Jakarta, sumselupdate.com – Jumlah korban tewas akibat bencana banjir dan longsor di lima kabupaten di Jawa Tengah, hingga Senin (20/6) sore, bertambah menjadi 47 orang. Sementara 15 orang masih dinyatakan hilang.
“Tim SAR gabungan menemukan lagi empat korban dalam kondisi meninggal dunia. Tiga orang ditemukan di Desa Donorati dan satu orang ditemukan di Desa Caok,” ungkap Juru Bicara Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Sutopo Purwo Nugroho dalam siaran persnya, Senin (20/6).
Kedua desa tersebut berada di kabupaten Purworejo, yang menjadi kabupaten dengan jumlah korban tewas paling banyak, yaitu 31 orang.
Menurut Sutopo, banjir dan longsor pada Sabtu dan Minggu (18-19/6) itu sempat membuat timnya kewalahan untuk mencapai lokasi longsor. Ini karena jalan rusak, kondisi tanah labil, dan potensi longsor susulan masih tinggi jika hujan di bagian hulu.
Namun, jalan rusak itu sudah dapat diperbaiki dan dilalui pada Senin (20/6) pagi. Tiga alat berat pun dapat mencapai lokasi dan digunakan untuk mencari korban.
Saat ini Tim SAR mengerahkan lebih 500 anggotanya untuk mencari 15 korban hilang yang semuanya berada di Kabupaten Purworejo. Para korban terdiri dari 6 orang di Desa Donorati, 8 orang di Desa Caok, dan 1 orang di Desa Jelok. Operasi SAR ditetapkan akan berlangsung hingga seminggu ke depan.
Sementara itu, Kepala BNPB, Willem Rampangilei, menyebut lokasi longsor di Purworejo adalah daerah rawan. Dia mengungkapkan perlu upaya penataan ruang yang berbasis peta rawan longsor sehingga pemukiman tidak boleh dibagun sembarangan.
Pada kesempatan lain, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika, BMKG, mengungkapkan hujan saat musim kemarau yang melanda berbagai wilayah Indonesia terjadi karena pengaruh La Nina, yaitu fenomena mendinginnya suhu permukaan laut di Samudera Pasifik bagian timur.
“Efeknya global, bukan hanya di Indonesia,” tutur A. Fachri Radjab, Kepala Bidang Layanan Informasi Cuaca BMKG, seperti dilansir BBC, Senin (20/6).
BMKG menegaskan kondisi ini akan membuat Indonesia mengalami ‘musim kemarau basah’, yakni hujan yang masih turun saat musim kering, setahun ke depan dengan curah hujan yang berada pada level 15% di atas normal.
Namun, Fachri mengungkapkan curah hujan cukup tinggi dalam beberapa hari terakhir tidak hanya karena efek La Nina, tetapi juga ditambah sirkulasi udara basah dari Samudera Hindia ke Samudera Pasifik.
“Ini sebenarnya selalu terjadi, setiap bulan, tapi karena La Nina, jadi lebih intens (hujannya).”
Fachri menyebut hujan ringan hingga sedang masih akan dirasakan di berbagai wilayah di tanah air dalam seminggu ke depan, terutama di Aceh, Sumatera Barat, Bengkulu, seluruh propinsi di Pulau Sulawesi, Jawa Tengah, Jawa Barat dan Maluku. (shn)











