Palembang, Sumselupdate.com – Titik panas (hotspot) di Provinsi Sumatera Selatan menunjukkan tren penurunan dalam dua hari terakhir. Pada Minggu (27/7), hanya 21 hotspot yang terpantau di lima kabupaten, turun drastis dibandingkan beberapa hari sebelumnya yang sempat mencatat angka ratusan.
Hotspot hanya terpantau di 21 titik di lima wilayah yakni Empat Lawang (dua titik), Muaraenim (tiga titik), Musi Banyuasin (empat titik), Muratara (lima titik), dan OKI (tujuh titik),” kata Kepala Bidang Penanganan Darurat BPBD Sumsel, Sudirman, pada Selasa (29/7/2025).
Penurunan ini disebut berkaitan dengan kondisi cuaca yang sempat mendung dan disertai hujan ringan di sejumlah wilayah. Namun, secara keseluruhan, Juli 2025 mencatat jumlah hotspot tertinggi sepanjang tahun ini, bahkan sejak 2015.
“Total hotspot selama bulan Juli mencapai 1.287 titik. Tertinggi terjadi pada 20 Juli dengan 214 titik. Hanya 5 Juli yang nihil hotspot,” jelas Sudirman.
Kenaikan signifikan ini mulai terdeteksi sejak Mei (523 titik), meningkat pada Juni (576 titik), hingga melonjak tajam di Juli. Sebagai perbandingan, hotspot Januari hanya tercatat 45 titik, Februari 66 titik, Maret 100 titik, dan April 216 titik.
Baca juga : Karhutla di Sumsel, 4 Helikopter Siaga di Provinsi Sumsel
“Jika dibandingkan dengan data sejak 2015, jumlah hotspot pada Juli tahun ini adalah yang tertinggi,” tambahnya.
Sudirman juga mengingatkan bahwa tren peningkatan hotspot biasanya berlanjut pada periode Agustus hingga Oktober, yang merupakan puncak musim kemarau. Karena itu, kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tetap harus ditingkatkan.
Hotspot yang terdeteksi melalui satelit menjadi acuan penting bagi Satgas Karhutlauntuk melakukan pemantauan dan verifikasi lapangan (groundcheck). Bila ditemukan indikasi kebakaran, tim segera melakukan tindakan pemadaman agar tidak meluas.
Baca juga : Ketua DPR: Penanganan Karhutla Harus Berbasis Keadilan Sosial dan Tata Kelola Berkelanjutan
“Setiap titik panas dicek langsung di lapangan. Kalau benar terbakar, langsung dipadamkan,” tegas Sudirman.
Wilayah dengan jumlah hotspot tertinggi sepanjang Juli, Musi Banyuasin (277 titik), Muratara (208 titik), Musi Rawas (192 titik), dan Muaraenim (184 titik). (**)











