Baturaja, sumselupdate.com – Daya ikat sosial bangsa Indonesia saat ini sudah merenggang. Sehingga tak heran, kerap menimbulkan pertikaian yang seolah tidak ada habisnya. Kalau ini dibiarkan, bisa jadi ikatan sosial ini mengalami amblas secara sosial.
Demikian disampaikan Yudi Latief, PhD, saat menjadi narasumber Seminar Nasional dalam rangka HUT PGRI ke 73 dan Hari Guru Nasional 2018, di Gedung Kesenian Baturaja.
Mengapa itu bisa terjadi? Karena dunia pendidikan kita, terkhusus di sekolah-sekolah, kerap kali hanya menekankan pengetahuan-pengetahuan tertentu dan mengabaikan dimensi kecakapan. Padahal, dimensi itu sangat penting.
“Makanya, semua menjadi ‘sakit’. Wakil rakyat, birokrasi kenegaraan, bahkan ormas keagamaan yang menjadi pemasok moral, juga mulai ikut-ikutan sakit,” papar Yudi di hadapan ratusan guru se Kabupaten OKU yang mengikuti seminar itu.
Itulah, kata Yudi, problem-problem dari dunia pendidikan di Indonesia hari ini, yang kebanyakan hanya mengejar skor pengajaran pada pengetahuan-pengetahuan tertentu saja. Sementara, di saat yang sama kita menghadapi masalah solidaritas sosial.
Padahal menurut Ki Hajar Dewantara, lanjut Yudi menjelaskan, bahwa pendidikan adalah proses belajar untuk menjadi manusia seutuhnya dengan belajar dari kehidupan sepanjang hayat.
“Jadi pendidikan bukan hanya mengajari untuk tahu mengenai ilmu pengetahuan. Tapi harus punya kepekaan, perasaan, punya etika sosial, punya kesusilaan, budi pekerti, untuk mengembangkan kehidupan menjadi lebih harmoni,” ujarnya.
Karena itulah, ia mengingatkan agar para guru dapat memperhatikan dan mengajarkan 4 dimensi pendidikan kepada siswa-siswi.
Pertama, Learning To Be (belajar jadi diri sendiri), kedua Learning To Know (belajar tahu), ketiga Learning To Do (belajar terampil), dan keempat Learning To Live Together (belajar untuk hidup bersama).
“Kalau dilihat, dimensi pertama dan keempat itu adalah pendidikan karakter. Agar kelak para siswa dapat tegak lurus diatas kediriannya sendiri,” katanya.
Oleh karenanya, sudah menjadi tugas guru untuk menumbuhkan rasa percaya diri para siswanya. Dan juga harus mampu mendeteksi keragaman anak-anak.
“Manusia inikan punya jalan masing-masing untuk maju. Nah ini perlu ditekankan pada siswa agar mereka dapat menemukan kelebihan masing-masing. Membentuk dirinya tahu akan dirinya, dan menjadi menjadi diri yang berkarakter,” ujarnya.
Dengan pendidikan karakter, itu akan dapat menautkan kebaikan pribadi menjadi kebaikan bersama, sehingga berujung harmoni dalam kebersamaan.
“Yang perlu diingat, bahwa moral bukan ditangkap dengan hafalan, tapi Keteladanan,” demikian Yudi.
Seminar tersebut dibuka oleh Sekretaris Daerah (Sekda) H A Tarmizi mewakili Bupati OKU. Dengan moderator, Sofian Saleh (Caleg DPR RI asal PDIP).
Berdasarkan laporan dari Kepala Dinas Pendidikan OKU, Paranto, sedikitnya ada 860 guru ikut seminar itu sebagai peserta. Mereka dari berbagai tingkatan sekolah di OKU. (wid)











