Coba tanyakan pada anak cucumu
apa yang ingin mereka kejar
apakah uang, apakah kekayaan,
apakah Tuhan, apakah setan.
Hedonisme mengaburkan pandangan kita
Konsumerisme layaknya kaki anak kecil
yang bermain air di dasar kolam
sehingga membuat kita semakin
sulit melihat kedalaman makna.
Popolaritas hanya sebatas
danau fatamorgana di padang sahara.
Jumlah tayangan, suka dan komentar sosial media
menjelma obat penawar
agar kita tetap tenar.
Mata angin dunia modern
tidak bisa dibaca sekejap kata
Jagalah anak-cucumu dari
orientasi dunia yang membuatnya
hanyut di dalamnya.
Purbalingga, 2026
Tentang Penulis
Yanuar Abdillah Setiadi, lahir di Purbalingga, Januari 2001. Mukim di Desa Timbang, Kecamatan Kejobong, Kabupaten Purbalingga. Mahasiswa Magister Manajemen Pendidikan Islam UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto. Alumnus Pendidikan Bahasa Arab di kampus yang sama. Dua buku mutakhirnya berjudul Mengaji Pada Alif (2023) dan Melihat Lebih Dekat (2024). Nominator Terminal Award Mojok.co Yogyakarta tahun 2023. Karyanya termuat di berbagai media di antaranya; mojok.co, maarifnujateng.or.id, Majalah An-Nuqtoh, litera.co.id, tajdid.id, mbludus.com, ruangjaga.com, sukusastra.com, gokenje.my.id, dan geger.id. Kontributor “Covid-19 Pandemi Dunia” (2020), “Lintang 3” (2020), dan “Di Ujung Tanjung” (2020). Instagram: @yanuarabdillahsetiadi.











