Yangon, Sumselupdate.com– Sungguh memilukan! Selama operasi militer sejak Oktober lalu, dilaporkan lebih dari seribu rumah di desa-desa Rohingya di wilayah Myanmar barat laut hancur.
Laporan tersebut berdasarkan analisis citra satelit dari kelompok hak asasi manusia, Human Rights Watch (HRW) yang dirilis hari ini, seperti dilansir kantor berita AFP, Senin (21/11/2016).
Pasukan Myanmar telah diturunkan ke wilayah negara bagian Rakhine di sepanjang perbatasan Bangladesh, yang banyak dihuni oleh warga muslim Rohingya, sejak serangkaian serangan mematikan oleh terhadap pos-pos polisi perbatasan bulan lalu.
Menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), sekitar 30 ribu orang telah kehilangan tempat tinggal selama kekerasan yang terjadi sejak Oktober tersebut. Sementara media pemerintah Myanmar menyebut, pasukan Myanmar juga telah menewaskan hampir 70 orang dan menangkap lebih dari 400 warga Rohingya sejak kekerasan enam pekan lalu itu. Namun menurut para aktivis, angka sebenarnya jauh lebih tinggi.
Ratusan warga Rohingya yang telah lama mengalami penindasan oleh pemerintah Myanmar, telah mencoba kabur ke negara tetangga Bangladesh sejak kekerasan tersebut.
Para saksi mata dan aktivis melaporkan, pasukan Myanmar telah membunuh warga Rohingya, memperkosa kaum wanita dan menjarah serta membakar rumah-rumah mereka. Namun pemerintah setempat membantah hal tersebut dan tidak mengizinkan para pengamat internasional menyelidiki hal tersebut.
Bahkan pemerintahan baru Myanmar yang dipimpin oleh peraih Nobel Perdamaian, Aung San Suu Kyi, telah membantah tuduhan-tuduhan tersebut. Disebutkan bahwa tudingan tersebut sebagai bagian dari kampanye penyebaran informasi keliru oleh para “teroris”.
Sayangnya, upaya verifikasi secara independen di lokasi pun tak bisa dilakukan. Para jurnalis dilarang untuk meliput, sementara badan-badan kemanusiaan mengalami kesusahan untuk menjangkau wilayah tersebut.
Menurut HRW, pihaknya telah mengidentifikasi 820 bangunan dihancurkan di lima desa Rohingya antara 10-18 November, dengan menggunakan citra satelit. Secara total, analisis satelitnya menunjukkan 1.250 bangunan rata dengan tanah selama operasi militer Myanmar sejak Oktober lalu. Namun pemerintah Myanmar menyatakan, hanya kurang dari 300 rumah yang hancur.
Maraknya kembali kekerasan di negara bagian Rakhine, Myanmar barat ini, mengingatkan kembali pada gelombang kekerasan di wilayah itu tahun 2012 silam. Saat itu, lebih dari 100 orang tewas dalam berbagai bentrokan antara warga mayoritas Buddha dan warga minoritas Rohingya. Konflik itu juga menyebabkan puluhan ribu warga Rohingya tinggal di kamp-kamp pengungsi. (shn)











