Muaraenim, Sumselupdate.com – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) dan Pertanahan Provinsi Sumatera Selatan menurunkan tim untuk mengecek Sungai Kiahan di Kecamatan Lawang Kidul, Kabupaten Muaraenim yang diduga tercemar limbah ekploritasi penambangan PT Bukit Asam (PTBA), Kamis (1/3/2018).
Dalam meneliti dan mengambel sampel air sungai yang diduga tercemar limbah tambang tersebut, tim Dinas LH dan Pertanahan Sumsel ini didampingi petugas dari Dinas LH Kabupaten Muaraenim.
Kasi Pengaduan, Sengketa dan Penegakan Hukum DLH Sumsel Yulkar Pramilus mengatakan, tujuan mereka datang untuk mencari fakta dengan mengambil sampel di lapangan terkait laporan masyarakat mengenai dugaan pencemaran Sungai Kiahan.
“Kami melakukan penelusuran, dari hulu hingga ke hilir sungai. Kita mencari fakta sesuai kriteria yang diatur dalam UU,” kata Yulkar saat disambangi di RM Tahu Sumedang Lawang Kidul.
Diungkapkan Yulkar, dari pengecekan di lapangan, kadar air sungai di hulu sungai Kiahan pH-nya 5. Dan, pada kolam PTBA setelah keluar ke sungai nilai pH-nya 7.
“Untuk penggabungannya, kita masih telusuri lagi. Sebab, kalau di standar lingkungan, jika melebihi 0,1 mg/l saja ppm itu bisa masuk penegakan hukum,” tukasnya.
Terpisah, Direktur Produksi PTBA, Eko Suryo didampingi GM UPTE PTBA Suhedi, saat dikonfirmasi membenarkan adanya tim dari DLH Provinsi dan DLH Muaraenim melakukan pengecekan Sungai Kiahan.
Menurut Eko, memang sudah tugas DLH untuk melakukan pengecekan dan pembinaan perusahaan tambang terhadap lingkungan.
“DLH maupun instansi pemerintah lain memang tugasnya untuk melakukan pembinaan. Bagi kami selaku institusi di bawah binaan mereka, kami merasa senang. Karena dengan demikian mereka benar-benar tahu apa yang telah kami lakukan. Kalau memang kami salah, kami siap ditegur. Dan kami sangat terbuka untuk melakukan perbaikan,” ungkap Eko.
Dijelaskan Eko, pihaknya tidak ada pembiaran terkait dugaan pencemaran di Sungai Kiahan. Namun menurutnya, karena intensitas hujan yang tinggi sehingga menyebabkan air di Kolam Penampungan Limbah (KPL) melimpah.
“Tidak ada pembiaran. Namun karena intensitas hujan saat itu sangat tinggi, mungkin teman-teman kewalahan menahannya sehingga ada limpahan seperti itu. Kami tidak ingin sembunyi dan menyalahkan iklim. Setelah mendapat laporan tersebut, anda bisa melihat treatment yang kami telah lakukan seperti apa,” lanjutnya.
Sementara itu, GM UPTE PTBA Suhedi mengatakan jika turunnya kualitas air Sungai Kiahan bukan hanya disebabkan oleh aktivitas pertambangan.
Sebab menurutnya, di hulu Sungai Kiahan kondisi airnya lebih keruh setelah diguyur hujan.
“Saat hujan, banyak aliran air yang menuju sungai. Dan di bagian hulu, kondisi air malah lebih keru. Artinya, bukan hanya semata-mata dari tambang,” tukasnya. (azw)











