Palembang, Sumselupdate.com – Bagi masyarakat pecinta seni, nama Kamsul A. Harla tentunya tidak asing lagi. Sosok seniman asal Palembang ini sudah demikian populer di tengah masyarakat, terutama seiring dengan melejitnya lagu “Ya Saman” yang merupakan lagu hasil ciptaannya sendiri dan dinyanyikan langsung oleh yang bersangkutan.
Menurut Kamsul, lagu Ya Saman yang notabene menggunakan lirik bahasa Palembang sejauh ini telah menasional bahkan menginternasional.
“Alhamdulillah, secara nasional lagu Ya Saman sudah cukup familiar, sering dinyanyikan di kota-kota besar di Indonesia. Pernah juga dinyanyikan di Istana Presiden dan even ulang tahun Konferensi Asia Afrika di Bandung,” ujar Kamsul kepada Pemimpin Umum Sumselupdate.com, Solehun, saat ditemui di kediamannya di kawasan Perumahan Talang Kelapa Palembang, Sabtu (9/8/2020).
Tidak hanya itu, melalui program pergelaran budaya yang dilakukan pemerintah, Kamsul pun telah mengelilingi sejumlah negara untuk menyanyikan lagu ini.
“Saya juga pernah menyanyikan lagu Ya Saman ini di Roma, Italia, Singapura dan Malaysia. Wong bule atau orang asing ternyata apresiatif dengan lagu berkonten lokal ini,” tegas Kamsul.
Dari pengalaman ini, Kamsul pun memotivasi para seniman lainnya untuk tidak meremehkan kearifan lokal dalam karya seni.
“Seniman berbasis keunikan lokal bisa eksis di tengah kompetisi global. Untuk itu, seniman harus berusaha menghadirkan sesuatu yang unik sekaligus mampu berkarya di luar yang biasa-biasa saja,” ujar sosok pendiri grup band The Ferias (1985) dengan lagu perdananya “Tembang Tepian Musi”.
Pria yang pada 2005 aktif di Dewan Kesenian Palembang pada Komite Teater ini pun mengingatkan agar para seniman untuk terus berkarya demi memperteguh jati dirinya.
“Seniman itu ada karena karyanya. Jadi jangan pernah berhenti berkarya dan biarkan masyarakat mengapresiasi karyamu,” tegasnya.
Berkaca dari pengalaman dirinya, Kamsul telah berkarya sejak dua puluhan tahun yang lalu. Dari 60-an lagu karyanya, terbilang baru lagu Ya Saman yang paling diapresiasi secara luas oleh masyarakat. Tepatnya sejak tahun 2007 ketika Dewan Kesenian Palembang bekerjasama dengan Dinas Pariwisata Kota Palembang mendokumentasikan lagu-lagu daerah dan mempublish lagu ini yang langsung populer.
Terkait makna di balik judul lagu “Ya Saman”, Kamsul mengatakan bahwa kata ini merupakan ungkapan terhadap sesuatu yang luar biasa. Bahkan setelah lagu ini populer, dia baru tahu jika keberadaan kata “Ya Saman” yang penggunaannya pernah populer di tengah masyarakat Palembang ini terkait dengan sosok ulama besar.
“Ada perasaan bersalah dalam diri saya, ternyata kata Ya Saman ada kaitannya dengan sosok ulama besar. Setelah lagu ini populer, aku baru tahu apa akar sejarahnya. Jika tahu dari awal makna sebenarnya, tentu syairnya tidak seperti sekarang. Ya Saman bukan karya aku, cuma dititipkan oleh Allah untuk dikenalkan kepada masyarakat,” jelasnya.
Kamsul menambahkan, ungkapan “Ya Saman” itu ternyata berasal dari nama seorang ulama besar Madinah, Syeikh Muhaammad Saman. Beliau adalah pencetus tarekat Samaniyah. Tarekat ini kemudian dibawa oleh ulama asal Palembang yang berguru kepada beliau dan pernah menjadi Imam Besar Masjidil Haram yakni Syeikh Abdul Somad Al Falembani. Sejak itu, kata Ya Saman sering digunakan para pengikut tarekat Samaniyah, lalu diikuti secara luas oleh masyarakat Palembang dalam kehidupan sehari-hari.
“Sejak tahun 1980-an kata Ya Saman sudah mulai hilang. Kemudian pada Festival Sriwijaya 2006, saya buat lagu Ya Saman untuk pergelaran teater dengan lirik yang sama. Tahun 2007 dipublish dan langsung populer”, kisah Kamsul.
Popularitasnya sebagai seniman dan booming-nya lagu Ya Saman ternyata tak lantas membuat Kamsul berubah. Dia masih seperti yang dulu, sederhana dan low profile. Dia pun akan tetap berkarya.
“Ke depan saya akan tetap berkarya dengan tetap membuat lagu-lagu berkarakter daerah,” tutupnya. (shn)











