Karya : Rusmin Toboali
Ketika malam mulai membangrut, seorang lelaki muda bercelana jeans itu terlihat datang ke Surau. Biasanya itikaf. Dan usai sholat subuh berjemaah, lelaki muda bercelana jeans itu langsung meninggalkan Surau yang terletak di ujung kampung. Setidaknya perilaku ini terlihat oleh para jemaah Surau, terutama di malam 10 terakhir Ramadan.
Tentu saja, kehadiran lelaki bercelana jeans itu di Surau menjadi topik hangat pembicaraan para jemaah. Mereka selalu bertanya-tanya , siapa lelaki itu. Apalagi usai sholat Subuh berjemaah, lelaki muda itu biasanya langsung pergi sehingga tak ada interaksi dengan para jemaah.
“Pak ustad siapa lelaki bercelana jeans itu?, “ tanya seorang jemaah usai sholat Subuh.
“Iya, Pak Ustad. Usai sholat subuh langsung kabur. Tak ada tegur sapa sama sekali,“ sambung seorang jemaah yang lain.
“Pakai celana jeans lagi,” celetuk jamaah yang lainnya.
Pak Ustad hanya tersenyum mendengar pertanyaan para jemaah.
“Surau ini kan rumah Allah. siapa saja berhak untuk bertemu Allah. Apakah ada larangan bagi umat muslim untuk sholat di Surau ataupun masjid pakai celana jeans,” tanya Pak Ustad dengan wajah tersenyum.
Para jemaah terdiam. Tak ada yang menjawab. Hening.
Di sebuah Masjid yang lain, para jemaah juga sering melihat adanya seorang lelaki muda bercelana jeans sering datang ke Masjid pada saat malam menuju sepertiga malam. Saat rembulan mulai terkantuk-kantuk dengan sinarnya yang mulai temaram. Saat kokok ayam mulai mewarnai bumi. Dan saat mentari mulai terbangun dari mimpi panjangnya.
Malam itu malam kedua puluh satu Ramadan. Sinar rembulan bercahaya. Indah sekali. Keheningan mulai terasa, ketika lelaki bercelana jeans itu mulai menyambangi Surau. Usai mengambil wudhu, lelaki itu langsung masuk ke dalam Surau. Dia beritikaf. Sementara mulutnya komat-kamit sambil tangannya menengadah. Suaranya makin mengecil. Airmata tampak mengalir dikedua pipinya. Membasahi sajadah masjid.
“Assalamualaikum,” sapa Pak Ustad dengan diksi suara yang amat bersahabat.
Lelaki itu menoleh. Senyum khas Pak Ustad membuatnya terkejut. Dia langung berdiri. Tapi sebuah kode dari Pak Ustad membuatnya batal untuk berdiri.
“Silahkan adik teruskan zikirnya,” ujar Pak Ustad ramah dengan senyum khasnya.
Dan seperti biasanya usai sholat subuh lelaki muda bercelana jeans itu langsung meninggalkan Surau. Beberapa warga melihat. Langkahnya tampak tergesa-gesa. Saat di tikungan pemukiman kampung, lelaki itu tak terlihat lagi. Beberapa warga yang berusaha membubutinya tak melihat apa-apa. Kehilangan jejak.
“Saya lihat dengan mata kepala sendiri Pak Ustad. Waktu di tikungan itu, dia langsung menghilang. Arahnya ke hutan kecil,” lapor seorang jemaah kepada Pak Ustad.
“Benar sekali Pak Ustad. Langkahnya bergegas. Sangat tergesa-gesa. Seolah-olah ada yang dikejarnya,” sambung jemaah lainnya.
“Barangkali beliau itu sedang ada kegiatan sehingga terkesan terburu-buru,” jawab Pak Ustad.
Subuh ini tak terlihat lelaki muda bercelana jeans itu di Surau. Bahkan dia pun tak beritikaf di Surau di sepertiga malam seperti baisanya. Para warga justru dilanda kehebohan yang luarbiasa. Di dalam Surau ada sebuah tas berukuran besar.
“Uang siapa ini?,” tanya para jemaah dengan nada keheranan.
“Apakah ini uang lelaki bercelana jeans itu?,” sambung jemaah yang lain.
“Mari kita lihat. Siapa tahu milik jemaah Surau yang tertinggal,” ajak Pak Ustad.
Saat tas dibuka para jemaah Surau kaget. Tas itu berisikan uang. Nilainya besar sekali. Dan di dalam tas itu ada secarik surat. Saat dibaca Pak Ustad hanya tertulis bahwa uang dalam tas itu untuk renovasi Surau yang terbengkalai.
Tas yang berisikan uang besar juga ditemukan para jemaah di sebuah masjid yang sering didatangi lelaki muda bercelana jeans itu pada sepertiga malam saat bulan Ramadan. Isi suratnya sama. Uang dalam tas itu untuk perbaikan Masjid yang belum selesai.
“Alhamdulillah, Allah telah melimpahkan rezekinya buat masjid ini,” ujar Pak Ustad.
“Jadi lelaki bercelana jeans itu yang menyumbangkan uang ini untuk masjid?,’ tanya jemaah.
” Ternyata lelaki itu orang kaya dan dermawan ya Pak Ustad,” celetuk jemaah yang lainnya.
” Sebagai jemaah masjid dan pengurus masjid uang ini amat berguna bagi perbaikan masjid. Soal siapa yang menyumbangnya, biar Allah yang membalasnya kebaikannya. Kita semua berdoa agar penyumbang pembangunan masjid ini diberi kesehatan dan rezekinya dilipatgandakan oleh Allah,’ ujar Pak ustad.
“Ayo kita sholat subuh,” ajak Pak Ustad.
Sinar mentari mulai terlihat merah-kemerahan di ufuk timur. Sinarnya mulai menyinari bumi bersahutan dengan kokok ayam yang mulai menggemakan suaranya meresonansi bumi. Sementara suara deru kendaran di jalanan pun mulai terdengar nyaring mengornamen bumi seiring derap langkah manusia memulai kehidupan dan menantang kehidupan yang mulai terasa ganas. (*)











