DALAM tradisi Islam, banyak kisah-kisah sahabat yang terus hidup dari generasi ke generasi. Salah satunya adalah kisah Alqamah, seorang sahabat Nabi Muhammad SAW yang terkenal rajin ibadah: taat shalat, tekun berpuasa, dan gemar bersedekah.
Namun ketika ajal menjemput, ia mengalami sesuatu yang di luar dugaan. Lidahnya terkunci. Ia tidak mampu mengucapkan kalimat lā ilāha illallāh meski dibimbing oleh para sahabat.
Peristiwa ini segera dilaporkan kepada Rasulullah SAW. Beliau menanyakan apakah Alqamah masih memiliki orang tua. Jawaban para sahabat: “Ya, ia masih memiliki seorang ibu.” Nabi lalu meminta agar sang ibu dipanggil.
Ketika ditanya, sang ibu mengaku menyimpan kekecewaan mendalam terhadap Alqamah. Meski anaknya ahli ibadah, ia merasa sering diabaikan, sebab Alqamah lebih mementingkan istrinya ketimbang dirinya. Perasaan itu menumpuk, hingga menjadi amarah yang menutup pintu ridha seorang ibu.
Rasulullah SAW lalu menegaskan: kemarahan seorang ibu bisa menjadi penghalang seorang anak dalam menghadapi sakaratul maut. Bahkan amal ibadah yang banyak sekalipun bisa terhalang, bila hubungan dengan orang tua, terutama ibu, rusak.
Untuk melunakkan hati sang ibu, Rasulullah kemudian meminta para sahabat mengumpulkan kayu bakar, seakan hendak membakar Alqamah yang sedang sekarat. Sang ibu terkejut, menjerit, dan menangis. “Ya Rasulullah, bagaimana mungkin aku tega melihat anakku dibakar?!”
Saat itulah hatinya luluh. Ia memaafkan dan merelakan Alqamah sepenuh hati. Seketika itu juga, lisan Alqamah menjadi lancar. Ia mampu mengucapkan kalimat syahadat, lalu tak lama kemudian menghembuskan napas terakhirnya.
Pelajaran yang Tak Pernah Usang
Kisah Alqamah begitu masyhur, sering dijadikan contoh dalam ceramah tentang pentingnya berbakti kepada orang tua, khususnya ibu. Ada tiga pelajaran penting yang bisa ditarik.
Pertama, sebanyak apapun ibadah seorang anak, tidak ada artinya bila hubungan dengan orang tuanya retak. Ibadah ritual harus diiringi ibadah sosial, dan bakti kepada orang tua adalah salah satunya.
Kedua, ridha Allah bergantung pada ridha orang tua. Hadits sahih menyebut: “Ridha Allah tergantung pada ridha orang tua, dan murka Allah tergantung pada murka orang tua.” Artinya, doa dan amal anak bisa terhalang oleh satu luka yang tak termaafkan dari orang tuanya.
Ketiga, kisah ini menunjukkan pentingnya menyeimbangkan kasih dengan akal sehat. Sang ibu awalnya larut dalam sakit hati, enggan membuka pintu maaf. Tapi ketika dihadapkan pada ancaman nyata, naluri keibuannya kembali. Ia tidak tega, lalu melepaskan dendam. Seandainya ia memaafkan sejak awal, tentu Alqamah tidak akan menderita saat sakaratul maut.
Kasih yang Tertutup Luka
Kisah ini menyentuh sesuatu yang universal: kasih seorang ibu bisa tertutup oleh luka batin. Seorang anak boleh jadi merasa sudah menjalankan semua kewajiban, tetapi jika ada kelalaian kecil yang membuat hati orang tua tersakiti, itu bisa menjadi duri dalam hubungan.
Bagi Alqamah, prioritas kepada istri membuat ibunya merasa tersisih. Luka itu dipendam, hingga berubah menjadi kemarahan yang dalam. Dari sini kita belajar bahwa keseimbangan dalam rumah tangga penting: mencintai pasangan hidup tidak boleh membuat kita melupakan ibu yang melahirkan.
Suara Nabi, Suara Kebenaran
Rasulullah SAW dalam kisah ini tampil bukan hanya sebagai pemimpin, melainkan sebagai pembimbing spiritual. Dengan meminta sahabat menyiapkan api, Nabi bukan sungguh-sungguh hendak membakar Alqamah, melainkan memberi guncangan psikologis agar sang ibu tersadar.
Strategi itu berhasil. Api menjadi metafora: amarah yang tak kunjung padam bisa membakar kehidupan anak dan ibu sekaligus. Begitu sadar akan hal ini, sang ibu pun segera memaafkan.
Relevansi Zaman Kini
Kisah Alqamah relevan dengan kehidupan keluarga modern. Banyak orangtua merasa tersisih ketika anak dewasa lebih mengutamakan pasangan hidup atau pekerjaannya. Banyak anak pula yang merasa cukup dengan memberi nafkah, padahal yang diinginkan orangtua seringkali hanya perhatian dan pengakuan.
Bagi anak, kisah ini adalah pengingat bahwa cinta kepada pasangan tidak boleh menggeser kewajiban berbakti kepada orang tua. Bagi ibu, kisah ini juga pengingat bahwa kasih sejati semestinya mengalahkan rasa sakit hati.
Menutup dengan Maaf
Pada akhirnya, Alqamah bisa mengucapkan syahadat karena ibunya merelakan. Kisah itu menegaskan: maaf adalah kunci keselamatan. Menunda maaf hanya memperpanjang penderitaan, sementara memberi maaf menghadirkan kedamaian bagi kedua belah pihak.
Kisah Alqamah mengajarkan bahwa pintu surga memang ada di bawah telapak kaki ibu. Tetapi surga itu hanya bisa diraih jika ibu menggunakan kasihnya dengan penuh kebijaksanaan.
Dan bagi seorang anak, berbakti kepada ibu adalah ibadah yang tak bisa ditukar dengan amalan ritual lainnya. Sebab, ketika ridha ibu terhalang, amal seindah apapun bisa tak berdaya.
(**)
Penulis: Muhibbullah Azfa Manik kesehariannya Dosen Universitas Bung Hatta, Perguruan Tinggi Swasta Terbesar di Sumatera Barat, Indonesia.











