PALI, Sumselupdate.com – Kepala Dinas Pertanian Kabupaten PALI, Torus Simbolon mengaku pihaknya telah melakukan sosialisasi berkesinambungan kepada petani karet terkait kualitas getah karet yang buruk akibat campuran berbagai macam benda ke dalam balokan karet.
“Pembinaan selalu dilakukan, namun perilaku seperti ini sangat sulit dibenahi, mengingat ini merupakan kebiasaan masyrakat kita. Kami terus membandingkan mana hasil yang bagus dan yang buruk serta apa dampak dari semuanya,” kata Torus saat di bincangi, Selasa (2/5/2017).
Ia juga berharap masyarakat mau bermitra agar ada ikatan yang bertujuan baik untuk mereka sendiri, sebab mereka masih menjual bebas karet yang dihasilkan dan tidak ada standar khusus, yang membuat salah satu faktor terjadinya perilaku buruk untuk hasil karet.
“Kita juga mempunyai koperasi-koperasi yang bermitra dengan masyarakat dan mempunyai standar khusus serta memiliki Kandungan Karet Kering (K3) yang sesuai dengan pasaran luar,” tambahnya.
Torus juga menambahkan, pola pikir yang tertanam pada masyarakat kita, semakin berat semakin mahal. Sehingga, pada pelaksanaannya campuran benda seperti tanah, air, kain, serbuk kayu dan lain-lain dicampurkan ke dalam balok getah karet.
“Sebenarnya, standar harga karet nasional itu berdasarkan Kandungan Karet Kering (K3). Namun di PALI tidak seperti itu, yang penting berat, maka semakin mahal tanpa memperdulikan kualitas karet,” tandasnya.
Terpisah, Yamin (36) salah satu petani karet di Kabupaten PALI mengaku terpaksa memasukkan campuran tanah dan air ke dalam getah karet untuk menambah berat.
“Cak mano dek, kalu dak cak itu idak berat karet kami. Hargo lah murah, timbangan idak berat pulo. Rugi jadi kami,” bebernya. (adj)











