Pemkab Lahat Pertemukan Emak-emak Dengan Perusahaan Batu Bara, Bahas Masalah Debu

Rabu, 15 Juni 2022
Rapat terkait pembahasan solusi pertambangan dan lalu lintas angkutan batubara di wilayah Kecamatan Merapi Barat dan Merapi Timur

Laporan : A Putra

Lahat, Sumselupdate.com – Bupati Lahat Cik Ujang SH memimpin rapat terkait pembahasan solusi pertambangan dan lalu lintas angkutan batubara di wilayah Kecamatan Merapi Barat dan Merapi Timur. Rapat ini turut melibatkan Emak-emak di Merapi Area, instansi terkait dan Ketua Asosiasi Pertambangan Batubara Lahat.

Read More

Diakui oleh Cik Ujang mengenai angkutan lalu lintas batubara ini dirinya sedang berupaya mencari solusi bahkan dirinya akan membantu masyarakat Merapi termasuk perusahaan.

“Saya himbau kepada perusahaan pertambangan untuk membuat jalan sendiri dan tidak lagi melintasi jalan negara, saya tidak akan tinggal diam, saya sudah panggil Perusahaan Sinar Mas untuk membuat jalan namun mentok,” ungkapnya saat menyampaikan arahan di Opsroom Pemkab Lahat, Rabu (15/06/2022).

Memang masih dikatakan Cik Ujang, permasalahan debu sudah lama sehingga memang butuh segera melakukan pembebasan lahan untuk jalan batubara.

“Terkadang niat kita baik namun tidak di respons oleh pengusaha. Terkadang minta bertemu bahkan disurati namun tidak direspons,” akuinya.

Lebih lanjut Cik Ujang melontarkan, di Kabupaten Lahat saat ini ada 28 perusahaan batubara, namun jika di koordinir dan bersatu membuat jalan sendiri tentu bukan hal sulit.

“Saya minta kepada Asosiasi untuk koordinir seluruh perusahaan batubara. Pembebasan lahan untuk jalur angkutan batubara juga harus segera jika tidak harga lahan akan semakin mahal,” pesannya.

Sementara itu, perwakilan dari Emak-emak Merapi Area Rozi Adiansyah mengatakan, sebenarnya warga Merapi ini sudah lama menahan dampak debu batubara.

“Bukan hanya jadi penonton tapi was-was rasa takut. Sehingga kami akumulasi perusahaan bisa membuat jalan khusus,” katanya.

Masih dilanjutkan Rozi, sebenarnya warga sendiri bangga dengan keberadaan perusahaan batubara di Merapi Area, namun warga juga mengeluh karena penilaian warga sendiri perusahaan berjalan tidak dikoordinir.

“Kami bangga tapi kami juga mengeluh. Penilaian kami perusahaan ini berjalan sendiri-sendiri,” ucap Rozi.

Selain dikatakan Rozi, mengenai kompetensi apa salah jika diberikan kepada warga yang terdampak khususnya.

“Perusahaan ini baik tapi salah karena tidak akomodir dalam satu wadah,” ujarnya. (**)

Bantu Kami untuk Berkembang

Mari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!


Related posts