Ramadhan di Bawah Bayang-Bayang Konflik, Gaza dan Tepi Barat Bersiap dalam Suasana Duka

Writer: - Rabu, 18 Februari 2026
Seorang pria berjualan di sebuah pasar menjelang Ramadan di Gaza City pada 28 Februari 2025. (Xinhua/Rizek Abdeljawad)

Gaza, Sumselupdate.com – Warga Palestina di Jalur Gaza dan Tepi Barat bersiap menyambut bulan suci Ramadhan yang diperkirakan dimulai pada 18 atau 19 Februari. Namun, suasana penyambutan tahun ini kembali dibayangi konflik berkepanjangan dan kondisi kemanusiaan yang kian memburuk.

Di Gaza, meski gencatan senjata diberlakukan sejak Oktober 2025, kekerasan belum sepenuhnya berhenti. Otoritas kesehatan setempat mencatat ratusan korban jiwa sejak kesepakatan itu berlaku. Serangan terbaru yang terjadi akhir pekan lalu kembali menelan korban dan memicu kekhawatiran warga.

Read More

Pasar-pasar yang biasanya ramai menjelang Ramadhan kini tampak lengang. Di Pasar Zawiya, Gaza City, banyak lapak kosong dan barang dagangan menumpuk tanpa pembeli.

Sameh al-Bitar, pemilik toko rempah berusia 40 tahun, mengaku sulit merasakan suasana Ramadhan seperti tahun-tahun sebelumnya.

“Dulu jalanan penuh lampu dan hiasan. Orang-orang saling berkunjung dan berbuka bersama. Sekarang semuanya terasa sunyi,” katanya. Ia juga mengungkapkan kehilangan dua putranya akibat serangan udara.

Menurut otoritas kesehatan Gaza, jumlah korban tewas sejak Oktober 2023 telah melampaui puluhan ribu orang, dengan ratusan ribu lainnya mengalami luka-luka. Kondisi tersebut membuat Ramadhan tahun ini diperkirakan berlangsung dalam keterbatasan.

Di wilayah Tepi Barat dan Yerusalem Timur, kekhawatiran juga meningkat. Warga mengantisipasi pengetatan pengamanan dan pembatasan akses ke sejumlah lokasi, termasuk tempat ibadah.

Di Kota Hebron, akses menuju Masjid Ibrahimi disebut semakin dibatasi dengan kehadiran militer yang diperkuat. Warga setempat menyatakan pembatasan usia dan pemeriksaan ketat kerap diterapkan selama Ramadhan.

Sementara itu, di Kota Tua Yerusalem, sejumlah pemuda mengaku khawatir tidak dapat menunaikan salat di Masjid Al-Aqsa akibat pembatasan akses yang diberlakukan.

Ketegangan juga meningkat menyusul keputusan pemerintah Israel yang menyetujui proses pendaftaran tanah di Tepi Barat untuk pertama kalinya sejak 1967. Otoritas Palestina mengecam langkah tersebut dan menilainya sebagai pelanggaran hukum internasional.

Menjelang Ramadhan, warga di Gaza, Tepi Barat, dan Yerusalem menyatakan bersiap menghadapi bulan suci dalam situasi penuh pembatasan, pengamanan ketat, dan ketidakpastian yang masih membayangi kehidupan sehari-hari mereka.

(**)

Bantu Kami untuk Berkembang

Mari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!


Related posts