Sekayu, Sumselupdate.com – Masyarakat Transmigrasi SP 3 Nganti Jud Kecamatan Sanga Desa seakan tidak percaya diri dengan masa depannya. Pasalnya apa yang mereka tanam saat ini menjadi sia-sia, karena banjir musiman yang melanda lahan garapan mereka telah menghilangkan segala bentuk tanaman yang mereka tanam. Bahkan sawit pun sudah beberapa kali ditanam mereka tanam, namun gagal terus akibat posisi lahan garapan mereka lebih rendah daripada permukaan air.
“Kalau untuk tanam sayur-mayur lokasi di sini sangat cocok, tanahnya subur, tetapi kalau sawit percuma akan lenyap karena mati oleh banjir,’’ jelas Sukir seakan menyuarakan masalah warga lainnya saat Sumselupdate.com, berkunjung Kamis, (24/11/2016) di lokasi banjir.

Warga lain pun menceritakan bahwa banjir tahun kemarin mencapai tiga meter. Akibatnya saat ini hanya ada dua sampai tiga kepala keluarga yang bertahan, lebihnya sudah mengungsi.
Berdasarkan pantauan di lapangan, rumah-rumah warga transmigran tersebut sudah mulai dikosongkan karena debit air saat ini telah mencapai dua meter. Bahkan terlihat beberapa rumah yang di bangun tahun 2013 sebanyak 110 unit tersebut, sudah ada sebagian rumah hanyut dibawa arus air. Dari 110 unit tersebut mungkin hanya sebagian yang terisi, selebihnya di tinggalkan oleh pemiliknya.
“Sebenarnya, sewaktu penempatan trans dulu, kami sempat menolak untuk lokasi SP 3. Perusahaan saja tidak sanggup untuk garap lahan tersebut, tetapi tetap dipaksakan,’’ ungkap Sumadi.
Sumadi yang kini menetap di SP 1 ini menjelaskan bahwa dahulunya dia diajak survei untuk lokasi, dan menolak untuk lokasi SP 3 tetapi tetap dipaksakan, ia juga mengatakan telah tiga kali melakukan tanam sawit di lokasi SP 3, namun semuanya tidak menghasilkan apa-apa, banjir melanda sawitpun mati. Jalan satu-satunya yang terbaik yakni adalah relokasi.
Bukan hanya itu, fasilitas sekolah, ibadah, dan lainnya sangat terganggu. Di lokasi banjir, nampak bagaikan lautan dan rumah warga bagaikan rumah terapung. Saat banjir lokasi ini hanya bisa di jangkau melalui perahu/ sampan dan perahu ketek (mesin).
Kalau sedang tidak banjir, sebenarnya lokasi ini dapat di jangkau dengan kendaraan roda dua, namun karena banjir dapat di jangkau dengan perahu mesin dan jalan kaki, yang jaraknya mencapai lebih kurang 12 Km. (est)











