Viral Atasi Pendaki yang Alami Hipotermia dengan Cara Disetubuhi, Dokter: Itu Berlebihan

Selasa, 23 Juli 2019
Ilustrasi pendaki.

Jakarta, Sumselupdate.com – Di media sosial ramai soal cerita penanganan Hipotermia oleh seorang pendaki di Gunung Rinjani.

Disebut bahwa pendaki tersebut menolong teman wanitanya yang mengalami hipotermia dengan cara disetubuhi.

Read More

“Gw prnah ada kasus cwek hipotermia hampir mninggal di gunung rinjani, segala cara udh dicoba tpi cewek ini gak membaik, akhirnya ada anak mapala yg berpengalaman yg nyaranin untuk menyetubuhi cewek ini agar suhu tubuhnya hangat…,” cuplikan cerita tersebut.

Apakah cerita benar terjadi atau hanya guyonan tidak diketahui pasti. Namun tangkapan layar cerita beredar di media sosial ramai jadi perbincangan netizen. Ada yang menyebut cerita tersebut salah kaprah terkait metode penghangatan skin to skin.

Hipotermia sendiri adalah kondisi yang terjadi ketika suhu tubuh turun di bawah normal secara drastis. Normalnya suhu tubuh berada di kisaran 36-37 derajat celcius, nah bila terlalu rendah maka ada risiko terjadi penurunan fungsi organ vital.

dr Wisnu Pramudito D Pusponegoro, SpB dari Perhimpunan Dokter Emergensi Indonesia (PDEI) menjelaskan bahwa untuk mengatasi hipotermia pada dasarnya ada dua cara.

Pertama adalah dengan penghangatan aktif (active warming) yaitu dengan mengaplikasikan sumber panas eksternal ke tubuh dan cara kedua penghangatan pasif (passive warming) yaitu mempromosikan panas dari dalam tubuh lewat lingkungan.

Metode penghangatan aktif contohnya dilakukan oleh dokter pada kasus hipotermi berat dengan operasi memasukkan cairan penghangat ke rongga tubuh. Sementara itu passive warming dilakukan menggunakan selimut, pakaian tebal, hingga mengonsumsi minuman hangat.

“Kalau hipoterminya ringan sampai sedang itu dengan cara pasive warming disuruh minum hangat, pakaian lembab atau basah diganti yang kering, kemudian diselimutin,” kata dr Wisnu Pramudito D Pusponegoro, SpB dari Perhimpunan Dokter Emergensi Indonesia (PDEI) kepada detikHealth, Selasa (23/7/2019).

“Kalau menurut saya sih berlebihan skin to skin,” ujarnya.

Menurut dr Wisnu, metode skin to skin biasanya hanya dilakukan oleh ibu pada anak yang baru lahir. Alasannya karena permukaan kulit ibu yang lebih luas dari bayi bisa memindahkan panas tubuh dengan aman.

“Kalau skin to skin dengan luas permukaan kulit yang sama, penolong bisa ikut hipotermi. Memang panasnya dia mengalir tapi dingin juga akan ikut mengalir. Itu enggak boleh. Penolong tidak boleh jadi korban berikutnya,” papar dr Wisnu.

Senada dikatakan dr Prayoga Noor Hakim. Dia menyebut malah ada risiko bahaya terjadi gangguan ritme jantung pada korban hipotermia.

“Bersetubuh malah ga boleh sebenarnya, karena untuk skin to skin rewarming-nya aja mesti gentle bahkan gak boleh di-massage… Kalau bikin gerakan yang unnecessary bisa trigger makin parah kalau udah ada gangguan ritme jantung,” kata dokter internship di RSUD Kemayoran ini. (dth/hyd)

Bantu Kami untuk Berkembang

Mari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!


Related posts