Harga Kelapa di Banyuasin Terjungkal, Petani Kecam Isu Pungutan Ekspor

Writer: - Selasa, 3 Juni 2025
Muhammad Asri yang merupakan Pengurus Perhimpunan Petani Kelapa Indonesia (Perpekindo) dan juga Koordinator Komite Perlindungan & Pemberdayaan Petani Kelapa (KP3K Sumsel). (Sumselupdate.com/ Ist)

Palembang, Sumselupdate.com — Beberapa bulan ini komoditas kelapa dalam kembali menjadi sorotan baik di pemerintahan pusat maupun daerah khususnya penghasil kelapa, usai harganya menjadi napas panjang bagi para petani.

Sempat sentuh angka Rp 8000 perbutirnya hingga ditingkatkan petani, semenjak melonjak sejak awal tahun 2025 rupanya tak berlangsung lama.

Read More

Meski dianggap hal yang menguntungkan bagi para petani kelapa dalam, harga perbutir kelapa yang melonjak berkali lipat itu justru membuat para industri lokal menjerit karena harus bersaing menyerap dengan permintaan ekspor ke luar negri.

Dilematis ini yang kemudian membuat asosiasi Industri terkhusus produsen kelapa dalam melakukan manuver mengusulkan ke Pemerintah adanya Larangan Ekspor, Moratorium sampai dengan Pungutan Ekspor(PE).

Alhasil, kekinian dengan adanya konsolidasi tersebut membuat harga kelapa mulai merosot lagi dari harga tertingginya tersebut.

Kembali merosotnya harga kelapa itu mendapat reaksi dari Muhammad Asri yang merupakan Pengurus Perhimpunan Petani Kelapa Indonesia (Perpekindo) dan juga Koordinator Komite Perlindungan & Pemberdayaan Petani Kelapa (KP3K Sumsel).

Pembatasan ekspor, hingga adanya kebijakan PE tersebut ditengarai menjadi biang penurunan harga jual kelapa itu dianggap bertentangan dengan semangat ataupun kesejahteraan bagi para petani kelapa terkhusu di Sumsel.

Disebut terjungkalnya harga kelapa dari Rp 8.000 perbutir terjun bebas kini Rpn4.500 perbutir bahkan beberapa daerah di Banyuasin ada yang menyerap dengan Rp3.500 perbutirnya.

“Itukan Problem Industri yang tidak bisa membeli dan bersaing harga dengan ekspor dan juga ada selain itu dengan memasuki musim kemarau dengan Elnino sehinga juga mempengaruhi produksi kelapa ada, dengan situasi semacam ini petani hanya menjadi korban, ” tegasnya.

Menurut Asri, dalam menghadapi pertarungan harga kelapa semestinya Pihak Industri memiliki kebun inti yang sama halnya dengan Industri pengolahan sawit dengan pola kemitraan dengan petani.

Hal itu dinilai lebih efektif ketimbang melakukan konsilidasi menekan serapan ekspor demi dapat bersaing dalam menyerap kelapa di petani.

Melalui KP3K Asri berharap agar Pemerintah berhati hati mengambil langkah kebijakan jangan sampai Petani menjadi Korban.
“ini saja baru Isu harga sudah langsung turun, apalagi kalau benar benar diterapkan bisa harga kelapa bisa lebih anjlok dari sekarang, ” tegasnya.

Menurut Asri, dalam menghadapi problema persaingan serapan bahan baku kelapa pemerintah semestinya berfokus pada hulu.

Seperti pemberdayaan dan peningkatan kualitas serta kuantitas petani kelapa dengan misal seperti rehab kebun, peremajaan, pemupukan, dan pembangunan infrastruktur pendukung kepada petani.

“Itu sangat penting mengingat kedepan akan semakin banyak permintaan baik dari Industri dalam negeri dan juga eksportir di luar negeri,” ucapnya.(**)

Bantu Kami untuk Berkembang

Mari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!


Related posts