Cerpen : Lidah Petaka

Sabtu, 28 Agustus 2021
Iustrasi

Karya : Rusmin Toboali

“Rongrong. Kamu bilang, Atoli tak akan buat pernyataan lagi di koran. Kamu janji akan membantu saya biar tak ada lagi pernyataan dari dia di koran atau radio. Tapi buktinya hari ini pernyataannya dimuat  di koran nasional. Di koran nasional. Koran yang jadi trend setter. Dibaca berbagai kalangan di negeri ini. Koran yang jadi referensi para pengambil kebijakan di tingkat pusat. Saya tambah pusing. Pusing,” suara Pak Kades Desa Liluk terdengar menegang.

Read More

“Pak Kades jangan ngarang-ngarang dan bikin sensasi murahan yang tak laku dijual. Mana mungkin  Atoli bisa membuat pernyataan di koran nasional Pak. Levelnya Atoli  itu kan level kampung. Saya tak percaya. Tak percaya sama sekali. Lantas koran mana sih yang mau ngutip pernyataan aktivis kelas kampung? Pak Kades jangan buat sensasi murahan ya?,”sergah Rongrong di ujung telpon tak mau disalahkan.

“Buktinya demikian. Coba kamu baca koran nasional Media Nusantara halaman 13. Apa itu bukan koran nasional yang terkemuka? Apa itu bukan foto Atoli? Apa itu bukan statemen Atoli?,” nada suara Kades mendengus .

Rongrong terdiam.

Pak Kades Desa Liluk, teman bicaranya terus ngoceh ditelpon genggam tentang kegelisahannya. Tentang kegelisahan dirinya sebagai pejabat yang dikawal oleh aktivis desa lewat pemberitaan. Tentang kegelisahannya sebagai pejabat desa yang selalu dikritik oleh rakyat lewat media massa. Tentang kegelisahan atas pemberitaan di koran nasional Media Nusantara hari ini. Dan tentang berbagai kegelisahannya dalam memimpin Desa yang mulai dapat sorotan dari masyarakat Desa.

“Rongrong. Apa kamu masih mendengar suara saya,” tanya Pak Kades lewat telepon dengan nada gusar.

“Masih Pak”.

“Lantas apa solusi terbaik kita dalam menyikapi pemberitaan hari ini?,” tanya Pak Kades.

Rongrong sama sekali tak lagi menyimak lagi pembicaraan lewat telepon dengan Pak Kades. Dirinya membayangkan proyek pembangunan sumur bor yang diberikan Pak Kades kepada dirinya beberapa hari lalu saat dirinya menyatakan janji bahwa Atoli aktvis Desa Liluk tidak akan mengkritisi dirinya lagi sebagai Kades.

Terbayang dalam otaknya tentang keuntungan yang akan diraupnya. Setidaknya satu buah motor baru akan diraihnya dari komisi proyek itu. Bahkan ada kontraktor yang berani memberinya satu buah motor plus dana jutaan rupiah.

Dan Rongrong pun tak lagi menggubris ocehan Pak Kades. Bayangan tentang keuntungan proyek sumur bor telah mengalahkan suara kegelisahan Pak Kades.

***

Siang itu di warung kopi Mang Keliru, Rongrong berkumpul dengan beberapa rekannya sesama aktivis Desa. Mereka asyik membicarakan pernyataan Atoli aktivis Desa yang dimuat di koran nasional Media Nusantara.

“Luarbiasa komentar Atoli di koran nasional hari ini. Menggegerkan jagat Kabupaten ini. Infonya, Pak Kades sudah dipanggil Pak Bupati,” ujar Usuf.

“Bener Bung. Pernyataan Atoli di koran itu sangat akurat dan sarat dengan data-data kebenaran. Keberpihakannya kepada rakyat jelas dan lugas.,” timpal Dungu.

“Atoli itu jaringannya luas. Pergaulannya banyak. Sahabatnya di luar Desa banyak Salut saya,” jawab Asun.

“Kita jangan bertindak bodoh. Kita jangan membeberkan kehebatan Atoli di mata petinggi Desa. Justru sebaliknya kita harus menginformasikan kepada Pak Kades bahwa Atoli sangat tertarik dengan posisi Kades. Walaupun kita tahu, bahwa Atoli bukanlah orang pengejar jabatan. Intinya kita harus mengadu domba Atoli dengan para petinggi desa,” ungkap Rongrong.

” Lho itu artinya kita membalikkan fata, Rong,” jawab Usuf.

“Biarkan saja. Yang penting pak Kades percaya dengan info dari kita. Dan kita bisa menerima lebih banyak lagi kegiatan dari Pak Kades. Dan yang paling penting kawan-kawan semua harus kompak berbicara di depan Pak Kades dan para pegawai desa bahwa ada upaya dari Atoli untuk menjatuhkan citra dan kewibawaan Pak Kades sebagai pimpinan desa di mata rakyat. Kita harus memanfaatkan momentum ini untuk kelangsungan hidup kita. Dan yang paling penting kalau di depan Atoli kita harus memujinya setinggi angkasa sebagai aktivis hebat selevel Munir dan pegiat ICW,” jawab Rongrong.

Teman-teman Rongrong terdiam. Seribu tanya menggelayut dalam nurani mareka.

Sikap kritis bernada konstruktif yang digemakan Atoli lewat media terhadap kepemimpinan Pak Kades membuat para pendukung kades lama yang kalah dalam Pilkades tahun lalu mulai bangkit. Mereka ingin memanfaatkan sikap kritis Atoli untuk mem-pressure Pak Kades dan setidaknya unjuk diri setelah terpinggirkan selama kepemimpinan Pak Kades baru. Momentum ini akan mereka manfaatkan sebagai peluang emas untuk kembali eksis dalam percaturan di pemerintahan Desa. Dan ini adalah waktu dan masa yang tepat.

“Nah, sekarang Pak Kades baru paham dan tahu serta sadarkan bahwa pendukung Pak Kades mulai berpaling dan menyerang kewibawaan Bapak sebagai pimpinan tertinggi di Desa ini,” ujar Limun dalam perjumpaan dengan Pak Kades di suatu acara.

“Sikap kritis itu kan sesuatu yang wajar dan memang era kepemimpinan saya mereka harus mengawal dan mengkritisi saya untuk perbaikan,” jawab Pak Kades.

“Bapak sebagai pemimpin harusnya paham. Itu bukan sikap kritis. Tapi upaya untuk menjatuhkan kewibawaan Bapak dimata masyarakat. Bapak akan dianggap sebagai pemimpin yang tidak bisa bekerja dan tidak mampu mengemban amanah rakyat. Muaranya ya jelas dari sikap kritis para pendukung Bapak waktu Pilkades lalu,” jelas Limun.

Pak Kades terdiam.

Sikap kritis konstruktif Atoli rupanya berdampak pula kepada para petinggi BPD Desa Liluk. Mareka berpikiran dan berkeyakinan  makin kritis konstruktif Atoli akan membuat citra dan kewibawaan mareka sebagai bagian dari lembaga Badan Perwakilan Desa akan merosot tajam.

Apalagi waktu tugas dan abdi mareka sebagai anggota BPD waktunya hanya dalam hitungan hari akan berakhir. Dan sebagai anggota BPD yang dipilih rakyat Desa, mareka tentunya tak mau dijuluki sebagai anggota  perwakilan rakyat yang hanya Datang, Duduk, Diam dan Duit.

“Teman-teman sekalian harus paham dan sadar bahwa sikap kritis Atoli itu sebagai bentuk persiapannya untuk menjadi anggota BPD kita periode mendatang,” ujar salah satu anggota BPD dari Lingkungan 13.

“Ah, yang bener saja Bos? Masa sih?,” tanya warga.

“Buktinya selama ini Atoli juga kritis. Zaman Pak Kades lama Atoli juga kritis,” sambung warga yang lain.

Ntar. Kalian semua lihat dan saksikan ujungnya. Pasti mendekati kalian untuk minta dukungan,” jawab anggota BPD.

***

Di mata kawan seperjuangan dan masyarakat Desa, Atoli adalah aktivis pemuda yang terus menyuarakan tentang ketidakadilan yang dialami masyarakat Desa Liluk dalam pembangunan. Keberpihakan aktivis muda ini terhadap masyarakat pantas diacungi jempol.

Kendati dulunya Atoli adalah team pemenangan Pak Kades dalam Pilkades, namun Atoli tetap kritis terhadap kebijakan yang dibuat pak Kades dalam memajukan kesejahteraan umum rakyat Desa Liluk. Atoli tetap kritis dalam mengawal kepemimpinan Pak Kades sebagai pemimpin Desa. Dan Atoli telah berjanji untuk tetap kritis dan kritis konstruktif.

“Sebagai orang yang ikut mencoblos Pak Kades, saya berkewajiban mengawal dan mengkritisi kebijakan Pak Kades dalam memimpin Desa kita. Zholim saya kalau membiarkan Pak Kades bertindak sewenang-wenang dalam memimpin Desa ini. Sebagai rakyat yang ikut menghantar beliau sebagai pemimpin Desa, berdosa besar  saya kalau membiarkan Pak Kades salah arah dalam memimpin Desa kita ini,” ungkap Atoli saat ditanya kawan-kawannya mengapa selalu kritis terhadap kebijakan Pak Kades yang dulu diperjuangkannya.

“Yang penting suara kritis saya tidak dikonversikan dalam bentuk materi dan proyek. Saya berkewajiban mengawal Pak Kades selama lima tahun ini biar beliau mampu memimpin Desa ini untuk kesejahteraan bersama,” lanjut Atoli.

Semua yang mendengar penjelasan Atoli terdiam. Membisu. Tak ada sanggahan atau celetukan.

Hanya dalam hati nurani mereka amat membenarkan langkah dan aksi kritis konstruktif yang dijalani Atoli sebagai orang yang ikut mengantar Pak Kades terpilih sebagai Pemimpin Desa Liluk. Bukan malah menjadi bagian yang menyusahkan Pak Kades dengan aksi-aksi purba dan selalu mengatasnamakan Pak Kades untuk meraih kehidupan.

Dibandingkan dengan tim pemenangan Pak Kades lainnya, Atoli adalah orang yang paling vokal dan kritis dalam mengkritisi kebijakan yang dibuat Pak Kades. Suaranya nyaring terdengar di koran dan dalam pertemuan-pertemuan yang diselenggarakan Pemerintaha Desa. Kadangkala suaranya bergema lewat radio.

***

Rongrong bersama teman-temannya tiba di ruang Mat Alok. Kepala Seksi pembangunan Desa Liluk ini sangat terkejut melihat kedatangan Rongrong dan teman-temannya. Dalam hati Mat Alok entah perintah apalagi yang dibawa Rongrong. Dan pastinya info dan perintahnya pasti selalu mengatasnamakan pak Kades.

“Hari ini pak Mat Alok sangat gembira. Dari wajahnya  saja sudah kelihatan bahwa beliau ini adalah calon kuat sekdes kita. Benarkan kawan-kawan?,”  ujar Rongrong sambil menyalami Mat Alok.

Dan dengan koor yang sama teman-teman Rongrong menjawab dengan kata benar.

“Ah, bisa saja Bos kita ini. Saya sebagai pegawai siap ditempatkan dimana saja. Kalau pak Kades mempercayai saya, yah sebagai pegawai saya harus siap,” jawab Mat Alok sembari mempersilahkan Rongrong dan kawan-kawannya duduk di kursi dalam ruang kerjanya itu.

“Nah, kebetulan kami dapat info dari Pak Kades bahwa nama bapak diusulkan beliau sebagai calon sekdes. Dan kami sebagai kelompok pemuda sangat mendukung. Seratus persen kami mendukung pak Mat Alok sebagai Sekdes,” ujar Rongrong.

“Terima kasih atas dukungan kawan-kawan semua. Oh ya. Gimana kabar Atoli? Pernyataannya di koran nasional Media Nusantara telah membuat Pak Kades dipanggil Bupati. Atoli memang kritis mengawal Pak Kades,” ujar Mat Alok.

“Jangan Bapak tidak tahu ya, Atoli itu kan mengincar proyek pembangunan Puskesmas yang ada di seksi Bapak itu. Sebagai rakyat kami mengingatkan Bapak untuk hati-hati Pak. Soalnya Atoli itu kalau ada proyek tidak dikerjakan. Diberikan pada kontraktor lain. Atoli cuma nerima komisinya saja. Beda dengan kami Pak. Kalau kami bukan keuntungan yang kami cari tapi bagaimana pembangunan di Desa ini berjalan lancar dan baik sehingga program Pak Kades berjalan lancar,” jelas Rongrong.

“Tapi setahu saya Atoli belum pernah minta proyek atau kegiatan kepada saya. Dulu, memang Atoli pernah mengusulkan pembangunan ruang pertemuan Lingkungan. Tapi yang mengerjakannya keponakannya Pak Kades. Bung Rongrong lah yang mengajak ponakan Pak Kades bertemu saya,” ujar Mat Alok.

“Iya. Tapi Atoli dapat komisi dari ponakan Pak Kades itu. Satu buah motor. Saya cuma dapat getahnya. Cuma dapat baunya saja,Pak ,” jawab Rongrong.

Mat Alok terdiam. Dalam hati, Mat Alok sungguh tidak mempercayai omongan Rongrong yang sering membawa nama Pak Kades kalau ingin meminta proyek kepada bawahan Pak Kades. Toh selama ini kalau bertemu Atoli dirinya selalu melihat Atoli masih dibonceng orang. Belum pernah dirinya melihat Atoli naik sepeda motor.

Tapi…

Suasana di kantor Desa sore itu ramai. Para undangan yang hadir dalam pertemuan itu saling terdiam dan membisu mendengar perdebatan antara pak kades dan Atoli aktivis Desa. Keduanya saling beradu  argumentasi.

“Kalau Pak Kades menuduh saya yang mengerjakan proyek pembangunan sumur bor di Desa kita ini,  saya mohon Pak Kades membuktikannya dengan fakta dan data. Jangan Pak Kades membuat fitnah sebagai pemimpin,” ungkap Atoli.

“Kamu tidak usah cari alasan macam-macam.  Di sini ada kontraktornya. Itu orangnya. Itu buktinya,” balas Pak Kades sembari menunjuk seorang lelaki berkepala pelontos yang dari tadi duduk terdiam mendengarkan perdebatan mareka bedua.

“Pak Akung. Saya ingin  Bapak menjawab pertanyaan saya dengan jujur. Dan para tokoh masyarakat, agama dan pemuda yang hadir di pertemuan ini akan menjadi saksinya. Ini kan orang yang memberi Bapak pekerjaan pengerjaan sumur bor di Desa ini,” tanya Pak Kades sambil menunjuk ke arah Atoli.

“Maaf, pak Kades. Bukan dia orangnya. Saya juga baru kali ini melihat wajahnya,” jawab sang kontraktor.

“Lalu siapa yang memberi kamu pekerjaan itu,” tanya Pak Kades dengan nada tinggi sambil berdiri.

“Itu lho Pak Kades. Orang yang mempertemukan saya dengan Pak Kades di kantor Desa. Waktu itu Pak Kades bilang dia tim pemenangan Pak Kades dulu,” jawab sang kontraktor tenang.

“Rongrong?,” desis Pak Kades kaget.

“Benar Pak Kades. Katanya itu perintah Pak Kades.,” jawab Sang kontraktor dengan nada tenang dan berwibawa. Sontak semua undangan terpengarah.

Dan Pak Kades pun terduduk lemas. Wajahnya pucat.

***

Di jalanan ibukota Kecamatan, Rongrong baru saja usai keluar dari sebuah showroom motor. Dengan siulan penuh kebahagiaan dan kemenangan, Rongrong susuri jalanan menuju rumahnya. Dan terbayang dalam otaknya kebahagian istrinya dan anaknya saat melihat dirinya datang dengan motor keluaran terbaru. Ya, motor terbaru sebagai hadiah. (*)

Bantu Kami untuk Berkembang

Mari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!


Related posts