Ketua Pansus: Kita Tidak Akan Patuhi Skenario Internasional Matikan Pertanian Tembakau

Ketua Panitia Khusus (Pansus) Rancangan Undang Undang (RUU) Pertembakauan DPR RI Firman Soebagyo.

Jakarta, Sumselupdate.com – Ketua Panitia Khusus (Pansus) Rancangan Undang Undang (RUU) Pertembakauan DPR RI Firman Soebagyo memastikan  tidak akan mematuhi skenario internasional yang ingin mematikan pertanian tembakau di Indonesia.

Konsep mereka kita antisipasi, setelah terjadi dua skenario. Pertama dari industri farmasi yang dipimpin  kelompok Bloomberg, yang menggerakkan anti tembakau agar ini bergeser kepada farmasi, nanti tembakau  secara perlahan  digantikan dengan tembakau sintetis.

Read More

“Di Kudus  ada yang cerita sama saya,  ini tembakau sistetis akan kita produksi untuk menggantikan tembakau asli. Kemudian muncul lagi rokok pakai Liquid. Itukan industri farmasi semua. Inilah persaingan dagang sudah sedemikian rupa dan menggunakan instrumen media tertentu, kemudian berdalih penelitian dan dibiayai Bloomberg, maka tembakau terus menerus dihajar,“ ujar  Firman dalam diskusi Forum Legislasi ‘Menakar Urgensi RUU Pertembakauan’ di Media Center DPR Jakarta Selasa (28/9/2021).

Menurut Firman, di DPR komisi yang membidangi kesehatan tidak setuju dengan RUU Pertembakauan. Namun bisa kompromi. Pansus dalam proses RUU mencoba melakukan rujukan di perguruan tinggi di Malang Jawa Timur.

Profesor Soediman yang melakukan riset  ternyata tembakau bisa menjadi salah satu obat penyakit kanker.

Dikatakan, nasib RUU Pertembakauan vakum begitu lama. Namun kita antisipasi.

Apalagi Cina sudah berhasil menanam tembakau yang bibitnya dari Temanggung Jawa Timur.

Sementara di Indonesia  penanaman tembakau sifatnya musiman, sehingga pembatasan menjadi dilematis.

Firman mengaku kecewa dengan gencarnya pihak luar negeri ingin menghabisi tembakau Indonesia dengan dalih dari WHO.

“Negara kita berdaulat kenapa kita patuh pada regulasi yang dibuat mereka,” tuturnya.

Bahkan  kata Firman, sejumlah anggota Dewan  pernah disponsori ke Inggris. Sesampai disana mereka ternyata punya konsep minta menandatangani regulasi seolah olah Indonesia setuju dengan konsep mereka.

“Saya tidak mau menandatangani skenario yang dibuat internasional,” tegasnya.

Dia menambahkan, dari sisi ekonomi dan keuangan menguntungkan bagi negara dan terbukti selalu di atas target.

“Tadi saya minta data dari Bea Cukai, ternyata cukai rokok selalu melebihi target yakni tahun 2020 Rp. 176 triliun. Ini   merupakan penyokong Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Saya diskusikan berapa banyak feetback yang diperoleh petani tembakau, ternyata kecil sekali. Yang terbanyak untuk Badan Penyelenggara Jaminan Sosial ( BPJS). Artinya orang sakit pun menumpang biaya pengobatan. Itulah pentingnya RUU Pertembakauan,“ kata Firman.

Anggota Pansus RUU Pertembakauan Fraksi PKB DPR RI Cucun Ahmad menegaskan konsep RUU pada prinsipnya melindungi petaninya.

“Kita tak usah genit genit meratifikasi UU negara lain. Kita bicara lindungi petani. Industri Pertembakauan harus 80 persen komoditi lokal,” katanya.

Pengamat Ekonomi Politik Salamuddin Daeng menilai isu anti tembakau digerakkan dengan ideologi tertentu.

“Bagaimanapun kita harus menempatkan kepentingan nasional sekalipun tembakau dari segi kesehatan publik masih dalam perdebatan,” paparnya. (duk)

Yuk bagikan berita ini...

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.