4 Bulan Tak Turun Hujan, OKU Dilanda Kemarau Panjang, Bupati Gelar Shalat Istisqa dan Ajak Warga Cegah Karhutla

Writer: - Kamis, 27 Agustus 2026
Bupati OKU H Teddy Meilwansyah bersama masyarakat dan santri melaksanakan Shalat Istisqa di halaman Pesantren Alfakhriyah, Kamis (27/8/2026), sebagai ikhtiar memohon hujan di tengah kemarau panjang dan mencegah ancaman Karhutla. (Foto; Sumselupdate.com/Istimewa)

Baturaja, Sumselupdate.com – Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) sudah sekitar empat bulan tidak diguyur hujan. Kondisi tersebut mulai memicu kekeringan di sejumlah wilayah dan meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).

Sebagai bentuk ikhtiar menghadapi kemarau panjang, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) OKU bersama Majelis Ulama Indonesia (MUI), Kementerian Agama (Kemenag), masyarakat dan santri menggelar Shalat Istisqa atau sholat meminta hujan.

Read More

Shalat Istisqa dilaksanakan di halaman Pesantren Alfakhriyah, Kamis (27/8/2026).

Kegiatan tersebut menjadi ikhtiar bersama untuk memohon kepada Allah SWT agar segera menurunkan hujan, sekaligus menjadi momentum mengajak masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman Karhutla.

Bupati OKU H Teddy Meilwansyah mengatakan, Shalat Istisqa dan doa bersama juga dilakukan sebagai upaya memohon perlindungan dari berbagai dampak kemarau, termasuk kebakaran hutan dan lahan.

Menurutnya, sejumlah daerah mulai menghadapi kebakaran hutan akibat kondisi kering dan minimnya curah hujan.

“Seperti kita ketahui bersama, di beberapa daerah seperti Kalimantan dan Kabupaten Ogan Ilir sudah terkena dampak kebakaran hutan akibat tidak adanya curah hujan. Jadi dengan adanya kegiatan shalat bersama dan doa bersama ini, semoga Allah mengijabah doa kita bersama sehingga diturunkannya hujan di OKU,” kata Teddy.

Bupati OKU Ingatkan Warga Jangan Bakar Lahan

Selain mengajak masyarakat berdoa, Teddy mengingatkan seluruh warga OKU agar tidak membuka lahan dengan cara membakar.

Menurutnya, kebakaran hutan dan lahan tidak hanya merusak kawasan hutan dan lingkungan, tetapi juga dapat menurunkan kualitas udara yang berdampak langsung terhadap kesehatan masyarakat.

“Ayok sama-sama jaga hutan di OKU, jangan memulai untuk menggerakkan orang lain membuka lahan dengan cara membakar,” tegasnya.

Teddy mengajak seluruh lapisan masyarakat ikut menjaga lingkungan dan mencegah munculnya titik api selama musim kemarau.

“Mari kita jaga OKU dari kebakaran hutan dan lahan sehingga kualitas udara di OKU tetap baik dan terhindar dari kabut asap,” katanya.

Kemarau Panjang Tingkatkan Risiko Karhutla

Kondisi kemarau yang berlangsung selama beberapa bulan membuat sebagian wilayah OKU mulai mengalami kekeringan.

Situasi tersebut menjadi perhatian karena lahan yang semakin kering lebih mudah terbakar apabila terkena sumber api.

Pemkab OKU pun mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan dan tidak melakukan aktivitas yang dapat memicu kebakaran.

Melalui Shalat Istisqa, pemerintah dan masyarakat tidak hanya berharap hujan segera turun, tetapi juga menguatkan kesadaran bersama untuk menjaga lingkungan.

Turunnya hujan diharapkan dapat mengakhiri kekeringan, membantu memulihkan ketersediaan air serta mengurangi risiko Karhutla dan kabut asap di wilayah OKU.

(**)

Bantu Kami untuk Berkembang

Mari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!


Related posts