Baturaja,sumselupdate.com – Keberadaan kantor atau instansi pemerintah atau lainya apalagi berhubungan dengan urusan masyarakat banyak, seharusnya dipermudah bukan sebaliknya. Hal ini nampak terlihat saat kita hendak masuk ke kantor Bulog Sub Divre III OKU yang berlokasi di kawasan Jalan A Yani Lintas Sumatera Kemelak, Baturaja.
Pasalnya, untuk sekadar konfirmasi saja sulitnya minta ampun. Dari luar, kantor ini tampak seperti kantor kebanyakan, layaknya kantor Bupati termasuk Makodim dan Mapolres. Dikatakan nyaris sama, karena sebelum masuk kantor ini ada pos penjagaan, termasuk portal. Yang membedakannya hanya soal portal itu tadi.
Tidak seperti di kantor bupati atau Makodim, portal di kantor Badan Urusan Logistik ini selalu melintang alias tertutup tiap hari kerja. Bisa dikatakan, masuk ke kantor ini layaknya masuk ke areal tambang yang penuh dengan resiko, dan seolah penuh kerahasiaan.Jadi, butuh proses panjang untuk masuk ke kantor Bulog Sub Divre III OKU itu. Siapapun Anda, dipastikan akan berhadapan dulu dengan satpam jaga.
Disitu Anda akan diinterogasi terlebih dahulu. Walaupun Anda tahu Kepala Bulog ada di dalam, dipastikan sulit bertemu dengan orangnya.Ini yang dialami Erwin, salah satu wartawan yang bertugas di OKU. Padahal kepentingannya hanyalah ingin wawancara.Informasi yang berhasil dihimpun, portal tersebut sengaja selalu ditutup, karena kabarnya orang-orang di dalam kantor tersebut “ringam” dengan banyaknya tamu dari kalangan wartawan dan LSM.
Kondisi tersebut disesalkan Direktur Eksekutif Lembaga Swadaya Masyarakat OKU Raya Corruption Watch, Herman S.Menurut Herman, Sekarang zamannya transparan, tidak Zamannya lagi kantor apalagi pejabatnya menutup diri dan menutup informasi.”Ngapain mau tertutup. Kalau orang datang dengan kepentingan yang jelas, ya terima saja. Saya juga melihat kantor Bulog itu, memang sepertinya sangat tertutup. Kayak mau masuk ke areal tambang saja. Kantor bupati San Makodim saja ada portal, tapi tidak ditutup macam itu,” cetusnya.
Alangkah baiknya lanjut Herman, portal tersebut dibuka saja. Sebab jika ditutup, tidak menunjukkan sikap transparan. Yang ada menunjukkan kesan seolah banyak rahasia dan banyak masalah. “Saat ini bukan lagi zamannya tertutup, tapi zamannya keterbukaan informasi publik. Ya, Kalau tamunya macam-macam, atau nekat menekan bahkan mengancam, laporkan dong,” katanya.
Pantauan di lapangan, keberadaan portal ini nampak semakin terkesan tertutup lantaran setiap warga yang hendak masuk harus melewati pemeriksaan dan sebelum ada ijin yang jelas maka portal itu tidak akan dibuka, bahkan disisi kiri dan kanan terdapat pos penjagaan yang menamabah kesan tertutup.
“Maaf Pak ada keperluan apa,” ucap petugas jaga menanyakan keperluan yang jelas, jika tidak maka tidak diijinkan itu pun walau diijinkan kita harus punya janji dahulu baru bisa bertemu para petugas atau karyawan kantor di sana. (yan)











