Bekasi, Sumselupdate.com – Sejumlah petugas dari Pusat Laboratoruim Forensik (Puslabfor) Polri membawa sebuah koper berwarna gelap, sebuah tas sandang, serta sebuah paper bag berwarna coklat saat keluar dari kos-kosan tempat ditemukannya bom panci di Jalan Bintara Jaya, Bekasi, Jawa Barat, Sabtu (10/12/2016).
Petugas keluar sekitar pukul 21.50. Namun, tidak ada petugas yang mau memberikan pernyataan. “Sudah-sudah, besok jam 09.00 datang lagi,” ujar petugas tersebut seperti dikutip Kompas.com.
Sekitar pukul 22.00, sebagian petugas kepolisian telah meninggalkan lokasi. Sejumlah polisi lainnya tampak masih berjaga di dalam lingkungan kos-kosan.
Sedangkan pintu masuk kos-kosan ditutup dengan sebuah mobil patroli polisi. Sementara pintu pagar kos-kosan dipasang police line.
Adapun mobil pemadam kebakaran dan mobil tim Gegana juga telah meninggalkan lokasi.
Pukul 22.33, tampak warga masih memenuhi lokasi ditemukannya bom. Petugas kepolisian hanya mengatur kendaraan warga yang berlalu lalang di depan gedung tersebut.
Polisi mengamankan tiga terduga teroris dari jaringan Bahrun Naim. Sekitar pukul 15.40 tim Densus melakukan penangkapan terhadap NS dan AS di bawah flyover Kalimalang.
Kemudian, tim Densus pun menangkap DYN di kosannya dan ditemukan bom yang tersimpan di dalam tas ransel warna hitam. Polisi menemukan bom jenis TATP berbentuk rice cooker memiliki berat 3 kilogram. Bom ini memiliki daya ledak.
Sementara itu, Nasri (58), pengelola kos saat dihubungi detikcom mengatakan, DYN atau Dian Yulia Novi pertama kali datang tiga hari lalu bersama seseorang yang mengaku suaminya.
“Pertama datang ke sini bersama orang yang ngakunya suaminya,” kata Nasri.
Suaminya itu kemudian pulang ke daerah Jawa Tengah setelah mengantarkan dian ke kos yang dikelola Nasri. Namun Nasri tak tahu dari mana persisnya Dian dan suaminya berasal.
“Suaminya balik ke Jawa. Saya enggak tahu juga ke Jawa mana,” ujarnya.
“Suaminya hitam, kekar, jenggotan. Lagi pakai baju kaos pas ketemu,” kata Nasri.
Dia menangkap kesan, Dian adalah perempuan yang biasa-biasa saja saat pertama kali bertemu dengannya, yakni tiga hari yang lalu. Interaksi juga terjalin, namun belum intesif karena Dian masih baru datang.
“Enggak ada yang mencurigakan,” kata dia. (hyd)











