Surabaya, Sumselupdate.com — Anggota Komisi VI DPR Nevi Zuairina mendorong pemerintah segera merumuskan solusi komprehensif agar proyek-proyek strategis nasional tetap berjalan, sekaligus menjaga kesehatan keuangan BUMN.
Komisi VI DPR berkomitmen terus mengawal upaya tersebut demi kepentingan rakyat dan masa depan pembangunan Indonesia.
“Kami memberikan perhatian serius terhadap kondisi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Karya, khususnya terkait keberlanjutan proyek-proyek infrastruktur di Indonesia. Saya menyoroti sejumlah permasalahan yang dihadapi oleh perusahaan seperti Waskita Karya dan Hutama Karya, mulai dari masalah keuangan hingga tantangan sosial di lapangan,” ujar Nevi saat mengikuti Kunjungan Kerja Spesifik Komisi VI dalam melakukan Raker dengan BUMN Karya dan Jasa Marga di Surabaya, Jawa Timur, Jumat (11/7/2025).
Dikatakan, Waskita Karya dan Hutama Karya tengah menghadapi beban utang besar dan membutuhkan intervensi berupa Penyertaan Modal Negara (PMN) atau skema restrukturisasi lain.
“Utang Hutama Karya mencapai sekitar Rp60 triliun dan telah menerima suntikan PMN sebesar Rp18,6 triliun dalam dua tahun terakhir. Sementara itu, Waskita Karya tercatat memiliki utang sebesar Rp81 triliun dan baru menerima PMN sebesar Rp3 triliun,” tuturnya.
Proyek jalan tol lsnjutbdia, bukan sekadar proyek bisnis, melainkan bagian dari pelayanan publik untuk meningkatkan konektivitas nasional.
Menurut dia, penting adanya sebuah skema Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU) serta jaminan pemerintah (sovereign guarantee) untuk menjaga keberlanjutan proyek.
“Jangan sampai penugasan dari pemerintah justru membebani BUMN secara berlebihan,” kata Nevi.
Legislator Dapil Sumbar II ini juga menyoroti dalam hal pengelolaan jalan tol, Jasa Marga selaku operator jalan tol di Jawa Timur diminta meningkatkan transparansi anggaran serta pelaksanaan audit keselamatan dan inspeksi rutin.
Ia mengingatkan agar kondisi jalan tol senantiasa terjaga dengan baik, termasuk pemasangan CCTV dan kontrol kendaraan yang melintas.
“Jangan sampai truk yang tidak layak jalan tetap diperbolehkan melintas dan membahayakan pengguna lain,” tegasnya.
Dia juga menyoroti adanya ketimpangan tarif tol yang berpotensi berdampak pada pelaku UMKM dan sektor pertanian.
Oleh karena itu, evaluasi menyeluruh terhadap sistem tarif dan efisiensi biaya operasional sangat dibutuhkan agar pembangunan infrastruktur benar-benar dapat dinikmati seluruh lapisan masyarakat.
Dia juga mencermati berbagai tantangan teknis dan sosial seperti pembebasan lahan yang kerap menimbulkan konflik, serta keterbatasan ekspansi proyek akibat masalah pendanaan.
“Saya mendorong BUMN untuk lebih intensif berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan Badan Pertanahan Nasional (BPN), serta memanfaatkan sistem informasi geospasial agar pembebasan lahan lebih efisien,” jelas Nevi. (duk)











