“Diharapkan, yang hadir di forum ini (RNPK 2016) tak lebih dari sosialisasi dan kerja sama, tapi hadir untuk level kolaborasi sehingga dahsyat manfaatnya,” ujar Anies saat acara penutupan RNPK 2016 di Bojongsari, Depok, Jawa Barat, Selasa (23/2/2016).
Anes menjelaskan, pada pelibatan publik di tahap kolaborasi, pemerintah dan para pemangku kepentingan di bidang pendidikan dan kebudayaan bisa mengambil keputusan bersama-sama. Pengambilan keputusan yang melibatkan publik, sebutnya, dapat meningkatkan kredibilitas, baik kredibilitas keputusan maupun kredibilitas pengambil keputusan.
“Kita bisa menciptakan alternatif solusi atas semua permasalahan yang kompleks,” tutur Anies.
Anies pun mengingatkan, ada banyak manfaat yang bisa didapatkan dari pelibatan publik. Antara lain mendukung penyusunan kebijakan dengan informasi yang lebih lengkap, mutu lebih baik, sehingga penerimaan publik lebih luas dan langgeng. Juga dapat memperkuat institusi demokratis dan mengurangi sinisme, lalu dapat menghindari dan meminimalkan dampak negatif dari pengambilan keputusan.
Dalam kesempatan ini Mendikbud juga menekankan bahwa yang dimaksud dengan publik bukanlah semata-mata LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat). Lebih luas dari itu, katanya, bisa individu, orang tua, sekolah, masyarakat, perusahaan, atau akademisi.
Ia pun berharap, para peserta dapat melakukan refleksi atas penyelenggaraan RNPK 2016 saat kembali ke daerahnya masing-masing. Kegiatan refleksi itu, imbuhnya, juga harus disertai proyeksi langkah-langkah ke depan untuk menindaklanjuti hasil yang disepakati dalam sidang-sidang komisi di RNPK. (shn)











