Flu Burung H5N1 Mengganas, 13 Ribu Anak Anjing Laut Mati Massal di Pulau Terpencil Australia

Writer: - Selasa, 23 Juni 2026
Anjing laut gajah jantan muda mempelajari kemampuan bertarung yang akan menentukan dominasi untuk mendapatkan pasangan di koloni anjing laut gajah Piedras Blancas di pesisir tengah California, Amerika Serikat, pada 7 Desember 2019. (Xinhua/Joel Lerner)

Melbourne, Sumselupdate.com – Wabah flu burung H5N1 yang sangat patogenik dilaporkan menyebabkan kematian massal sekitar 13.000 anak Southern elephant seal di Pulau Heard, wilayah terpencil milik Australia di kawasan sub-Antarktika.

Temuan tersebut diungkap para ilmuwan dari Australian Antarctic Program berdasarkan hasil survei udara menggunakan drone yang dilakukan pada Oktober 2025 dan Januari 2026.

Read More

Dalam laporan yang dirilis Kamis (18/6/2026), para peneliti mencatat rata-rata tingkat kematian anak anjing laut mencapai 76 persen. Bahkan, di beberapa koloni pembiakan, angka kematian dilaporkan mencapai 97 persen.

Dari sekitar 17.000 anak anjing laut yang diperkirakan lahir pada musim tersebut, sebagian besar tidak berhasil bertahan hidup akibat penyebaran virus mematikan tersebut.

Selain menyerang anjing laut, survei juga menemukan peningkatan angka kematian pada sejumlah spesies burung, termasuk King penguin dan Gentoo penguin. Namun, dampak terparah tetap dialami populasi anjing laut gajah selatan.

Virus yang terdeteksi merupakan galur H5N1 klad 2.3.4.4b yang saat ini beredar secara global. Berdasarkan hasil penelitian, virus tersebut ditemukan pada sedikitnya enam spesies satwa liar, termasuk anjing laut berbulu Antarktika dan berbagai jenis burung laut.

Penulis utama penelitian sekaligus ahli biologi satwa liar, Julie McInnes, menyebut kasus ini sebagai pendeteksian pertama virus flu burung H5 di wilayah eksternal Australia.

“Observasi terhadap virus flu burung H5 di Pulau Heard dan Pulau McDonald merupakan pendeteksian pertama di wilayah eksternal Australia,” ujar McInnes.

Analisis genetik menunjukkan virus tersebut kemungkinan masuk ke kawasan Pulau Heard sekitar Agustus 2025 melalui migrasi satwa liar dari Kepulauan Crozet yang berjarak sekitar 1.800 kilometer.

Para ilmuwan memperkirakan penyebaran virus terus bergerak ke arah timur di kawasan sub-Antarktika, mengikuti pola yang sebelumnya juga terjadi di wilayah South Georgia, di mana anjing laut gajah menjadi spesies yang paling terdampak.

Untuk memetakan dampak wabah, tim peneliti melakukan 120 penerbangan drone dengan cakupan lebih dari 1.600 kilometer. Metode tersebut memungkinkan pengamatan pada lokasi pembiakan yang sulit dijangkau tanpa mengganggu satwa liar secara langsung.

Meski demikian, para peneliti memastikan hingga saat ini belum ditemukan kasus flu burung H5 pada daratan utama Australia, termasuk Tasmania, Macquarie Island, maupun Wilayah Antarktika Australia.

Temuan ini menambah kekhawatiran para ilmuwan terhadap dampak penyebaran global flu burung H5N1 yang kini tidak hanya mengancam unggas, tetapi juga berbagai spesies mamalia dan satwa liar di kawasan terpencil dunia.

(**)

Bantu Kami untuk Berkembang

Mari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!


Related posts