Senator Asal DIY Apresiasi Kebijakan Menag RI

Writer: - Rabu, 3 April 2024
Dr. H. Hilmy Muhammad, M.A.

Jakarta, sumselupdate.com – Pendaftaran Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) dan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) 2024 akan segera dibuka. Yang menarik dicermati tentang kesepakatan Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas dan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB) Abdullah Azwar Anas.

Kedua Menteri tersebut sepakat memberikan kesempatan bagi lulusan pondok pesantren, khususnya  jenjang Ma’had Aly, untuk mengikuti seleksi CPNS pada formasi penyuluh agama di bawah Kementrian Agama.

“Kami sepakat memberi kesempatan alumni Ma’had Aly bisa mendaftar CPNS. Ini merupakan rekognisi pemerintah atas kualitas dan kompetensi lulusan Pesantren,” ujar Menag RI Yaqut Cholil Qoumas.

Menanggapi hal tersebut, anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI dan juga salah satu pengasuh Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta, Dr. H. Hilmy Muhammad, M.A. mengaku senang dengan berita tersebut dan mengapresiasi kebijakan tersebut.

“Alhamdulillah. Ini kabar bagus, dan sesuai dengan amanat UU Pesantren tahun 2019. Tentu saja  menjadi peluang  baik bagi lulusan pesantren. Kami mengapresiasi kebijakan ini. Semoga bisa dimanfaatkan  para alumni,” kata anggota Komite I DPD RI tersebut dalam keterangan tertulis kepada media, pada Rabu (03/04/2024).

Baca juga : Korpri Setjen DPD RI Salurkan Bingkisan di Tengah Kenaikan Harga Bahan Pokok Jelang Idul Fitri

Kendati demikian,  Gus Hilmy tersebut memberikan saran agar Ma’had Ali dan Kemenag mempertimbangkan beberapa hal. Di antaranya, Ma’had Aly diharapkan tidak saja mengajarkan  keilmuan agama, tetapi juga membekali mahasiswa dengan wawasan keilmuan, keterampilan berbahasa asing non-Arab, dan penguasaan teknologi informasi (IT).

“Membekali mahasiswa Ma’had Aly dengan IT di zaman sekarang ini menjadi tuntutan. Karena lulusannya diharapkan bisa masuk ke berbagai profesi, termasuk di lingkungan ASN. Di sisi lain, perlu  mahasiswa dibekali dengan wawasan keilmuan umum, tidak hanya keilmuan agama. Tentu porsinya tidak banyak. Hanya sebagai bekal. Jadi selain memiliki keilmuan agama yang mumpuni, mahasiswa Ma’had Aly juga memiliki keterampilan  lain. Kalau dulu santri diajari bertani, sekarang  sawahnya sudah menjadi virtual, maka bekalnya harus beda,” jelasnya.

Baca juga : Komite IV DPD RI  Dorong Pemberdayaan UMKM di Daerah

Menurut Gus Hilmy, menjadi hal penting karena menjadi bagian dari persaingan  sehat. Jangan sampai mahasiswa Ma’had Aly kalah dengan yang lain karena tidak bisa mengoperasi komputer saat tes berbasis computer atau CAT.

“Konsekuensi dari bersaing ini adalah mahasiswa Ma’had Aly harus menguasai alat pendukung. Mau balap sepeda masa tidak bisa naik sepeda? Jangan sampai kita dikalahkan hal-hal yang tidak substansial. Biasanya banyak yang gugur di tahapan seleksi tertulis berbasis komputer. Padahal secara keilmuan sangat mumpuni,” kata Gus Hilmy.

Dengan keterampilan dan keilmuan  mahasiswa Ma’had Aly, kata Gus Hilmy, pada akhirnya bisa mendorong lulusannya tidak hanya mengisi peluang sebagai penyuluh agama, tapi bahkan peluang sebagai dosen di perguruan tinggi.

Oleh sebab itu, Gus Hilmy juga mendorong  Kemenag agar kesempatan tersebut dibuka secara luas.

“Kita juga perlu mengingatkan kepada pemerintah, bahwa standar kualitas lulusan Ma’had Aly sebenarnya bisa lebih dari sekadar penyuluh agama. Perlu juga dibuka lebar kesempatan mereka menjadi dosen dan peneliti di perguruan tinggi, utamanya bagi mereka lulusan Ma’had Ali yang sudah lulus S2,”tegas Gus Hilmy.(duk)

Bantu Kami untuk Berkembang

Mari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!


Related posts