Prevalensi Infeksi Aliran Darah Primer pada Pasien Pengguna CDL di Instalasi Hemodialisis RS M. Hoesin Palembang

Selasa, 23 Agustus 2016
Novi Susanti (kanan), Duti yuriszkah (dua dari kanan), Esti Hidayati (kiri), Rts Kurniawaty (dua dari kiri)

Infeksi Aliran Darah Primer (IADP) adalah ditemukannya organisme dari hasil kultur darah dengan tanda klinis yang jelas serta tidak disertai dengan infeksi yang lain, atau dokter yang merawat menyatakan telah terjadi infeksi setelah pemasangan catheter intravaskuler >2×24 jam. Secara klinis, pada IADP terdapat kuman pathogen yang diketahui  hasil satu kali atau lebih dari biakan darah dengan salah satu gejala klinis seperti demam >38 ºC, menggigil, dan hipotensi (Materi PPI RSUP M. Hoesin Palembang, 2015).

IADP sering ditemukan pada pasien yang sudah dipasang alat CVC (catheter vena central). Yakni, kateter vena sentral yang digunakan untuk memungkinkan pengukuran variabel hemodinamik yang tidak bisa diukur secara akurat dengan metode noninvasif, serta digunakan untuk pemberian obat dan nutrisi pendukung yang tidak dapat diberikan secara aman melalui kateter vena perifer. Akan tetapi, CVC ini banyak sekali menyebabkan terjadinya risiko infeksi. Pada penelitian Oncu, et.al. (2003), CVC merupakan faktor penting terjadinya CR-BSI (Central Venous Catheter-Related Blodstream Infection) atau yang sering disebut IADP.

Pengguna CVC jangka panjang, misalnya pasien dengan keganasan yang memerlukan kemoterapi, dialisis, dan penderita yang perlu infus nutrisi dalam waktu lama, sangat berisiko mengalami infeksi dengan insiden cukup tinggi. Hasil penelitian di RS. Dr. Soetomo (2014) menunjukkan, infeksi aliran darah banyak terjadi pada CVC berdiameter 12 mm dibandingkan ukuran lebih kecil, dan terbanyak pada CVC double lument dari pada triple atau quadriple line, sesuai dengan literatur yang  menyebutkan bahwa penggunaan kateter untuk hemodialisis merupakan faktor kontributor terbanyak terjadinya bakteremia pada pasien dialisis. Bahkan, risiko terjadinya bakteremia pada pasien kateter dialisis 7 kali lipat (Septriani Eka, 2014).

Unit Hemodialisis merupakan salah satu tempat dimana sering ditemukannya IADP. Ini karena pasien hemodialisis membutuhkan akses vaskular, baik melalui penggunaan kateter pembuluh darah atau melalui penciptaan fistula dan cangkok. Salah satunya yaitu dipasang alat CVC berupa lument berdiameter 12mm atau sering disebut CDL (catheter double lument). Penggunaan catheter pada pembuluh darah tersebut pada pasien dengan terapi dialisis sangat berisiko terjadinya infeksi.

CDL adalah suatu saluran yang dimasukkan ke dalam suatu vena sentral di daerah leher, dada atau lipat paha. Kateter ini di luar tubuh memisah menjadi dua saluran. Satu saluran digunakan untuk menarik darah dari pasien ke dalam mesin (artery line) dan satu lagi digunakan untuk memasukkan darah dari mesin ke tubuh penderita (venous line). Akses vaskuler ini hanya digunakan jangka pendek sebelum seorang spesialis bedah vaskular membuat AV fistula sebagai akses jangka lama. Akses ini sangat tidak ideal karena dapat menimbulkan berbagai macam komplikasi seperti bekuan darah yang menyumbat akses, infeksi dan jangka lama vena tempat pemasangan kateter akan mengalami penyempitan sehingga tidak dapat digunakan lagi untuk akses hemodialisis.

Dalam upaya meningkatkan mutu pelayanan rumah sakit, khususnya patient safety, dan guna menunjang tercapainya akreditasi JCI, maka sangat diperlukan adanya pembaharuan ilmu baik melalui pelatihan, seminar, maupun penelitian. Penelitian merupakan salah satu penunjang tercapainya akreditasi dan dapat menambah pengetahuan perawat serta seluruh petugas di Rumah Sakit.

Sejauh ini belum terdapat data penelitian tentang prevalensi IADP di Rumah Sakit M. Hoesin (RSMH) Palembang. Karena itu, penulis pun termotivasi melakukan penelitian dengan topik “Prevalensi Infeksi Aliran Darah Primer (IADP) pada Pasien yang Menggunakan Catheter Double Lument (CDL) di Instalasi Hemodialisis RSMH Palembang Tahun 2015”.

Metode Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian survei deskriptif dengan pendekatan potong lintang (cross–sectional). Penelitian dilakukan di instalasi rawat jalan Hemodialisis RSMH, dengan rentang waktu Juni-September 2015.

Sementara itu, populasi penelitian ini yakni seluruh pasien Hemodialisis (rawat jalan dan rawat inap) yang menggunakan CDL selama bulan Agustus 2015 dengan jumlah ±20 orang.

Penentuan besaran sampel dalam penelitian ini menggunakan rumus:

n    = N/1 + N (d2)

Keterangan :

n  = Besar sampel

N = Jumlah populasi

d2 = Tingkat ketepatan (presisi) = 0.01

Dengan menggunakan rumus tersebut, maka diperoleh jumlah sampel dalam penelitian ini yakni sebanyak 17 pasien.

Adapun kriteria inklusi responden yang menjadi sampel pada penelitian ini, yakni a) semua pasien hemodialisis rutin, baik rawat inap maupun rawat jalan, yang menggunakan catheter doublelument (CDL); dan b) bersedia berpartisipasi dalam penelitian.

Pasien yang dijadikan sampel penelitian merupakan pasien hemodialisis yang menggunakan CDL dan sudah terjadwal (rutin) melakukan cuci darah, baik 2x atau 3x seminggu.

Hasil Penelitian

Dalam penelitian ini analisis data dilakukan untuk mengetahui distribusi, frekuensi, dan persentasi dari prevalensi Infeksi Aliran Darah Primer (IADP) yang menggunakan Catheter Double Lument (CDL) di Instalasi Hemodialisis RSMH. Data disajikan dalam bentuk tabel di bawah ini:

Tabel 1. Hasil Laboratorium Sample Darah

NoPemeriksaan 1Pemeriksaan 2Hasil
1.SterilSterilTidak Infeksi
2.SterilSterilTidak Infeksi
3Staphylococcus epidermisSterilTidak Infeksi
4SterilSterilTidak Infeksi
5Staphylococcus epidermisStaphylococcus epidermisInfeksi
6Staphylococcus epidermisStaphylococcus epidermisInfeksi
7Staphylococcus epidermisStaphylococcus epidermisInfeksi
8SterilSterilTidak Infeksi
9SterilSterilTidak Infeksi
10Staphylococcus epidermisStaphylococcus epidermisInfeksi
11SterilSterilTidak Infeksi
12SterilStaphylococcus epidermisTidak Infeksi
13SterilSterilTidak Infeksi
14SterilStaphylococcus epidermisTidak Infeksi
15Staphylococcus epidermisStaphylococcus epidermisInfeksi
16Staphylococcus epidermisStaphylococcus epidermisInfeksi
17Staphilococcus saprophyticusStaphilococcus saprophyticusInfeksi

Tabel 2. Perawatan Luka Pasien Rawat Inap dengan Transparant Dressing

NoJadwal HDLama penggunaan CDLPenggunaan alat perawatan luka CDLKet
12x seminggu< 1 blnTransparant dressingTidak infeksi
22x seminggu< 1 blnTransparant dressingTidak infeksi
32x seminggu< 1 blnTransparant dressingTidak infeksi
42x seminggu< 1 blnTransparant dressingTidak infeksi
53x seminggu≥ 1 blnTransparant dressingInfeksi
62x seminggu< 1 blnTransparant dressingTidak Infeksi
72x seminggu≥ 1 blnTransparant dressingTidak Infeksi
82x seminggu< 1 blnTransparant dressingInfeksi
92x seminggu< 1 blnTransparant dressingInfeksi

Tabel 3. Perawatan Luka Pasien Rawat Jalan dengan Transparant Dressing

NoJadwal HDLama penggunaan CDLPenggunaan alat perawatan luka CDLKet
52x seminggu≥ 1 blnTransparant dressingInfeksi
62x seminggu≥ 1 blnTransparant dressingInfeksi
103x seminggu≥ 1 blnTransparant dressingInfeksi
163x seminggu≥ 1 blnTransparant dressingInfeksi

Tabel 4. Perawatan Luka Pasien Rawat Jalan dengan Kassa Steril

NoJadwal HDLama penggunaan CDLPenggunaan alat perawatan luka CDLKet
82x seminggu≥ 1 blnKassa Steril/hariTidak Infeksi
92x seminggu≥ 1 blnKassa Steril/hariTidak Infeksi
132x seminggu< 1 blnKassa Steril/hariTidak Infeksi
142x seminggu< 1 blnKassa Steril/hariTidak Infeksi

Berdasarkan hasil analisis data tersebut, diperoleh hasil penelitian sebagai berikut:

Pertama, hasil analisis terhadap 17 responden dalam penelitian ini menunjukkan bahwa prevalensi IADP pada pasien yang menggunakan CDL di Instalasi Hemodialisis RSMH didapatkan 41,2% yang mengalami infeksi (7 orang), sedangkan yang tidak mengalami infeksi sebesar 58,8%  (10 orang) dengan standar deviasi 0,507.

Kedua, hasil kuman pathogen yang ditemukan dari kultur darah yaitu Staphylococcus epidermis dan Staphylococcus saprophyticus

Hasil analisis terhadap bakteri Staphylococcus menunjukan bahwa bakteri Staphylococcus dapat menyebabkan infeksi oportunistik (menyerang individu dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah). Pada pasien cuci darah, bakteri ini bisa saja muncul akibat kurang sterilnya perawatan luka pada CDL saat pasien berada dirumah (perawatan mandiri) maupun perawatan di Rumah Sakit. Infeksi Staphylococcus dapat terjadi akibat kontaminasi langsung pada luka, salah satunya yaitu infeksi pasca operasi dalam hal ini yaitu pasca pemasangan CDL pada pasien HD. Infeksi nosokomial juga bisa terjadi dari bakteri ini karena bakteri ini membentuk biofilm pada alat-alat medis di rumah sakit dan menulari orang-orang di lingkungan rumah sakit. Secara klinis bakteri ini menyerang orang-orang yang rentan atau imunitas rendah, pasien kritis, bayi baru lahir, dan pasien yang dirawat dalam waktu lama.

Pasien dengan penanganan cara perawatan luka dan penggunaan alat yang berbeda (tipe lumen CDL, alat penutup luka) maka hasil kultur darah juga berpengaruh. Pasien yang diberikan penyuluhan kesehatan untuk penggantian balutan setiap hari menggunakan kassa kering dengan Alkohol dan betadine didapatkan hasil kultur darah tanpa kuman. Tetapi sebaliknya, pasien yang diganti balutan tidak setiap hari justru berisiko mengalami infeksi baik menggunakan kassa kering maupun transparan dressing.

Peneliti berasumsi bahwa pasien hemodialisis dengan CDL akan beresiko infeksi jika tidak membersihkan balutan luka setiap hari, baik menggunakan kassa steril maupun transparan dressing. Dari penemuan peneliti di lapangan, pasien rawat jalan yang mengganti balutan setiap hari biasanya diajarkan oleh perawat hemodialisis untuk mengganti dengan menggunakan kassa kering dan hasil yang didapat luka CDL tersebut tidak terdapat infeksi.

Umumnya pasien rawat inap diganti balutan lukanya menggunakan transparan dressing yang dilakukan oleh perawat bangsal setiap 5 hari sekali. Akan tetapi, kekurangan dari perawatan transparan dressing ini yaitu sering muncul pus, kemerahan, oedema, sehingga bisa menyebabkan infeksi yang tidak diketahui. Namun, kelebihan dari transparan dressing ini yaitu tidak tembus air, sehingga pasien bisa lebih leluasa dalam beraktifitas. Dengan demikian dapat diasumsikan, balutan luka yang menggunakan kassa steril maupun transparan dressing tetap berisiko terjadi infeksi jika perawatan luka tidak dijaga kebersihannya dan tidak melakukan pemantauan tanda dan gejala infeksi terhadap daerah luka tersebut.

Ketiga, berdasarkan identifikasi pasien dari beberapa variabel pendukung (jadwal HD, lama penggunaan, dan cara perawatan) didapatkan simpulan bahwa pasien yang diberikan penyuluhan kesehatan (rawat inap dan rawat jalan, HD ≥ 1 bulan) untuk mengganti balutan luka setiap hari dengan kassa kering steril hasilnya tidak mengalami infeksi. Sementara pasien yang diganti balutan (rawat jalan dan rawat inap) menggunakan transparant dressing setiap 3-5 hari sekali justru berisiko terjadi infeksi.

Saran

Sehubungan dengan upaya peningkatan patient safety di RSMH, sebagaimana yang menjadi fokus penelitian ini, maka perlu disampaikan beberapa saran sebagai berikut.

Pertama, untuk mencegah dan menekan terjadinya peningkatan angka kejadian IADP di RSMH, perlu dipertimbangkan adanya sosialisasi kebijakan dari Komite Medik bahwa yang melakukan tindakan pemasangan CDL hendaknya dilakukan oleh pihak yang berkompeten di bidangnya.

Kedua, perlu dipertimbangkan tersedianya SOP Perawatan luka CDL yang baku dan yang sesuai dengan standar ketersediaan sarana alat medis di RSMH, serta disepakati bersama sesuai keilmuan dari tim IPCN RSMH.

Akhirnya, penulis berharap hasil penelitian ini dapat menambah pengetahuan untuk seluruh Dokter maupun Perawat di RSMH dalam mencegah terjadinya IADP pada pasien yang menggunakan CDL dan dalam penatalaksanaan perawatan luka CDL, baik di rawat inap maupun rawat jalan (penkes).

Oleh: Esti Hidayanti, Novi Susanti, Duti Yurizkah, dan RTS. Kurniawaty (Perawat RSUP Dr. M. Hoesin Palembang)

Bantu Kami untuk Berkembang

Mari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!


Related posts