Ambon, sumselupdate.com – Gempa tektonik yang mengguncang Pulau Ambon dan sekitarnya selama 16 hari terakhir belum juga reda. Hingga Jumat (11/10/2019) pukul 10.00 WIT, total kejadian gempa tercatat sebanyak 1.363 kali dengan jumlah yang dirasakan sebanyak 157 kali.
Demi alasan keselamatan, kegiatan belajar-mengajar semua sekolah di kota itu diliburkan selama 10 hari, terhitung sejak Jumat ini.
Kegiatan belajar-mengajar di Ambon mulai terganggu sejak gempa pertama bermagnitudo 6,5 yang terjadi pada Kamis (26/9) pukul 08.46 waktu setempat. Hari-hari selanjutnya, gempa susulan terus terjadi. Setiap kali terjadi gempa, siswa dan guru berhamburan keluar. Orangtua panik dan datang menjemput anak mereka di sekolah.
Kondisi ini masih sangat mengkhawatirkan. Pemkot Ambon dan Pemprov Maluku memutuskan untuk libur dan kembali masuk tanggal 21 Oktober.
Kepanikan terlihat kembali pada Kamis (10/10) kemarin. Gempa susulan yang berpusat di daratan Pulau Ambon bermagnitudo 4,5 itu sangat terasa guncangannya. Getarannya mencapai skala V MMI. Warga kota itu panik. Anak-anak sekolah berlari keluar ruangan. Jalanan macet oleh kendaraan yang bergerak menuju daerah ketinggian. Warga khawatir terjadi tsunami.
“Kondisi ini masih sangat mengkhawatirkan. Pemkot Ambon dan Pemprov Maluku memutuskan untuk libur dan kembali masuk tanggal 21 Oktober. Tentu nanti akan dilihat perkembangan kegempaan seperti apa. Gempa yang tidak bisa diprediksi membuat kondisi ini semakin tidak menentu,” kata Wakil Wali Kota Ambon Syarif Hadler.
Ia mengatakan, jika gempa susulan masih terus terjadi, pemerintah akan mencari solusi terbaik agar kegiatan belajar tetap berlangsung dan tidak membahayakan. Salah satunya adalah kegiatan belajar dilakukan di luar gedung. Sejumlah gedung sekolah dilaporkan mengalami keretakan dan berpotensi roboh jika terus diguncang gempa.
Warga semakin panik dengan beredarnya kabar bohong atau hoaks yang menyebutkan bahwa Ambon dan sekitarnya akan dilanda gempa besar dan tsunami. Klarifikasi yang dilakukan lewat media arus utama, media sosial, dan imbauan tampaknya tidak mempan menangkal kabar bohong itu.
“Dulu Ambon pernah kena gempa besar dan tsunami. Ini yang buat kami sangat takut,” kata Crist Sitanala, seorang warga. (adm3/kcm)











