Palembang, Sumselupdate.com – Kasus dua anak di Musi Rawas yang terserang HIV/AIDS 2016 lalu dan berbuah diskriminasi tajam membuat Sriwijaya Plus Palembang (SPM) tersentak, betapa kejamnya aksi diskriminasi yang seharusnya tak terjadi.
Pasalnya, otoritas setempat telah memutus sambungan listrik karena dinilai mampu menularkan lewat saluran listrik.
Fenomena diskriminasi ini diperparah dengan kasus terbaru di tahun ini yang menyentuh publik nasional belum lama ini yakni di Samosir, Medan. Tiga siswa SD diberhentikan karena diduga menderita HIV/AIDS.
“Nah inilah, melalui momentum Hari AIDS sedunia pada 1 Desember 2018 dan Hari Hak Asasi Manusia (HAM) Internasional pada 10 Desember kita ingin mengajak untuk sama-sama menggelorakan nol diskriminasi menuju Indonesia setara,” ujar Ketua Sriwijaya Plus Palembang, Rachmat Saleh di sela-sela kegiatan “Kampanye Nasional Nol Diskriminasi menuju Indonesia Setara” di Fave Hotel Palembang pada Minggu-Senin, (9-10/12/2018).
Kegiatan yang juga disupport oleh Indonesia AIDS Coalition (IAC) tersebut diikuti oleh puluhan peserta mahasiswa, pelajar, komunitas Walhi, WCC, LBH, Komunitas Literasi, FKM Unsri, UIN, Komunitas Sosial GBI KPA Kota, Komunitas WKG dan lainnya.
Kampanye nasional diisi juga dengan diskusi mengenai meminimalisir diskriminasi dengan diberikan tontonan film berjudul “KTP dan Pria”.
“Miris sekali jika mendengar kasus diskriminasi. Dan 2016 lalu, kami mendampingi kasus yang di Musi Rawas dan beruntung sudah tidak terjadi lagi,” urainya.
Pihaknya berharap agar perlakuan diskriminatif oleh siapapun dalam hal apapun termasuk ras, ekonomi, agama dan lainnya jangan sampai terjadi. Sehingga bisa menciderai mereka yang termarginalkan. Termasuk bagi mereka yang ketahuan menderita HIV/AIDS yang kemudian diberhentikan bekerja.
“Karena dalam Undang-Undang No.39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia (HAM) mengatakan bahwa setiap orang berhak atas perlindungan Hak Asasi Manusia, dan kebebasan besar manusia tanpa diskriminasi. Dan itu jelas dan tegas aturannya,” urainya.
Sementara itu Manager Data Sriwijaya Plus Palembang Sandra Guta mencatat bahwa hingga 2018 tercatat ada 3000-an penderita HIV/AIDS di Sumatera Selatan.
“Dan 1400 di antaranya sudah kita lakukan pendampingan dengan memberikan support moril dan pemberian obat secara gratis,” jelasnya.
Menurutnya, jumlah tersebut cenderung meningkat dibanding tahun sebelum-sebelumnya. Sebut saja di tahun 2016 terdapat 2284 kasus HIV AIDS dan sebagian telah dilakukan pendampingan oleh Sriwijaya Plus Palembang. (sbw)











