Pagaralam, Sumselupdate.com – Sorotan Komisi VII DPR RI terhadap persoalan sampah di destinasi wisata nasional menjadi pengingat penting bagi seluruh daerah, termasuk Kota Pagaralam.
Di lereng Gunung Dempo, kesadaran tersebut telah lama diterjemahkan dalam aksi nyata melalui Gerakan Wisata Bersih, sebuah ikhtiar kolektif Desa Wisata Gunung Dempo untuk menjaga alam tetap asri sekaligus menghadirkan pengalaman wisata yang berkualitas.
Isu penanganan sampah di kawasan wisata kembali mengemuka setelah Anggota Komisi VII DPR RI, Samuel JD Wattimena, menegaskan bahwa pengelolaan kebersihan destinasi wisata hingga kini belum berjalan optimal dan membutuhkan langkah yang lebih serius serta berkelanjutan.
“Isu sampah ini tidak bisa ditangani secara simbolik. Membersihkan sesaat itu baik, tetapi yang lebih penting adalah sistem dan pengawasannya,” ujar Samuel saat ditemui di Gedung DPR RI, Selasa (4/2/2026).
Ia menekankan bahwa persoalan kebersihan bukan semata menjadi tanggung jawab Kementerian Pariwisata, melainkan memerlukan keterlibatan lintas kementerian, pemerintah daerah, hingga masyarakat.
Meski demikian, Kementerian Pariwisata tetap memiliki peran strategis dalam memastikan program kebersihan dijalankan secara konsisten di lapangan.
“Jangan menunggu viral atau dikritik dulu baru bergerak. Yang dibutuhkan adalah pemantauan rutin, evaluasi, dan tindak lanjut yang jelas,” tegas legislator Fraksi PDI Perjuangan tersebut.
Sorotan tersebut sejalan dengan semangat yang terus dibangun di Kawasan Wisata Gunung Dempo. Ketua Desa Wisata Gunung Dempo Kota Pagaralam, Wawan Alamsyah SH, menegaskan bahwa kebersihan merupakan fondasi utama dalam menjaga keberlanjutan pariwisata.
“Kami menanamkan kesadaran bahwa sampah bukan hanya persoalan teknis, tetapi tanggung jawab moral bersama antara pengelola, masyarakat, serta dukungan BUMN dan Pemerintah Kota Pagaralam,” ujarnya kepada Sumselupdate.com, Kamis (5/2/2026).
Wawan menjelaskan, program unggulan Kementerian Pariwisata, Gerakan Wisata Bersih, yang digelar pada 15 November 2025 lalu dijadikan rujukan bagi kelembagaan Desa Wisata Gunung Dempo.
Program tersebut tidak berhenti pada kegiatan seremonial, melainkan diterjemahkan dalam langkah-langkah konkret, mulai dari edukasi pengunjung, penyediaan fasilitas tempat sampah sementara, kegiatan penyapuan kawasan, hingga kolaborasi hijau melalui pembentukan bank sampah.
“Dengan segala keterbatasan, kami berupaya tetap konsisten menjaga kawasan wisata Gunung Dempo agar bersih, sejuk, aman, dan ramah,” katanya.
Ia meyakini bahwa kawasan wisata yang bersih akan melahirkan pengalaman wisata yang berkualitas, sekaligus menjaga kelestarian alam serta nilai sosial budaya masyarakat setempat.
“Karena sejatinya, wisata yang baik adalah wisata yang meninggalkan kenangan, bukan meninggalkan sampah,” tuturnya.
Melalui Gerakan Wisata Bersih, Desa Wisata Gunung Dempo mengajak seluruh pihak untuk bergerak bersama menjaga alam hari ini demi keberlanjutan pariwisata di masa depan.
Upaya yang dimulai dari kaki Gunung Dempo ini diharapkan menjadi bagian dari gerakan besar dalam mewujudkan pariwisata nasional yang tertata, nyaman, dan berkelanjutan.
(**)











