Kanada, sumselupdate.com – Perdana Menteri Kanada, Justin Trudeau, menyampaikan kemarahan atas pemenggalan John Ridsdel, warganya yang diculik kelompok Abu Sayyaf di Filipina Selatan.
“Saya marah mendengar berita bahwa warga Kanada, John Ridsdel, yang disandera sejak 21 September 2015, dibunuh oleh orang-orang yang menculiknya,” kata Trudeau, seperti dilansir BBC, Senin (25/4).
Pihaknya pun akan membawa pelaku ke pengadilan. “Pemerintah Kanada dan pemerintah Filipina akan membawa para pelaku pembunuhan ke pengadilan,” katanya.
Sebelumnya, tidak lama pasca batas akhir waktu tebusan, kepala seseorang yang terpenggal ditemukan di pulau terpencil. Kepala ini sudah dipastikan bagian dari jenazah Ridsdel, direktur perusahaan pertambangan yang bersama beberapa warga asing lainnya diculik saat berada di kapal pesiar di dekat Kota Davao.
Beberapa bulan lalu, kelompok Abu Sayyaf mengeluarkan video yang memperlihatkan Ridsdel. Militan ini meminta tebusan US$80 juta dan mengatakan Ridsdel akan dibunuh jika uang tebusan tak dibayarkan pada 25 April.
Keluarga Sandera WNI Cemas
Berita pemenggalan John Ridsdel oleh kelompok Abu Sayyaf pasca pembayaran tebusan tidak dilakukan, membuat sejumlah keluarga sandera asal Indonesia (WNI) cemas.
“Saya sangat mencemaskan Pak. Bagaimanalah nasib anak saya. Rasa-rasanya tidak sanggup saya membayangkannya,” ungkap Aidil, ayah dari Wendi Rakhadian, salah satu awak kapal Anand 12 yang dirompak milisi asal Filipina.
Hal yang sama diungkapkan keluarga dari sandera Alvian Elvis Peti. “Panik. Mereka (Abu Sayyaf) kan meminta tebusan begitu juga (terhadap Alvian). Kalau nggak ditebus juga ya, mereka juga, pasti mereka buat hal yang sama”, tuturnya, Selasa (26/4).
Keduanya adalah bagian dari 10 ABK Brahma 12 dan Anand 12 yang dirompak Abu Sayyaf di perairan Tawi-tawi, akhir Maret lalu. Abu Sayyaf menyebut akan membebaskan mereka jika tebusan 50 juta Peso ( Rp15 miliar) dibayarkan.
Di tengah kepanikan keluarga sandera, Presiden Jokowi menegaskan pemerintah tak akan membayar uang tebusan untuk membebaskan WNI yang diculik Abu Sayyaf. “Kami tidak pernah berkompromi dengan hal-hal seperti itu. Jadi tidak ada urusan sama yang namanya uang dan tebusan,” kata Jokowi kepada wartawan di Istana Negara, Selasa (26/4).
Meskipun begitu, Presiden menjamin hingga kini semua sandera masih dalam kondisi baik. Jokowi menambahkan pemerintah terus berkomunikasi dengan pemerintah Filipina ataupun kelompok Abu Sayyaf dalam upaya membebaskan sandera. (shn)











