SAYA melihat akhir-akhir ini nilai-nilai Pancasila sudah mulai terabaikan oleh masyarakat terutama dari kalangan generasi muda.
Nilai pancasila yang sebagaimana mestinya menjadi pandangan hidup, dasar negara, pemersatu bangsa, sekarang sudah hampir tidak ada arti lagi.
Hal itu dapat kita lihat dari banyaknya kejadian dan peristiwa yang bertentangan dengan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila.
Peristiwa dan kejadian yang bertentangan dengan nilai yang terkandung dalam Pancasila merebaknya aksi pencurian kendaraan bermotor (curanmor), perampokan, tawuran pelajar, pemerkosaan, dan bahkan pembunuhan.
Mirisnya, peristiwa tindak kriminalitas tersebut mayoritas pelakunya adalah kaum remaja atau kaum milinneal.
Para kaum muda yang seharusnya menjadi generasi penerus bangsa, malah melakukan hal yang bertentangan dengan Pancasila.
Apalagi sekarang hampir tidak ada lagi lembaga yang menangani aplikasi Pancasila. Bahkan di dalam dunia pendidikan, Pancasila tidak lagi menjadi pelajaran wajib.
Jika Pancasila tidak lagi menjadi perhatian pemerintah maupun masyarakat, artinya secara tidak langsung telah meminggirkan Pancasila sebagai ideologi negara.
Penyebab melemahnya nilai Pancasila di kalangan masyarakat terkhusus pada anak remaja, salah satunya pesatnya era globalisasi.
Pada era globalisasi, maka sangat memungkinan generasi muda akan dengan mudah mendapatkan informasi dari seluruh dunia.
Di zaman sekarang, pergaulan antar-bangsa semakin kental, sehingga memunculkan proses akulturasi, saling meniru, dan saling mempengaruhi di antara budaya masing-masing.
Dampaknya terjadinya proses lunturnya nilai budaya suatu bangsa dan akses masyarakat terhadap nilai-nilai asing semakin besar.
Kebanyakkan remaja tidak berpikir panjang. Mereka menganggap bahwa segala sesuatu yang berbau barat itu keren dan pantas dijadikan panutan.
Padahal budaya barat sangatlah tidak sesuai dan berbeda dengan budaya indonesia. Misalnya mengenakan pakaian, kesopanan, cara hidup, dan lain-lain.
Perbedaan tersebut yang menyebabkan terjadinya penyimpangan-penyimpangan. Apabila proses ini terus berlanjut, akan berakibat lebih serius ketika pada puncaknya masyarakat tidak bangga lagi pada bangsa dan negaranya.
Namun akar dari persoalan ini adalah menurunnya pemahaman masyarakat terhadap nilai Pancasila. Kebanyakkan dari kita hanya sekadar mengetahui sila-sila Pancasila tanpa memahami nilai-nilainya.
Sementara itu, ketika masyarakat benar-benar paham nilai dari pancasila itu sendiri tentu saja semua masalah di atas tidak akan terjadi.
Maka, penanaman nilai Pancasila harus dimulai dari diri kita, barulah pihak kedua atau orang lain di sekitar kita Langkah penanaman nilai Pancasila salah satunya bisa dengan menyelenggarakan pembinaan dan pengembangan kualitas generasi muda.
Dengan adanya motivasi asas pembinaan dan pembangunan generasi muda, diharapkan mampu memainkan dan menjalankan peran yang penting dalam masa depan, dan mampu membawa Indonesia ke arah yang lebih baik.
Secara garis besar ada beberapa langkah antisipasi untuk mengatasi berbagai persoalan tersebut serta menumbuhkan nilai-nilai Pancasila dan nasionalisme. Berbagai langkah antisipasi itu adalah:
- Pendidikan Agama yang harus menjadi peranan penting untuk membentuk ketakwaan pada diri generasi muda Indonesia.
- Pendidikan Pancasila yang harus ditanamkan sehingga dapat menjadi pedoman dan landasan bagi generasi muda.
- Menumbuhkan kesadaran dalam diri generasi muda Indonesia untuk membangkitkan semangat Pancasila.
- Menanamkan dan melaksanakan ajaran agama dan keyakinan dengan sebaik-baiknya.
- Menumbuhkan semangat nasionalisme, contohnya mencintai produk dalam negeri
- Lebih selektif terhadap pengaruh globalisasi di bidang politik, ekonomi, maupun budaya bangsa. (**)
Ediyanto
Penulis: Ediyanto
Mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Arab Fakultas Adab dan Humaniora UIN Raden Fatah Palembang.











