Madrio Kurir Ineks 12,228 Butir dan Seperempat Kilogram Shabu Lolos dari Hukuman Mati, Kok Bisa?

Ilustrasi

Palembang, Sumselupdate.com –  Madrio Gilang Putra terdakwa dengan kasus  kurir narkotika jenis ineks sebanyak 12,228 butir dan seperempat kilogram shabu, lolos dari hukuman pidana mati.

Hal tersebut diketahui saat hakim ketua Efrata Tarigan membacakan amar putusan secara virtual di ruang sidang Pengadilan Negeri Klas 1 A Khusus, Selasa (17/11/2020).

Bacaan Lainnya

“Dengan ini menyatakan bahwa terdakwa terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana memiliki barang narkotika jenis ineks sebanyak 12,228 butir tanpa ada hak dan izin. Sehingga akibat perbuatannya telah melanggar pasal 114 ayat 2 UU No 35 tahun 2009 tentang narkotika dengan hukuman 20 tahun penjara dan denda Rp 1 miliar dengan subsider 6 bulan,” ucap hakim ketua Efrata saat persidangan berlangsung.

Putusan tersebut pun sesuai dengan tuntutan yang diberikan oleh Jaksa Penuntut Umum ( JPU)  Desmilita  yang menuntut dengan hukuman 20 tahun penjara dan denda Rp1 miliar dengan subsider 6 bulan penjara.

Menurut Hakim ketua Efrata hal-hal yang memberatkan terdakwa ialah tidak mendukung program pemerintah dalam membasmi narkotika.

“Hal-hal yang meringankan terdakwa mengakui bersalah dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya serta bersikap sopan selama di persidangan,” ucap Efrata.

Usai pembacaan amar putusan tersebut, Terdakwa Madrio bersama kuasa hukumnya Triyasa pun menyatakan menerima putusan tersebut.  “Iya pak saya terima,” ucap terdakwa.

Dalam persidangan sebelumnya pada Kamis (1/10), terdakwa Madrio Gilang Putra berdalih merasa dijebak oleh rekannya.

“Saya hanya disuruh oleh seseorang melalui telepon bernama Mekah (DPO) untuk mengantarkan barang itu kepada seseorang bernama Yoyok didaerah Boom baru, apabila barangnya sampai akan diberikan sejumlah uang,” ungkap terdakwa melalui video virtual di hadapan majelis hakim diketuai Edi Syahputra Pelawi, SH, MH.

Dirinya juga mengungkapkan bahwa dalam pembicaraan melalui telepon dengan Mekah, narkotika yang hendak diantarkan itu jumlahnya hanya sedikit.

“Saat ada seseorang menyerahkan barang itu kepada saya di sekitar jalan Demang Lebar Daun ternyata satu dus, dan tidak berselang lama saya pun langsung ditangkap polisi, saya merasa dijebak pak hakim,” terang terdakwa.

Saat ditanya Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejati Sumsel Desmilita, SH tentang upah yang didapat dari mengantar barang haram tersebut, dirinya menjawab tidak tahu diupah berapa, dirinya hanya mengatakan diupah uang bensin dan rokok saja.

Sementara dalam dakwaan diterangkan dalam keterangannya bahwa petugas kepolisian mendapatkan info bahwa sering terjadi transaksi narkotika di daerah Demang Lebar Daun Palembang.

Tepatnya di depan pintu gerbang keluar RS Siti Khodijah, pada 19 Juni 2020 sekitar pukul 02.00 Wib, petugas langsung melakukan penyelidikan.

Saat itu petugas melihat seseorang memberikan sebuah kardus kepada terdakwa.

Lalu setelah terdakwa keluar dari gerbang Rumah Sakit Siti Khadijah. Kemudian, petugas pun langsung menangkap terdakwa yang sebelumnya hendak kabur dari kejaran petugas.

Barang bukti yang berhasil diamankan dari terdakwa yakni narkotika jenis shabu seberat 240 gram, 13 Bungkus pil ekstasi berbagai jenis dan merk sejumlah 12.528 butir seberat hampir empat kilogram.

Atas perbuatannya itu lah di dalam dakwaan JPU terdakwa sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 114 ayat (2) atau Pasal 112 ayat (2) Undang undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. Dengan pidana maksimal seumur hidup atau pidana mati. (ron)

Yuk bagikan berita ini...

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.