Laporan: Diaz Erlangga
Banyuasin, Sumselupdate.com – Menilik potensi Gulo Puan atau Gula Susu yang dikenal memiliki Glikemik lebih rendah dari gula pasir biasa, menjadi potensi besar sebagai penghasilan masyarakat di Kecamatan Rambutan Banyuasin, yang mayoritas masyarakatnya merupakan peternak kerbau dan sapi.
Untuk diketahui Gulo Puan atau gula susu merupakan produk olahan yang berasal dari susu kerbau. Gulo Puan juga dapat dijadikan alternatif pemanis alami pada makanan.
Menurut The Philippine Food and Nutrition Reseacrh Institute, Gulo Puan memiliki indeks glikemik 35 atau tergolong rendah (<55), bila dibandingkan dengan gula pasir yang memiliki indeks glikemik 64 atau nyaris tinggi (>70), sehingga Gulo Puan terbilang cukup baik dikonsumsi bagi penderita diabetes atau bagi mereka yang ingin menjaga kesehatan.
Gulo Puan yang memiliki warna lebih kecoklatan dan aroma yang khas dari susu kerbau dinilai lebih alami, jika dilihat dari proses pengolahan hingga hasil, tidak menggunakan bahan atau zat zat kimia serta masih menggunakan tenaga manual.

Dimulai dengan proses perah susu kerbau yang dilakukan pada pagi hari, diawali dengan penekun Gulo Puan mensterilkan tangannya dengan dicuci pada air hangat.
Dilanjutkan dengan mengoleskan puting kerbau dengan minyak kelapa secukupnya yang difungsikan agar memudahkan proses pemerahan serta menghidari luka pada puting saat di perah hingga habis.
Setelah selesai memerah susu hasil perahan disaring dengan kain bersih untuk memisahkan bulu, kotoran, setelah itu susu dipindahkan kedalam wadah atau kantung plastilk yang bersih.
Hasil perahan tersebut selanjutnya dimasak dengan api kecil atau sekedar bara menggunakan wajan yang bertujuan untuk menghindari air susu basi.
Proses pemasakan susu kerbau dilakukan hingga susu mengering dan berubah warna menjadi kecoklatan dengan terus di aduk menghindari susu mengerak atau gosong.

Proses pemasakan hingga mengering ini bisa memakan waktu dua jam lebih, dimana selama proses pemasakan api yang digunakan tetap dijaga dalam kondisi konstan.
Setelah mengering dan berubah warna kecoklatan menandakan gulo Puan telah jadi itu dibiarkan mendingin setelahnya dikemas menggunakan plastik.
Terlepas itu, observasi yang dilakukan oleh mahasiswi pgri dari Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas PGRI Palembang, yang teridiri dari dua mahasiswi yakni Dinda Putri Thahara, Lisa Monica, dan satu Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas PGRI Palembang, yaitu Fitri Wulandari.
Dalam observasi produksi Gulo Puan yang ada di Kecamatan Rambutan, menemukan beberapa masalah dalam produksi yang menjadi mata pencarian sampingan oleh masyarakat setempat.
Yang paling mencolok adalah Sumber Daya berupa rendahnya produktivitas kerbau perah yang dipelihara peternak, karena mutu genetik atau bibit kerbau perahnya rendah, juga karena manajemen budidaya ternak dan kualitas pakan yang diberikan tidak memadai.
Selain itu tidak semua peternak di Kecamatan Rambutan, yang memanfaatkan atau memproduksi Gulo Puan. Bahkan tak sedikit pula pengrajin Gulo Puan bukan seorang peternak namun para wanita lansia.
Selanjutnya, permasalahan yang ditemukan adalah kuantitas produksi Gulo Puan yang masih minim mengingat produksi Gulo Puan masih menggunakan tenaga manual dan kualitas produksi yang ditentukan dari ketekunan dari pengrajin.
Secara ekonomis produksi gula perhari dari satu orang pengrajin hanya mampu menghasilkan tiga kilogram gula puan, yang dihargai Rp100 ribu rupiah per kilogram-nya.
Sebagai penghasilan tambahan rumah tangga, produksi gulo puan yang mayoritas dikerjakan oleh ibu rumah tangga dapat ditingkatkan dengan pemasaran gulo Puan yang diperluas, dan upaya produksi massal menggunakan alat alat modern untuk meningkatkan kualitas produksi. Serta juga keterlibatan anak muda, dalam melestarikan budidaya pengolahan susu perah dari hewan ternak kerbau. (**)











