Miami, Sumselupdate.com – Kiper Tanjung Verde, Vozinha, tampak emosional saat berdiri di hadapan para wartawan usai timnya mencatatkan hasil imbang bersejarah melawan Spanyol.
Pemain berusia 40 tahun itu baru saja memberikan salah satu penampilan terbaik dalam kariernya, yang membantu negara kepulauan di Afrika itu meraih hasil imbang 0-0 melawan Spanyol dalam penampilan perdananya di ajang Piala Dunia FIFA. Namun, pikiran kiper itu dengan cepat beralih ke keluarganya.
Saat rekan-rekan setimnya merayakan pencapaian bersejarah tersebut, Vozinha menjelaskan mengapa matanya berkaca-kaca setelah peluit akhir dibunyikan.
“Saya menangis karena saya dibesarkan oleh kakek-nenek saya, dan sayangnya, mereka tidak ada di sini. Mereka meninggal beberapa tahun lalu,” ujar sang kiper. “Mereka adalah segalanya bagi saya, bagi hidup saya. Saya juga menangis karena ibu saya tidak bisa hadir di sini karena masalah visa.”
Momen tersebut menjadi puncak dari perjalanan yang telah menjadikan Vozinha sebagai salah satu figur penting dalam dunia persepakbolaan Tanjung Verde.
Dikenal di luar lapangan sebagai Josimar Jose Evora Dias, Vozinha telah mengawal gawang tim nasional negaranya selama lebih dari satu dekade. Dia sudah menjadi pemain internasional yang mapan ketika banyak rekan setimnya baru memulai karier mereka, dan menjadi simbol kesinambungan seiring Tanjung Verde terus memperkuat posisinya di kancah persepakbolaan Afrika.
Perjalanannya menuju Piala Dunia jauh dari kata konvensional. Tidak seperti kebanyakan pemain elite, Vozinha tidak memulai karier profesionalnya di usia remaja. Dia pernah mengatakan dirinya baru memulai karier profesional pada usia 25 tahun dan mengakui ada saat-saat ketika dirinya mempertimbangkan untuk meninggalkan dunia sepak bola.
Baca juga : Piala Dunia 2026, Aksi Bersih-Bersih Stadion ala Suporter Jepang Tuai Perdebatan
Namun, dia melanjutkan usahanya meraih mimpi, yang akhirnya terwujud ketika Tanjung Verde lolos ke Piala Dunia untuk pertama kalinya.
Kegigihan itu tampak jelas saat timnya melawan Spanyol. Berhadapan dengan salah satu tim favorit juara Piala Dunia, Vozinha melakukan serangkaian penyelamatan yang membuat juara bertahan Eropa itu frustrasi dan memastikan perolehan poin pertama Tanjung Verde dalam sejarah Piala Dunia. Hasil tersebut dirayakan secara luas di negaranya, dan di kalangan komunitas warga Tanjung Verde di luar negeri.
Bagi sebuah negara dengan populasi hanya sekitar setengah juta jiwa, lolos ke Piala Dunia saja sudah menjadi pencapaian besar. Hasil imbang melawan Spanyol ini sudah memberi para suporter kenangan yang memiliki tempat khusus dalam sejarah olahraga negara itu.
Sementara Vozinha meraih pengakuan internasional berkat penampilannya, kisah lain yang terjadi di luar lapangan menyentuh hati banyak suporter.
Baca juga : Tunisia vs Jepang Jadi Laga Ke-1000 Piala Dunia, Samurai Biru Bidik Kemenangan Perdana
Ibu Vozinha, Ana Candida Evora, terpaksa menyaksikan pertandingan tersebut dari Pulau Sao Vicente setelah gagal berangkat ke Amerika Serikat (AS) tepat waktu karena terkendala masalah visa dan biaya.
Berprofesi sebagai petugas kebersihan rumah, dia menyaksikan pertandingan terpenting putranya dari rumah dan merayakan penampilannya setelah pertandingan usai.
“Saya mengatakan tidak ada bola yang akan berhasil menjebol gawangnya, dan itu benar-benar terjadi,” ungkap ibu Vozinha. “Dia adalah kiper yang hebat. Saya sangat bangga menjadi ibu Vozinha, dan saya berharap dia terus berhasil menahan bola yang mengarah ke gawangnya.”
Kisah tersebut ditutup dengan akhir yang lebih membahagiakan ketika ibu Vozinha akhirnya berhasil mendapatkan visa dan berangkat ke AS untuk mendukung putranya secara langsung, berkat bantuan dari seorang pengusaha China, Lin Jie, yang pindah ke Tanjung Verde 23 tahun lalu dari Kota Wenzhou, China tenggara.
“Sepupu Vozinha kebetulan bekerja di toko pakaian istri saya,” kata Lin.
“Saya menawarkan diri untuk membantu,” imbuhnya.
Bagi Vozinha, Piala Dunia telah memberinya pengakuan yang tak diprediksi banyak orang pada awal kariernya.
Namun, kisah kiper ini bukan hanya soal sepak bola. Kisah ini juga tentang ketekunan, keluarga, dan pemain yang menolak untuk menyerah pada ambisi seumur hidupnya. Saat melawan Spanyol, dia berhasil menarik perhatian dunia. Dalam hari-hari berikutnya, dia menjadi sesuatu yang lebih bertahan lama bagi Tanjung Verde: pengingat tentang apa yang dapat diraih melalui kesabaran dan tekad yang kuat. (**)











