Tolak BOT Pasar Cinde Melalui Petisi #savepasarcinde

Para anggota komunitas #savepasarcinde yang tergabung dari berbagai kalangan seperti, pedagang, arsitektur, arkeolog, seniman dan lain-lain mengikrarkan petisi itu di halaman Prodi Teknik Arsitektur Universitas Sriwijaya Palembang, Kamis (16/6).

Palembang, Sumselupdate.com – Para anggota komunitas #savepasarcinde yang terdiri dari berbagai kalangan seperti pedagang, arsitektur, arkeolog, seniman dan lain-lain mengikrarkan petisi itu di halaman Prodi Teknik Arsitektur Universitas Sriwijaya Palembang, Kamis (16/6).

Petisi yang sudah ditandatangani oleh ribuan orang itu, rencananya bakal dikirim tembusannya hingga ke Presiden Joko Widodo.

Bacaan Lainnya

Masyarakat pecinta Pasar Cinde berharap, pemerintah Sumsel tidak jadi melakukan Built, Operate and Transfer (BOT) atau bangun guna serah terhadap pasar legendaris kebanggaan warga Palembang tersebut.

Jika nantinya direvitalisasi, dikhawatirkan dapat menghilangkan nilai historis pasar yang telah dibangun sejak tahun 1958 itu.

Menurut mereka, Pasar Cinde termasuk ke dalam cagar budaya Palembang yang harus dijaga dan dirawat dengan baik.

Zubair Angkasa, juru bicara #savepasarcinde mengatakan melalui petisi itu arsitektur dan masyarakat Sumsel lainnya berharap agar rencana pemerintah merelokasi Pasar Cinde pada tahun 2016 ini dibatalkan dan menyelamatkan salah satu cagar budaya di Palembang.

“Kita harus selamatkan Cinde. Jangan sampai nanti bakal ada cagar budaya yang dihilangkan lagi. Sebagai kota tertua, Palembang cukup miris lantaran memiliki cagar budaya sedikit dibandingkan daerah lain,” katanya.

Menurutnya, petisi tersebut didukung oleh banyak pihak, di antaranya IAI, Badan Arkeologi, dan sejumlah tokoh masyarakat yang secara mandiri memberikan dukungannya.

“Tujuan petisi ini agar terjadi dialog antara masyarakat dengan pemerintah. Tetapi dengan tujuan untuk menyelamatkan Pasar Cinde, tanpa merubahnya sama sekali,” katanya.

Menurutnya, secara arsitektural Pasar Cinde sangat istimewa, rancangannya khas berupa kolom-kolom cendawan yang menunjang atap dan plafonnya.

“Kolom-kolom cendawan ini buah pikiran Thomas Karsten, juga menjadi ciri khas Pasar Johar (Semarang) yang terbakar dan Pasar Bulu serta Pasar Jatingaleh yang telah digusur. Kini, Pasar Cinde merupakan satu-satunya pasar di seluruh Indonesia yang masih memiliki kolom-kolom cendawan penopang yang menggambarkan pepohonan yang biasanya melindungi banyak pasar tradisional di Indonesia,” jelasnya.

Dari petisi yang dijalankannya, mereka berharap revitalisasi Pasar Cinde Palembang ini dapat dibatalkan mengingat Pasar Cinde merupakan Cagar Budaya yang harus dijaga. Penolakan revitalisasi Pasar Cinde juga digalakkan gabungan komunitas Save Cinde melalui petisi online di laman www.change.org.

Sejak petisi tersebut dimulai hingga kini telah tercatat 1.488 yang menandatangani petisi penolakan yang ditujukan kepada Presiden RI, Gubernur Sumsel, Walikota Palembang dan seluruh masyarakat Palembang dan Indonesia tersebut.

Sedangkan Ketua Komunitas #savepasarcinde yang juga arkeolog dari  Balai Arkeologi Palembang, Retno Purwanti, menilai Pasar Cinde Palembang secara arkeologis-historis, termasuk kategori monumen kontemporer yang merekam perubahan konsep pasar dan perdagangan dalam masyarakat Palembang.

Usianya yang melebihi 50 tahun dan rancang bangunannya yang unik membuat Pasar Cinde termasuk dalam kategori bangunan yang diduga sebagai benda cagar budaya, sesuai kriteria Bangunan Cagar Budaya menurut UU No. 11 Tahun 2010, pasal 5.

Dengan begitu, lanjut Retno, sesuai pasal 75 ayat 1 kawasan, bangunan atau benda yang diduga cagar budaya harus diperlakukan layaknya cagar budaya.

“Di pasal 11, juga begitu kalau di masyarakat dinilai punya kekhususan saja harus mendapat perlakukan seperti cagar budaya. Pasar Cinde itu sama dengan Jembatan Ampera, Bukit Siguntang,” katanya .

Bukan hanya Pasar Cinde, pihaknya juga mengajak masyarakat menggali cagar budaya lainnya untuk segera didaftarkan sebagai cagar budaya.

“Walaupun pasar Cinde belum ditetapkan sebagai cagar budaya ini sudah terakreditasi sebagai cagar budaya. Saya pikir tinggal menunggu resminya saja karena sudah diperlakukan sebagai cagar budaya,” katanya.

Selain itu, pasar Cinde dinilai sebagai penanda moderenisme pertama Kota Palembang. “Baru berikutnya ada Jembatan Ampera,” katanya.

Vebri Alintani, Ketua Dewan Kesenian Palembang, menilai selama ini mengapresiasi gerakan ini karena seluruh elemen ada dan berharap dengan gerakan ini menjadi awal guna penyelamatan cagar budaya di Sumsel agar jangan sampai lagi ada pemusnahan atau pengubahan cagar budaya di Kota Palembang,”Ini bukan hanya masalah budaya, juga masalah sosial,” katanya.

Selain itu, menurutnya, pasar Cinde secara materil hukum merupakan cagar budaya walaupun belum disertifikatkan sebagai cagar budaya.

“Seperti anak, dia warga Negara Indonesia walaupun belum ada akte kelahiran saja, tapi dia mendapatkan hak,” katanya.

Sedangkan Dedek Chaniago dari Pusat Informasi dan Advokasi Pedagang Cinde mengatakan, pihaknya lebih memberikan pendampingan dan penyadaran pedagang pasar Cinde kalau pasar Cinde ada masalah sosial dan ada masyarakat yang mencari makan di pasar Cinde.

“Kami terima kasih ketika muncul kawan-kawan lain memberikan masukan secara ilmiah, yang itu di lapangan kami tidak menguasainya. Ketika kami dengar ada gerakan lebih besar lagi menyelamatkan pasar Cinde, kami lebih semangat lagi. Kami lebih kepada nasib pedagang pasar Cinde, ini awal penyelamatan aset-aset budaya Kota Palembang ,” katanya.

Sementara itu, Sekda Sumsel H Mukti Sulaiman mengakui, ada perbedaan persepsi dalam melihat pasar Cinde ini.

“Ada Kementerian Perdagangan RI yang menilai pasar Cinde bukan cagar budaya, tapi pasar tua. Tapi memang pasar Cinde belum masuk cagar budaya,” katanya ketika ditemui usai rapat paripurna DPRD Sumsel, Kamis (16/6).

Mukti memastikan kalau pasar Cinde bukan masuk bangunan cagar budaya dan BOT pasar Cinde tetap akan dilanjutkan. (ery)

Yuk bagikan berita ini...

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.