Muaraenim, Sumselupdate.com — Puyang Ratu Magedum, begitu nama nenek moyang masyarakat Desa Perjito Kecamatan Gunung Megang, Muaraenim yang dikenal mempunyai kesaktian.
Diceritakan oleh Kepala Desa Perjito, Moh Roffudin, sosok Puyang Ratu Magedum sangat ditakuti Kolonial Belanda pada masanya. Dengan kesaktian yang dimilikinya, Puyang Ratu Magedum membuat Belanda kewalahan menghadapinya.
Salah satu kisah menceritakan, Puyang Ratu Magedum sering dihujani tembakan oleh tentara Belanda. Berkat kesaktiannya yang bisa menghilang, usaha untuk membunuh sang puyang pun selalu gagal.
“Tentara Belanda tidak bisa melihat wujud PuyangRatu Magedum, yang ada hanya suaranya saja,” ujar Roffudin kepada Sumselupdate.com, Sabtu (25/8/2018).
Karena tak wujudnya yang tak terlihat, tentara Belanda pun menembak ke arah sumber suara Puyang Ratu Magedum. Namun tidak ada satu tembakan pun yang berhasil menembus tubuhnya.
Karena selalu gagal mengalahkan Puyang Ratu Magedum, Belanda akhirnya membuat rencana untuk menjebak sang puyang yakni dengan mengutus seorang wanita yang cantik agar Puyang Ratu Magedum tertarik dengan kecantikannya.
Atas perintah Belanda, wanita itu kemudian menemui Puyang Ratu Magedum. Sesuai perkiraan Belanda, Puyang Ratu Magedum akhirnya tertarik dengan kecantikan utusan tersebut dan menjadikannya sebagai isteri kedua tanpa rasa curiga.
Seiring berjalannya waktu, hubungan Puyang Ratu Magedum berjalan harmonis dengan isteri keduanya tersebut. Namun isteri keduanya tersebut mempunyai niat busuk yakni ingin mencari kelemahan Puyang Ratu Magedum.
Karena terbuai rayuan dan merasa percaya dengan isteri keduanya tersebut, Puyang Ratu Magedum akhirnya menceritakan rahasia kelemahan dari kesaktiannya. Apabila suara puyang ada di atas berarti wujudnya ada di bawah begitupun sebaliknya. Serta apabila suara puyang ada di hulu sungai maka wujudnya ada di hilir begitu juga sebaliknya.
Setelah mengetahui kelemahan Puyang Ratu Magedum, isteri keduanya itu kemudian langsung menemui Belanda dan memberitahukan hal tersebut. Belanda yang sudah mengatahui kelemahan Puyang Ratu Magedum tak ingin membuang waktu. Keesokan harinya, pasukan Belanda langsung menyerbu Puyang Ratu Magedum.
Seperti biasa, wujud Puyang Ratu Magedum tidak nampak yang ada hanyalah sauaranya. Namun karena telah mengetahui kelemahan sang Puyang, akhirnya Belanda menembak ke arah berlawanan dengan sumber suara puyang.
“Perang tersebut adalah perang tersebut adalah perlawanan terakhir Puyang Ratu Magedum terhadap pasukan Belanda. Belanda yang telah mengetahui kelemahan sang Puyang akhirnya berhasil membunuh Puyang Ratu Magedum,” pungkasnya.(azw)











