Jakarta, Sumselupdate.com – Regenerasi dinilai sebagai persoalan mendesak dalam pertumbuhan seni pertunjukan saat ini. Pertumbuhan seni pertunjukan tak bisa dipungkiri bergantung pada generasi muda. Penilaian tersebut disampaikan Hestu Wreda, Dosen Teater Institut Kesenian Jakarta.
Wreda melihat selama dua tahun terakhir, sebetulnya seni pertunjukan tidak bisa dikatakan menurun, tapi tidak juga lebih meriah. Kondisi seni pertunjukan lebih tepat dikatakan stagnan atau jalan di tempat.
“Sayangnya, generasi muda yang menjadi penerus berikutnya juga kurang tertarik menekuni bidang seni budaya, sehingga sumber dayanya tak berkembang,” ungkap Wreda, seperti dilansir dari CNNIndonesia, Minggu (23/10)..
Lebih lanjut, Hestu menilai masih rendahnya regenerasi juga disebabkan oleh pendidikan seni yang belum merata.
“Mungkin yang di daerah tidak ada wadah pendidikannya, yang membuat mereka punya regenerasi, sehingga yang aktif hanya seniman tua saja,” ungkapnya.
Penilaian Hestu ini berdasarkan temuannya saat berkunjung ke Kalimantan beberapa waktu lalu. Di sana, Hestu mendapati para pelaku seni rata-rata sudah berusia lanjut atau hampir tak ada anak mudanya.
“Waktu saya telusuri, anak muda di sana kurang tertarik dengan pertunjukan seni tradisi, malah banyak yang lebih memilih pengaruh kesenian dari Barat,” kisahnya.
Kondisi tersebut tentu saja menggelisahkan. Untuk itu, Hestu menilai penting adanya pendidikan seni di daerah sehingga rasa berkesenian dari generasi muda akan tumbuh dengan baik.
Pendidikan seni ini, lanjutnya, tidak hanya wajib di kampus seni. Akan tetapi, juga mesti merata termasuk di perguruan tinggi umum, dengan harapan dapat meningkatkan apresiasi seni di kalangan generasi di masa yang akan datang. (lia)











