Begini Keseharian Siswa Peraih Nilai Tertinggi Ujian Nasional di PALI

Rabu, 5 Juli 2017
Iqbal Zahid Abdullah Haris

PALI, Sumselupdate.com – Umumnya anak-anak zaman sekarang yang terbiasa dan akrab dengan teknologi serta biasanya lebih banyak menghabiskan hari-harinya bermain gadget. Tapi berbeda dengan sosok yang satu ini. Ia tidak terlalu terpengaruh dengan gadget.

Iqbal Zahid Abdullah Haris, bocah berusia 13 tahun ini tetap menunjukkan prestasi cemerlang. Di Kabupaten PALI, anak yang kerap disapa Abang ini mendapat nilai tertinggi dalam Ujian Nasional (UN) tingkat Sekolah Dasar se-Kabupaten PALI.

Read More

Ternyata, dibalik kesuksesannya di bidang akademik, ia setiap hari justru lebih senang bermain sepeda dan menyantap berita-berita di koran. Hampir seluruh koran dibacanya setiap hari. Saking hoby membaca koran, ia tidak segan mengkritik isi berita yang dibaca.

“Hampir seluruh koran beritanya sama. Kecuali kalau ada peristiwa besar, data setiap koran justru berbeda-beda. Di situ kadang aneh, isi koran tidak bisa dipercaya sepenuhnya” ujarnya.

Hampir setiap ada berita hangat, ia selalu mengikuti. “Misal berita siswa disambar petir tempo hari, ada koran menulis berangkat menggunakan sepeda motor, ada lagi yang menulis berangkat menggunakan mobil. Tiap koran berbeda-beda” kritiknya.

Sangat wajar bila bocah kelahiran 3 Desember 2004 ini mengeluarkan kritik. Setiap sore, ia selalu menunggu ayahnya untuk membaca seluruh koran yang dibawa dari kantor.

Ayahnya yang jurnalis dan bekerja sebagai staf humas setiap hari selalu membawa pulang setiap media yang terbit hari itu. Dasar hobinya membaca, seluruh koran yang berisi berita politik pun ia santap.

“Dulu waktu Abi aktif di koran, saya baca tulisan Abi terlebih dahulu. Tapi sekarang Abi sudah jarang menulis berita, jadi saya baca berita olahraga terlebih dahulu,” celotehnya.

Maka tak mengherankan bila kebijakan pemerintah pun ia soroti. Seperti saat perubahan kurikulum yang ia alami beberapa waktu lalu.

“Seharusnya presiden itu kalau ganti kurikulum jangan di tengah tahun. Awal tahun pakai kurikulum 2013 pas semester ganti 2007. Kan kasihan guru jadi bingung mengajar. Guru saja bingung apalagi kami,” tutur anak yang bercita-cita jadi insinyur ini.

Kegemarannya membaca bukan hanya sebatas koran, setiap hari bocah ini selalu membawa dua buku dari perpustakaan sekolahnya. Bila teman sekelasnya menghabiskan waktu istirahat dengan bermain di halaman sekolah atau jajan di kantin, ia justru sebaliknya. Saat lonceng istirahat dibunyikan ia justru menuju perpustakaan.

Watak hobi membaca inilah akhirnya membuahkan hasil nyata. Penggemar kartun Naruto dan Upin Ipin ini berhasil meraih nilai tertinggi pada Ujian Nasional Sekolah Dasar se-Kabupaten PALI. Dengan nilai total 269, ia berada di peringkat pertama raihan nilai UN.

Bahkan nilai Matematika nya mencapai 95, artinya hanya dua soal yang dijawab salah dan sisanya benar semua. Keunggulan nilai matematika ini tidak lah mengherankan, penggemar Sriwijaya FC ini pernah mewakili Kabupaten PALI dalam Olimpiade Sain Nasional Bidang Matematika 2015 lalu.

Raihan nilai tertinggi se-kabupaten saat OSN tingkat kecamatan membawanya dipercaya mengharumkan nama Kabupaten PALI. Alasan olimpiade ini juga yang membuat Iqbal menjatuhkan pilihan untuk melanjutkan pendidikan ke SMP IT Raudhatul Ulum.

Ia masih ingin meneruskan keinginannya untuk kembali mengikuti ajang olimpiade matematika. “Untuk SMP, Abi menyarankan masuk pesantren atau sekolah Islam. Makanya pilih SMP IT-RU, saya pernah baca beritanya tahun kemarin sekolah itu juara OSN Matematika tingkat kabupaten” ujarnya memberi alasan.

Atas prestasinya ini, bukan berarti Iqbal tidak mempunyai waktu bermain. Setiap hari ia selalu mengayuh sepeda kesayangannya dan bermain bersama teman-teman dilingkungan tempat ia tinggal. Bahkan waktu shalat pun ia selalu berada di masjid. Saat sore ia tidak pernah meninggalkan momen mengaji di musholla dekat rumahnya.

“Kami tidak pernah mengekang anak. Kami beri kebebasan dalam menentukan pilihan tapi tetap dalam pengawasan kami. Termasuk dalam urusan memilih sekolah” ujar Indra Setia Haris, orangtua nya.

“Akun Facebook nya pun kami kuasai. Jadi kami tahu apa saja yang dibacanya dan ditontonnya. Sebisa mungkin kami dampingi. Sebisa mungkin, kita berdiskusi tentang apa yang dibaca dan dilihatnya. Agar anak tahu mana yang pantas dan tidak pantas untuk seumuran mereka dan mendapat informasi yang seimbang” tambah Indra.

“Untuk tontonan yang berbau kekerasan dan pornografi kami berikan penjelasan dampak bagi dirinya kalau menonton hal seperti itu tidak bagi perkembangan jiwanya. Dampaknya seperti apa. Dan Alhamdulillah, kalau ada adegan tidak pantas di televisi ia sendiri langsung memindahkan channel” tambah Indra. (adj)

Bantu Kami untuk Berkembang

Mari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!


Related posts