Puisi Denyy JA untuk Tragedi Bocah Tewas Saat Antre Sembako di Monas

Rabu, 2 Mei 2018
Antre sembako gratis pada acara yang digelar oleh Forum Untukmu Indonesia di kawasan Monas Jakarta, Sabtu (28/4/2018)

Jakarta, Sumselupdate.com – Peristiwa tragis meninggalnya dua bocah warga Pademangan, Jakarta Utara usai mengikuti acara bagi-bagi sembako yang digelar Forum Untukmu Indonesia di Monas, Sabtu (28/4/2018) lalu mengundang keprihatinan banyak pihak.

Salah satunya Direktur Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA yang menyampaikan keprihatinannya melalui sebuah puisi berjudul “Bocah Itu pun Tewas Ketika Antri Sembako di Monas’.

Read More

Dalam puisi yang dapat dilihat pada laman inspirasi.co. tersebut Denny JA mengungkapkan kemirisan nasib dua bocah yang harus meregang nyawa demi berebut sembako yang dimaksudkan untuk membantu kebutuhan hidup keluarganya.

“Ibu, maafkan aku/Aku ke Monas, tak ijin ibu/Aku ingin buat kejutan/Pulang membawa beras (1)/Sejak lama aku sedih/Kadang aku menangis/Aku lihat ibu semakin susah/Walau ibu menyembunyikannya/”, demikian bunyi awal puisi itu.

“Aku tahu itu soal beras/Sengaja aku makan sedikit saja/Kadang cukup dua kali sehari/Aku ingin membantu dengan caraku sendiri/Menghemat sembako”, lanjut puisi itu.

Pada bagian lain pusinya, Denny JA pun melukiskan bagaimana bocah tersebut ikut acara pembagian sembako di Monas dengan mengajak teman sebayanya dengan tujuan untuk membahagiakan orang tuanya.

“Kemarin ada kupon/pembagian beras di Monas/Aku bahagia sekali/Aku juga tak lapor ke Pak RT (2)/”, bunyi puisi itu.

“Aku ajak temanku/Ia juga ingin buat kejutan/Hadiah Indomie untuk ibunya/Aku 12 tahun,
Temanku 10 tahun/Tapi, asyik,Kecil- kecil sudah bisa dapat beras, dapat indomie/Gratis!/
Kami jingkrak berpelukan/Kami bayangkan betapa ibu akan senang/”, lanjut bunyi puisi tersebut.

Pada bagian berikutnya, puisi Denny JA menggambarkan peristiwa bagaimana dua bocah tersebut tergencet oleh kerumunan orang yang berebut sembako. Akibatnya, bocah itu pun sesak nafas dan lemas. Sayangnya, tak satu pun orang yang peduli dengan kondisi tersebut sehingga kedua bocah ini harus meregang nyawa.

“Aku pingsan (3)/Temanku lebih dulu pingsan/Lalu, Aku terbang ke udara/Dari jauh kulihat badanku sendiri/Kata orang aku sudah mati/Temanku juga mati/Ia terinjak- injak mereka yang antre (4)”, begitu lanjutan puisi itu.

“Ampun Ibu/Aku menangis sekeras-kerasnya/Maafkan aku/Aku ingin buatmu bahagia/
Memberimu hadiah beras/Tapi bukan beras mengejutkanmu/Aku malah tak lagi bisa memelukmu/Ibu malah kehilanganku/”, kutipan puisi berikutnya.

“Maafkan aku, Ibu/Maafkan aku/Tak bisa pulang membawa beras/,” tutup puisi itu. (shn)

Bantu Kami untuk Berkembang

Mari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!


Related posts