga kilogram bahkan lebih per batang,” ungkap Anjas.
Manfaat inovasi tersebut dirasakan langsung oleh petani. Perwakilan Kelompok Tani Kibuk Rosi mengakui adanya peningkatan hasil panen yang berdampak langsung pada kesejahteraan keluarga petani.
“Sekarang kami sudah terbiasa melihat buah kopi yang lebat. Hasil panen meningkat, pendapatan ikut naik, sehingga ekonomi keluarga petani jauh lebih baik dibanding sebelumnya,” ujarnya.
Kegiatan ini juga mendapat apresiasi dari kalangan akademisi. Ketua Program Studi Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Palembang, Dr Rahmad Kurniawan, S.P., M.Si, menilai kunjungan lapangan tersebut sangat penting bagi mahasiswa.
“Mahasiswa bisa melihat dan merasakan langsung kopi berkualitas terbaik dari petani Pagaralam. Ini pengalaman nyata yang tidak diperoleh hanya dari ruang kelas,” katanya.
Melalui kunjungan ini, Dinas Pertanian Kota Pagaralam berharap mahasiswa mendapatkan gambaran utuh tentang pengelolaan perkebunan kopi dari hulu hingga hilir, sekaligus menumbuhkan minat generasi muda untuk menjaga dan mengembangkan kopi lokal Pagaralam agar tetap berdaya saing di masa depan.
(**)











