Indralaya, Sumselupdate.com – Upaya mendorong kemandirian ekonomi masyarakat perdesaan sekaligus menjaga kelestarian lingkungan dilakukan tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Universitas Sriwijaya (Unsri) melalui pendampingan terhadap pengrajin kain jumputan di Desa Ulak Bedil, Kabupaten Ogan Ilir.
Program PkM yang diketuai Dwi Darma Puspita Sari, S.E., M.Si. tersebut mengangkat tema ‘Peningkatan Kualitas Produksi melalui Diversifikasi Teknik Finishing dan Pewarnaan Alami pada UMKM Desa Ulak Bedil Kabupaten Ogan Ilir’.
Kegiatan ini diarahkan untuk meningkatkan kualitas produk kain jumputan sekaligus memperkenalkan penggunaan pewarna alami sebagai bagian dari pengembangan produk tekstil yang lebih ramah lingkungan atau eco-fashion.
Desa Ulak Bedil selama ini memiliki potensi produksi kain jumputan yang menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat setempat.
Namun, pengembangan usaha para pengrajin, khususnya kelompok mitra Studio Songket Warna Alam, masih menghadapi sejumlah kendala dalam proses produksi.

Melalui program tersebut, tim pengabdian Unsri mendorong masyarakat, khususnya kaum perempuan di Desa Ulak Bedil, untuk mengembangkan keterampilan membuat kain jumputan menggunakan bahan pewarna alami.
Selain relatif mudah diperoleh dari sumber daya alam, penggunaan pewarna alami juga menjadi alternatif dalam menghasilkan produk dengan karakter warna yang khas.
Dalam pelaksanaannya, tim pengabdian menggunakan metode Participatory Rural Appraisal (PRA) dengan melibatkan 15 orang ibu-ibu pengrajin secara aktif.
Tim juga menghadirkan narasumber dari Galeri Songket Warna Alam untuk memberikan pelatihan secara langsung mengenai teknik pengolahan dan penggunaan bahan pewarna alami.
Para peserta diperkenalkan dengan sejumlah bahan alam, di antaranya indigo, getah gambir, jelawe, dan kayu secang. Bahan-bahan tersebut diolah untuk menghasilkan warna pada kain dengan karakter yang beragam.
Selain teknik pewarnaan, peserta juga mendapatkan pelatihan mengenai penggunaan bahan pengikat warna atau fiksator, seperti tawas, tunjung, dan kapur tohor.
Tahapan tersebut menjadi bagian penting dalam proses pewarnaan agar warna dapat melekat lebih baik pada serat kain.
Program pengabdian dilaksanakan melalui empat tahapan kunjungan.
Tahap pertama berupa sosialisasi dan penyamaan persepsi. Selanjutnya, peserta diperkenalkan dengan spesifikasi bahan baku serta praktik pembuatan pola pada kain.
Pada kunjungan ketiga, peserta mempraktikkan teknik menjumput atau mengikat kain menggunakan tali rafia sebelum dilakukan proses pencelupan ke dalam larutan pewarna alami.
Peserta juga diperkenalkan dengan teknik ‘ketus’, yakni mendiamkan kain setelah proses pewarnaan untuk memberikan waktu terjadinya oksidasi alami sebelum kain dijemur.
Tahap terakhir berupa proses finishing, meliputi pengeringan kain, pembukaan ikatan rafia, hingga evaluasi terhadap hasil akhir produk.
Tim PkM Unsri menyebut hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan pemahaman peserta mengenai penerapan teknik pewarnaan alami pada kain jumputan.
Melalui kegiatan tersebut, para pengrajin diharapkan tidak hanya mampu meningkatkan keterampilan produksi, tetapi juga dapat mengembangkan produk kain jumputan dengan nilai tambah dan karakter yang lebih beragam.
Program ini sekaligus menjadi bentuk kolaborasi lintas disiplin ilmu di lingkungan Universitas Sriwijaya dalam implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi.
Selain Dwi Darma Puspita Sari sebagai ketua PkM, kegiatan tersebut didukung Dr. Sukanto, S.E., M.Si., Dr. Marlin Safrila, S.P., M.Si., Dr. Arsi, S.P., M.Si., Christian Damar Sagara Sitepu, S.E., M.Si., Ressy Angli Permatasari, S.TP., M.T., dan Deni Saputra, S.TP., M.T.
Kegiatan tersebut juga melibatkan lima mahasiswa, yakni Ellen Oktarin, Danu Afrianto, M. Malik Fajar, Wulan Rahma, dan Muhammad Rafly Satriawan.
Keterlibatan mahasiswa menjadi bagian dari pembelajaran langsung di tengah masyarakat sekaligus mendukung penerapan ilmu pengetahuan dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat.
(**)







