Palembang, Sumselupdate.com – Tidak jarang, seseorang merasa minder atau pesimis menatap hidup karena keterbatasan fisik yang dimilikinya. Namun, hal tersebut tidak berlaku bagi Ahmad Musholi (31), tunanetra yang kesehariannya bekerja sebagai terapis pijat urut di Panti Sosial Tunanetra Jln MP Mangkunegara, Palembang ini.
Bagi Musholi, menjadi tunanetra adalah takdir Tuhan yang harus diterimanya dengan lapang dada. Dia pun mengisahkan bahwa tunanetra yang dialaminya bukanlah bawaan dari lahir. Pria asal Desa Tanjung Seteko Indralaya, Ogan Ilir ini menjadi tunanetra akibat kecelakaan yang dialaminya saat naik mobil ketika dirinya berusia 7 tahun.
“Pada tahun 1995, saat usia saya 11 tahun, ada orang dari panti sosial datang ke rumah dan membawa saya ke Panti ini untuk dibina,” ujarnya di sela aktivitasnya sebagai tukang pijat urut di Panti Sosial Tunanetra, Palembang, Sabtu (6/8).
Di panti tunanetra inilah kemudian Musholi mendapat pendidikan dan keterampilan. Kini, akunya, dia telah berkeluarga dan punya satu anak perempuan. Mereka tinggal di rumah kost, tak jauh dari panti sosial tempat ia bekerja.
Saat ditanya apakah dengan menyandang predikat tunanetra, dirinya merasa rendah diri dan dikucilkan masyarakat, dengan tegas dia membantahnya. Musholi malah tidak pernah merasakan kalau dirinya dikucilkan oleh masyarakat selama ini.
“Saya malah sangat bersyukur tertakdir sebagai tunanetra. Tidak ada beban. Saya merasa tidak terisolasi di masyarakat. Bahkan kami merasa di ketengahkan seperti masyarakat umum (normal) lainnya. Itu karena saya merasa ada bekal pendidikan (SMPLB), dan mempunyai ilmu yang bisa dimanfaatkan oleh masyarakat. Saya bisa mengurut, mengaji, dan terkadang juga disuruh menjadi MC”, jelasnya.
Lebih lanjut, Musholi sangat yakin akan firman Allah bahwa dengan ilmu Allah Swt akan mengangkat derajat seseorang.
Seperti masyarakat normal lainnya, ia pun memiliki mimpi hidup. Ia bercita-cita mampu mengangkat kesejahteraan para tunanetra. Suatu saat, dia berharap mempunyai usaha yang maju, yang dapat menggorganisir dan turut membantu kesejahteraan para tunanetra.
“Kami ingin sebagai subjek, bukan objek penerima bantuan. Ingin membantu orang lain. Kalau sekarang ditraktir, ke depan saya ingin yang mentraktir,” harapnya.
Mimpi itu kini pun mulai dirintisnya. Dia bersama rekannya, Septa Iswara dan Anton Wibisono, sejak tiga bulan lalu telah merintis usaha “Jempol Mobile” yang berlokasi di Jalan Pelita No. 10914 Sekip Ujung, HP 082380363772.
“Sementara ini, sudah ada 13 terapis yang semuanya tunanetra telah bergabung di usaha ini. Mohon doanya agar mimpi kami terwujud,” pungkasnya. (shn)











