Kadisnak Sumsel Imbau Masyarakat Beralih Konsumsi Daging Beku

Jumat, 24 Juni 2016
Kepala Dinas Peternakan Sumatera Selatan DR.IR. Amruzi Minha.M.S

Palembang, Sumselupdate.com – Pemerintah masih terus menjaga keseimbangan harga sejumlah kebutuhan pokok, termasuk menekan tingginya harga jual daging sapi di pasar, baik di kabupaten dan kota maupun untuk harga jual di Palembang Sumatera Selatan.

Masih minimnya minat masyarakat untuk mengkonsumsi daging beku dengan berbagai alasan, membuat upaya pemerintah untuk menyeimbangkan harga daging tidak berjalan optimal sesuai yang diharapkan.

Read More

Kepala Dinas Peternakan (Kadisnak) Sumatera Selatan Dr Ir Amruzi Minha. MS,  Jumat (24/6) mengatakan, masih kurangnya minat masyarakat terhadap daging beku menjadi kendala tersendiri terhadap penyeimbangan harga. Hal itu mengacu terhadap masih tingginya harga daging di pasaran.

Disampaikannya, sejak awal bulan Ramadhan harga daging sapi di Sumatera Selatan melonjak  hingga kisaran Rp130.000.

Meski sudah ada Operasi Pasar dan Bulog telah mengelontorkan 9,5 ton daging beku seharga Rp85.000 per kilogram pada operasi pasar, pasar murah, dan bazaar murah, namun harga daging di pasaran tak kunjung  turun.

Selain itu, untuk saat ini sulitnya menurunkan harga daging di pasaran karena panjangnya rantai distribusi serta tingginya permintaan daging segar yang masih diminati oleh masyarakat.

Padahal, menurutnya, daging secara kesehatan lebih baik dikonsumsi setelah melalui proses pembekuan.

“Padahal daging yang bagus itu bukan daging segar. Daging itu harus ditiriskan dulu satu atau dua malam untuk mengeluarkan darahnya lalu dibekukan. Secara kualitas dagingnya akan lebih bagus. Tapi kan orang kita inginnya begitu disembelih langsung dimasak,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia mengimbau agar masyarakat mulai beralih untuk mengkonsumsi daging beku yang secara kualitas lebih baik, di samping harga jual yang diberikan pemerintah juga jauh lebih murah dari harga pasaran.

“Sebagaimana fungsi dan tugas, kami tetap akan melakukan binaan terhadap sejumlah Rumah Pemotongan Hewan (RPH) agar menjalankan fungsinya mengelola pemotongan dengan baik dan sehat,” tegasnya. (adi)

Bantu Kami untuk Berkembang

Mari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!


Related posts